in

Batik Marenggo Dimanfaatkan sebagai Sumber Warna dan Motif Selendang

Batik marenggo dimanfaatkan sebagai sumber warna dan motif selendang melalui teknik pewarnaan alami, batik tulis, dan ecoprint yang menarik.
Batik marenggo dimanfaatkan sebagai sumber warna dan motif selendang melalui teknik pewarnaan alami, batik tulis, dan ecoprint yang menarik.

Daun marenggo dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pewarna alami sekaligus inspirasi motif dalam perancangan selendang yang memadukan batik tulis dan ecoprint. Tanaman tersebut menjadi bagian dari eksplorasi terhadap potensi tumbuhan di sekitar hunian untuk menghasilkan karya tekstil dengan visual berbeda.

Perancangan dilakukan oleh Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti dari Program Studi Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Karya tersebut menggunakan tiga tanaman utama, yakni daun jati, jarak wulung dan marenggo.

Dalam rancangan tersebut, daun marenggo digunakan sebagai sumber warna dasar. Proses perancangan kemudian dikombinasikan dengan ecoprint untuk menciptakan warna bayangan dan efek visual pada permukaan kain. Motif tanaman juga diolah melalui stilasi sehingga bentuk alami tumbuhan dapat dikembangkan menjadi corak tekstil.

Pada tahap uji coba, daun marenggo digunakan dengan fiksasi kapur. Percobaan dilakukan melalui lima kali pencelupan dengan perendaman masing-masing selama satu jam. Pengujian berikutnya dilakukan setelah proses pelorodan, baik tanpa maupun menggunakan soda ash.

Salah satu penerapan daun marenggo terdapat pada desain Citrapata. Dalam desain tersebut, daun dan batang pohon jati menjadi motif utama, sedangkan daun marenggo dan jarak wulung ditempatkan sebagai motif pendukung. Warna daun jati digunakan sebagai warna latar dan dipadukan dengan teknik ecoprint.

Pada produksi Citrapata, daun marenggo digunakan pada tahap pewarnaan pertama untuk menghasilkan warna pink muda. Kain katun sutera yang telah menjalani proses mordanting kemudian dicelup menggunakan pewarna dari daun marenggo sebanyak tiga kali dan difiksasi dengan tawas.

Setelah proses tersebut, motif digambar pada kain melalui molani dan bagian tertentu ditutup menggunakan lilin. Pewarnaan berikutnya menggunakan daun jati untuk menghasilkan warna ungu muda. Tahap ini dilakukan sebanyak lima kali pencelupan, masing-masing 30 menit, dengan fiksasi jeruk nipis. Setelah pelorodan, teknik ecoprint pounding diterapkan pada motif tertentu.

Daun marenggo juga digunakan dalam desain Danakirti. Pada rancangan ini, jarak wulung menjadi motif utama, sementara daun marenggo dan buah pohon jati yang terbelah menjadi motif pendukung. Daun marenggo digunakan dalam pewarnaan pertama untuk menghasilkan warna pink muda dengan lima kali pencelupan dan fiksasi tawas.

Secara keseluruhan, tanaman yang berada di sekitar hunian ditempatkan bukan sekadar sebagai bahan pewarna, tetapi juga sebagai sumber gagasan visual. Daun marenggo, daun jati dan jarak wulung kemudian dipadukan dengan teknik batik dan ecoprint untuk menciptakan motif kontemporer.

Hasil perancangan menunjukkan warna yang muncul melalui teknik pencelupan antara lain kuning muda, ungu muda dan cokelat. Sementara itu, penggunaan ecoprint memberikan efek gradasi dan alternatif warna sehingga motif tidak terkesan monoton.

Sumber informasi: Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti, “Pemanfaatan Daun Jati, Daun Jarak Wulung dan Daun Marenggo sebagai Ide Penciptaan Warna dan Motif Selendang”, SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, Vol. 5 No. 1 (2022), hlm. 28–40. (Unisnu E-Journal)

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik jarak wulung dikembangkan sebagai pewarna alami dan sumber motif selendang dengan teknik batik tulis serta ecoprint yang unik modern.

Batik Jarak Wulung Dikembangkan sebagai Pewarna Alami dan Motif Selendang

Teknik pewarnaan batik berbasis daun jati, jarak wulung, dan marenggo menghasilkan warna alami melalui ekstraksi, pencelupan, dan fiksasi.

Teknik Pewarnaan Batik Berbasis Daun Jati, Jarak Wulung dan Marenggo