https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Nita Kenzo: Biru Dunia Dalam Pewarna Alam Batik Indigo

Nita Kenzo mengungkap perjalanan mengembangkan batik indigo, memberdayakan pembatik, dan membawa warisan Indonesia ke dunia.

Di tengah derasnya perkembangan industri fesyen modern, pewarna sintetis masih mendominasi produksi batik di Indonesia. Namun bagi pemilik nama Mayasari Sekarlaranti dan akrab disapa Nita Kenzo, pendiri Galeri Batik Jawa, warna biru indigo bukan sekadar pilihan estetika, melainkan sebuah warisan budaya yang menyimpan sejarah panjang peradaban sekaligus menjadi jalan untuk memberdayakan para pembatik di berbagai daerah.

Selama hampir dua dekade, perempuan yang juga aktif dalam penyelenggaraan Pameran Puspa Nuswantara itu memilih konsisten mengembangkan batik pewarna alam ketika tren tersebut belum banyak diminati. Keputusan itu bukan didorong oleh kebutuhan pasar semata, tetapi oleh keinginan menjaga pengetahuan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.

Nita Kenzo mengungkap perjalanan mengembangkan batik indigo, memberdayakan pembatik, dan membawa warisan Indonesia ke dunia.
Nita Kenzo mengungkap perjalanan mengembangkan batik indigo, memberdayakan pembatik, dan membawa warisan Indonesia ke dunia.

Memulai Ketika Pewarna Alam Belum Menjadi Tren

Galeri Batik Jawa berdiri pada 2007 dengan fokus mengembangkan batik menggunakan pewarna alami, khususnya indigo. Saat itu, jumlah pelaku batik pewarna alam masih sangat terbatas.

Menurut Nita, sejak awal misinya bukan sekadar menjual produk batik, melainkan mengajak masyarakat kembali mengenal proses pewarnaan alami yang telah digunakan nenek moyang selama ratusan tahun.

Baginya, semakin banyak pelaku batik yang ikut menggunakan pewarna alam justru menjadi kabar baik. Persaingan bukan persoalan utama, karena yang lebih penting adalah semakin banyak pihak yang ikut melestarikan teknik tradisional tersebut sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda.

Konsistensi itu membuat Galeri Batik Jawa tetap mempertahankan identitasnya sebagai salah satu pelopor batik indigo di Indonesia hingga sekarang.

Indigo, Warna Tertua yang Mendunia

Nita menjelaskan bahwa indigo memiliki posisi istimewa dalam sejarah tekstil dunia. Jauh sebelum manusia mengenal berbagai jenis pewarna, warna biru dari tanaman indigo telah digunakan sebagai salah satu pewarna alami yang paling kuat melekat pada serat kain.

Karena kekuatan dan keawetannya, indigo sering disebut sebagai “raja segala warna”. Dalam sejarah berbagai peradaban, warna biru identik dengan kalangan bangsawan dan kerajaan. Tidak mengherankan jika pakaian kebesaran kerajaan di Eropa maupun berbagai artefak kuno banyak menggunakan warna tersebut.

Indonesia bukan satu-satunya negara penghasil indigo. Mesir, India, Jepang, hingga Amerika Latin juga mengenal tanaman indigo. Namun menurut Nita, yang membuat Indonesia berbeda adalah keberhasilan menggabungkan pewarna indigo dengan teknik membatik yang memiliki filosofi mendalam.

“Yang menjadi kekuatan kami bukan sekadar warna birunya, tetapi proses batiknya,” ujarnya.

Nita Kenzo mengungkap perjalanan mengembangkan batik indigo, memberdayakan pembatik, dan membawa warisan Indonesia ke dunia.

Jejak Indigo dalam Sejarah Nusantara

Keberadaan indigo di Nusantara ternyata memiliki sejarah panjang. Sebelum masa kolonial, tanaman indigo telah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia dan menjadi bagian penting dalam pembuatan wastra tradisional.

Menurut Nita, hampir seluruh daerah memiliki tradisi penggunaan warna biru, mulai dari ulos di Sumatra, tenun di Indonesia Timur, hingga batik di Pulau Jawa.

Dalam sejarah batik sendiri, batik biru-putih atau kelengan hadir lebih dahulu sebelum berkembangnya batik sogan yang kini identik dengan Yogyakarta dan Surakarta.

Pada masa VOC, indigo bahkan menjadi salah satu komoditas ekspor penting selain rempah-rempah. Di Yogyakarta pernah berdiri sejumlah pabrik pengolahan indigo yang hasil produksinya dikirim melalui Batavia menuju Rotterdam sebelum dipasarkan ke berbagai negara.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu pusat perdagangan indigo dunia.

