Di tengah senyapnya hutan Ujung Kulon, Badak Jawa bertahan sebagai salah satu spesies paling langka di dunia. Namun ancaman terhadap satwa ikonik ini tidak selalu datang dari senjata atau jerat pemburu, melainkan juga dari jarak emosional manusia terhadap isu konservasi. Berangkat dari kesadaran itulah Forest Keeper menggagas NgobadโNgobrolin Badak Jawaโsebuah ruang dialog santai namun bermakna untuk mendekatkan masyarakat dengan isu pelestarian badak.
Kegiatan Ngobad digelar di Banyu Biru pada Sabtu, 30 Januari 2026. Acara ini merupakan kolaborasi antara CAN dan Ofora Trust Fondation, yang bertujuan membangun kesadaran publik, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga keberlangsungan Badak Jawa di Banten. Alih-alih seminar formal, Ngobad dikemas sebagai talk show interaktif berbasis budaya dan pengalaman lapangan.
Forest Keeper sendiri bukanlah organisasi formal, melainkan sebuah gerakan (movement) terbuka yang menghimpun individu-individu dengan kepedulian yang sama terhadap hutan dan satwa liar. Di dalamnya tergabung Tika Heliana, Arief Zul Permana, Bogie Agustine, Chika Hendarin, Dwi Kristiyono, Ricky Rianto, Ofat, dan Kisunda. Selama bertahun-tahun, mereka terlibat langsung maupun tidak langsung dalam isu pelestarian Badak Jawa di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Ngobad menghadirkan para ranger berpengalaman sebagai narasumber utama. Mereka berbagi cerita tentang bagaimana mendeteksi keberadaan badak, memahami jejak dan perilaku satwa, serta tantangan menjaga spesies yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Para peserta, yang sebagian besar merupakan siswa SMKN 3 Pandeglang, diajak memahami bahwa konservasi bukan konsep abstrak, melainkan kerja nyata yang penuh risiko, dedikasi, dan kesabaran.
โNgobad adalah salah satu cara kami untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian Badak Jawa. Kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi generasi muda untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian lingkungan dan satwa liar,โ ujar Arief Zul Permana, anggota Forest Keeper.
Lebih dari sekadar berbagi pengetahuan, Ngobad juga menjadi pintu masuk diskusi tentang pemberdayaan masyarakat. Isu badak tidak harus selalu dibungkus dengan bahasa ilmiah yang kaku. Forest Keeper mendorong pendekatan kreatif melalui media, budaya, dan ekonomi lokal. Masyarakat dapat dilatih menjadi โreporterโ di lingkungannya sendiriโmendokumentasikan apa yang mereka lihat, alami, dan kerjakan.
Contohnya sederhana namun berdampak: membuat kerajinan kecil berbentuk badak, memasarkan lewat media sosial, sekaligus menyelipkan narasi konservasi. Media sosial kemudian berfungsi ganda, sebagai sumber penghasilan dan sebagai corong kampanye pelestarian. Di sinilah pelatihan konten, dasar peliputan, dan teknik bercerita menjadi penting, terutama bagi anak-anak muda yang akrab dengan TikTok dan platform digital lainnya.
Diskusi juga menyinggung regenerasi ranger, termasuk wacana program female ranger. Meski belum masuk tahap teknis mendalam, Forest Keeper menilai pendidikan sejak dini dan jejaring dengan sekolah-sekolah sekitar kawasan konservasi sebagai fondasi penting untuk keberlanjutan jangka panjang.
Dalam konteks yang lebih luas, Ngobad tidak berdiri sendiri. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi media dan Sindikasi Media Network (SMN), sebuah konsep jaringan media yang memastikan isu konservasi tidak berhenti di satu kanal saja. Dengan SMN, publikasi bisa berkelanjutan, terukur, dan tidak bergantung pada satu media atau momentum tertentu.
Forest Keeper juga mendapatkan dukungan dari Pelorus Fondation asal Inggris, yang menilai kolaborasi dan kesadaran masyarakat sebagai kunci perlindungan spesies terancam punah. Dukungan ini memperkuat keyakinan bahwa peran masyarakat sipil, khususnya dalam aspek awareness dan media, sangat krusial di tengah keterbatasan sumber daya negara.
Badak Jawa dihadapkan pada berbagai krisis: populasi yang diperkirakan hanya 40โ70 ekor, ancaman perburuan di masa lalu, risiko perkawinan sedarah, hingga wacana relokasi dan sanctuary yang masih menuai pro-kontra. Bahkan, pernah ada ancaman tambang yang nyaris masuk ke kawasan taman nasional melalui pengeboran bawah tanahโkasus yang minim pengawasan publik.
Melalui Ngobad, Forest Keeper ingin mengubah cara pandang tersebut. Badak Jawa tidak hanya dilihat sebagai objek konservasi, tetapi sebagai identitas dan kebanggaan Banten. Jika Thailand berhasil menjadikan gajah sebagai simbol nasional, maka Badak Jawa pun layak mendapatkan tempat serupa dalam imajinasi publik Indonesia. Ke depan, Ngobad akan terus digulirkan ke berbagai komunitas, membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat untuk terlibat sebagai anggota, relawan, maupun penggerak kampanye. Karena pada akhirnya, pelestarian Badak Jawa bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, melainkan tentang menjaga warisan, ekosistem, dan masa depan bersama.

