in

Archipelago Hotels Ubah Dua Kamar untuk Anak Pejuang Kanker di YPKAI Surabaya

Archipelago Hotels merenovasi dua kamar YPKAI Surabaya untuk menghadirkan ruang nyaman bagi anak pejuang kanker dan keluarga.
Archipelago Hotels merenovasi dua kamar YPKAI Surabaya untuk menghadirkan ruang nyaman bagi anak pejuang kanker dan keluarga.

Surabaya — Archipelago Hotels melanjutkan program Archipelago Cancer Care Initiative dengan melakukan room makeover terhadap dua kamar tidur di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya. Pembenahan tersebut ditujukan untuk menghadirkan ruang istirahat yang lebih nyaman bagi anak pejuang kanker dan keluarga yang menjalani masa pengobatan di rumah singgah.

Program ini merupakan kelanjutan dari donasi yang dihimpun Corporate Office Archipelago Hotels bersama sejumlah hotel di Jawa Timur. Dukungan tidak hanya diberikan dalam bentuk dana, tetapi diwujudkan melalui pembenahan fasilitas yang digunakan anak-anak dalam keseharian.

Pelaksanaan makeover melibatkan 12 properti Archipelago Hotels di Jawa Timur. Tim yang terlibat antara lain General Manager, Human Resources, Housekeeping, dan Engineering, serta sejumlah sponsor yang mendukung kebutuhan program.

Bagi anak-anak yang menjalani pengobatan kanker, rumah singgah memiliki fungsi penting sebagai tempat beristirahat, bermain, dan berkumpul bersama keluarga. Karena itu, pembenahan dua kamar di YPKAI diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung aktivitas anak selama berada di rumah singgah.

“Di industri perhotelan, keahlian kami adalah menciptakan ruang yang membuat orang merasa nyaman dan diperhatikan. Kami ingin membawa keahlian itu ke tempat yang benar-benar membutuhkannya,” ujar John Flood, Chief Executive Officer Archipelago Hotels.

Menurut John, kepedulian melalui program sosial tidak berhenti pada saat kegiatan selesai. Pembenahan kamar dipilih agar manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh anak-anak yang menggunakan fasilitas tersebut.

Sejumlah pekerjaan dilakukan dalam proses renovasi dua kamar. Pembenahan meliputi pengecatan ulang, penggantian matras dan perlengkapan tidur seperti bed sheet, blanket, dan sarung bantal. Tim juga menambahkan furnitur baru, termasuk lemari, serta memperbarui pencahayaan, memasang kipas dan tirai, serta memperbaiki sejumlah fasilitas lainnya.

Tim Human Resources berperan dalam mengidentifikasi dan mengoordinasikan kebutuhan program. Sementara itu, Housekeeping menangani persiapan kamar dan perlengkapannya, sedangkan Engineering memastikan fasilitas berada dalam kondisi aman dan nyaman digunakan.

Program tersebut juga mendapat dukungan dari iCLEAN, Aroma Delivery System, Tiga Mutiara, dan PT Exinergy Indonesia.

Dua belas properti yang terlibat berasal dari sejumlah wilayah di Jawa Timur, yakni Aston Gresik Hotel & Conference Center, Aston Inn Jemursari Surabaya, Aston Mojokerto Hotel & Conference Center, Aston Sidoarjo City Hotel & Conference Center, fave hotel Graha Agung Surabaya, fave hotel Mex Tunjungan Surabaya, fave hotel Rungkut Surabaya, fave hotel Sidoarjo, Hotel Neo Gubeng Surabaya, Hotel Neo+ Waru Sidoarjo, Quest Hotel Darmo–Surabaya, dan The Alana Surabaya.

Archipelago Hotels menyebut room makeover ini sebagai bagian dari rangkaian Archipelago Cancer Care Initiative yang telah dilaksanakan lima kali di sejumlah kota, termasuk Jakarta, Banjarmasin, Surabaya, dan Balikpapan.

Melalui pembenahan fasilitas tersebut, dukungan bagi anak pejuang kanker diarahkan tidak hanya pada bantuan sesaat, tetapi juga pada terciptanya ruang yang dapat menunjang kenyamanan anak dan keluarga selama menjalani proses pengobatan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Sejarah Batik Solo berkaitan dengan perkembangan Keraton Surakarta, Kerajaan Pajang, dan Perjanjian Giyanti pada 1755.

Sejarah Batik Solo Berkaitan dengan Keraton Surakarta dan Perjanjian Giyanti