Perjalanan Panjang Membangun Batik Indigo

Perjalanan Galeri Batik Jawa mengembangkan batik indigo tidak berlangsung mudah.

Saat pertama kali berdiri, tanaman indigo masih sulit ditemukan karena budidayanya belum berkembang. Nita dan tim harus memanfaatkan tanaman liar yang tumbuh di beberapa wilayah Yogyakarta untuk diolah menjadi pasta pewarna.

Kualitas warna pada masa awal pun belum sekuat sekarang. Jika dahulu tujuh kali pencelupan sudah dianggap cukup, kini proses pencelupan dapat dilakukan hingga sekitar dua puluh kali demi menghasilkan warna biru tua yang menjadi favorit pasar internasional.

Untuk menjamin keberlanjutan produksi, Galeri Batik Jawa kemudian menggandeng para petani di Yogyakarta dan Ambarawa untuk membudidayakan tanaman indigo sekaligus mengolahnya menjadi pasta pewarna.

Kolaborasi tersebut tidak hanya memastikan pasokan bahan baku, tetapi juga menciptakan mata pencaharian baru di tingkat desa.

Nita Kenzo mengungkap perjalanan mengembangkan batik indigo, memberdayakan pembatik, dan membawa warisan Indonesia ke dunia.

Memberdayakan Puluhan Pembatik Perempuan

Di balik setiap lembar batik Galeri Batik Jawa terdapat jaringan sekitar 60 pembatik yang tersebar di Bantul, Bayat, Yogyakarta, hingga Kebumen.

Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang membatik dari rumah sambil menjalankan aktivitas sehari-hari.

Nita mengaku tidak pernah memaksakan target produksi yang kaku. Ia memahami bahwa membatik masih menjadi pekerjaan yang dijalankan di sela-sela mengurus keluarga.

Yang paling penting baginya adalah memastikan para pembatik terus memperoleh pekerjaan sehingga keterampilan mereka tidak hilang.

Menurutnya, tantangan terbesar pembatik saat ini bukan lagi kemampuan membatik, melainkan kesulitan menjual hasil karya. Ketika produk tidak laku, semangat membatik perlahan menghilang.

Karena itu, menjaga keberlangsungan pasar menjadi bagian penting dari upaya pelestarian batik.

Dari Arsitek Menjadi Duta Budaya

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Nita sebenarnya berprofesi sebagai arsitek sebelum sepenuhnya terjun ke dunia batik.

Keputusan itu lahir setelah berdiskusi dengan suaminya yang juga seorang arsitek.

Sang suami meyakinkannya bahwa pekerjaan arsitek masih dapat dijalankan bersama rekan lain, tetapi menemukan orang yang memiliki dedikasi terhadap pelestarian batik jauh lebih sulit.

Nasihat tersebut menjadi titik balik yang mengubah perjalanan hidupnya.

Sejak saat itu, batik tidak lagi dipandang sebagai usaha bisnis semata, melainkan sebagai media diplomasi budaya Indonesia.

Nita Kenzo mengungkap perjalanan mengembangkan batik indigo, memberdayakan pembatik, dan membawa warisan Indonesia ke dunia.

Membawa Batik Indonesia ke Panggung Dunia

Sebelum pandemi COVID-19, Galeri Batik Jawa aktif mengikuti berbagai pameran internasional dan telah membawa batik Indonesia ke 23 negara.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah mengikuti Santa Fe International Folk Art Market di New Mexico, Amerika Serikat.

Pameran tersebut dikenal sebagai salah satu ajang kerajinan tangan paling bergengsi di dunia. Dari ribuan pendaftar, hanya sekitar 150 perajin dari berbagai negara yang lolos kurasi setiap tahunnya.

Bagi Nita, pasar internasional seperti Santa Fe memberikan pelajaran bahwa masyarakat dunia tidak hanya membeli sebuah produk, tetapi juga menghargai cerita, budaya, serta proses panjang yang melahirkan karya tersebut.

Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa batik Indonesia memiliki nilai yang jauh melampaui sekadar produk fesyen.

Di balik selembar kain batik terdapat sejarah, filosofi, pemberdayaan perempuan, hingga keberlanjutan lingkungan yang layak diperkenalkan kepada dunia. Bagi Nita Kenzo, selama para pembatik masih memiliki ruang untuk berkarya dan masyarakat terus menghargai prosesnya, maka warisan budaya Indonesia akan tetap hidup dari generasi ke generasi.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

APPBI gelar Puspa Nuswantara 2026 di JCC, hadirkan batik asli, edukasi publik, dan dukung kebangkitan industri batik nasional.

Bambang Setiawan: Puspa Nuswantara 2026 Hadir sebagai Pameran Batik Asli Berbasis Edukasi