in

Batik Warna Alam Muara Enim Manfaatkan Kulit Kopi sebagai Pewarna Tekstil

Perajin mengerjakan Batik Kujur di sentra produksi Batik Muara Enim. Batik Kujur menjadi salah satu produk batik yang mengangkat sejarah, budaya dan kekayaan alam Bumi Serasan Sekundang. Foto: Sumatera Express
Perajin mengerjakan Batik Kujur di sentra produksi Batik Muara Enim. Batik Kujur menjadi salah satu produk batik yang mengangkat sejarah, budaya dan kekayaan alam Bumi Serasan Sekundang. Foto: Sumatera Express

Pengembangan Batik Warna Alam di Kabupaten Muara Enim memanfaatkan limbah atau hasil samping komoditas lokal sebagai sumber pewarna tekstil. Salah satu bahan yang dikaji adalah kulit buah kopi robusta dari Kecamatan Semende.

Pemanfaatan kulit kopi tersebut tercatat dalam penelitian Royda dan Anggraini Wulan Pratiwi berjudul Pemanfaatan Pewarna Alami Berbasis Potensi Daerah untuk Pewarnaan Batik Muara Enim. Penelitian dari Balitbangda Muara Enim itu diterbitkan dalam Jurnal Integritas Serasan Sekundang, Volume 5 Nomor 1 Tahun 2023.

Penelitian menjelaskan bahwa Muara Enim memiliki potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi sumber pewarna alami untuk kain batik. Kulit buah kopi robusta menjadi salah satu bahan yang diperhatikan karena berasal dari Kecamatan Semende, wilayah yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi di Kabupaten Muara Enim.

Potensi tersebut berkaitan dengan kandungan tanin dalam kulit atau pulp kopi. Penelitian yang dikutip dalam artikel menyebut pulp kopi kering memiliki kandungan tanin antara 1,8 hingga 8,56 persen dari berat kering. Tanin merupakan senyawa polifenol yang dapat berperan sebagai bahan pewarna tekstil. Dalam penelitian yang dirujuk, bahan yang banyak mengandung tanin dapat menghasilkan warna cokelat.

Pemanfaatan kulit kopi sebagai bahan pewarna juga menempatkan komoditas perkebunan lokal dalam rantai nilai baru. Bahan yang sebelumnya menjadi bagian dari proses pengolahan kopi dapat diarahkan menjadi bahan baku pendukung industri kreatif, khususnya batik.

Selain kulit kopi, penelitian tersebut mencatat pucuk daun duku dari Kecamatan Ujan Mas sebagai sumber pewarna alami lainnya. Daerah tersebut memiliki banyak kebun duku. Daun duku telah masuk dalam penelitian terhadap berbagai jenis daun yang berpotensi menjadi bahan pewarna batik.

Hasil penelitian yang dikutip menyebut daun duku yang telah diolah dapat menghasilkan warna cokelat krem pada kain sutera, katun, dan tenun serat nanas. Pengujian terhadap ketahanan warna juga menunjukkan hasil yang cukup baik pada uji cuci dan uji sinar.

Proses pembuatan pewarna alami pada dasarnya dilakukan melalui ekstraksi untuk mengambil pigmen yang terkandung dalam bahan. Salah satu metode yang banyak digunakan adalah pemanasan dengan cara merebus bahan menggunakan air. Larutan hasil ekstraksi kemudian dapat digunakan melalui teknik pencelupan, colet, atau kuas.

Penelitian juga mencatat sejumlah keunggulan pewarna alami, antara lain karakter warna yang cenderung lembut dan harmonis, potensi pemanfaatan bahan baku terbarukan, serta keterkaitannya dengan pengembangan industri yang lebih ramah lingkungan.

Pengembangan Batik Warna Alam di Muara Enim pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan teknik pewarnaan. Pemanfaatan kulit kopi dan daun duku mempertemukan potensi pertanian dengan industri kerajinan sekaligus memperkuat identitas produk batik berbasis sumber daya daerah.

Sumber informasi: Royda dan Anggraini Wulan Pratiwi, “Pemanfaatan Pewarna Alami Berbasis Potensi Daerah untuk Pewarnaan Batik Muara Enim,” Jurnal Integritas Serasan Sekundang, Vol. 5 No. 1, 2023, hlm. 46–58. (Jurnal Integritas Serasan Sekundang)

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Meta deskripsi: Batik Semen Ramawijaya memuat konsep Triloka dan Mandala melalui pohon hayat, garuda, bangunan, serta motif pendukung.

Batik Semen Ramawijaya Memuat Filosofi Triloka dan Konsep Mandala