Kementerian Perindustrian kini mendorong transformasi besar melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dan efisien. Salah satu terobosan yang tengah mendapat sorotan adalah canting cap kertas, alternatif ekonomis dari canting cap tembaga yang selama ini menjadi alat utama proses pembuatan batik cap.

Inovasi ini bukan sekadar alat baru. Canting cap kertas menawarkan biaya produksi jauh lebih rendah—bahkan hingga 80 persen lebih hemat—dan tetap mampu menghasilkan lebih dari 500 lembar kain batik. Yang tak kalah menarik, canting cap kertas memberi ruang kreasi lebih bebas bagi perajin untuk mengembangkan motif sesuai karakter masing-masing.
Mendukung percepatan adopsi teknologi tersebut, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan menggelar pelatihan pembuatan canting cap kertas secara gratis di Yogyakarta. Pelatihan ini berlangsung dalam dua gelombang pada awal hingga pertengahan Desember 2025 dan diikuti 100 peserta dari berbagai daerah—mulai dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatra dan Kalimantan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa inovasi teknologi menjadi kunci agar industri batik Indonesia mampu bersaing di tingkat global. “Industri batik harus inklusif, efisien, kreatif, dan berkelanjutan. Inovasi seperti canting cap kertas berperan besar untuk mewujudkannya,” ujar Menperin.
Kepala BSKJI Emmy Suryandari menambahkan bahwa teknologi ini tidak hanya efisien, tetapi juga memperkuat kreativitas para perajin. Dengan biaya produksi yang lebih ringan, pelaku batik kini memiliki peluang lebih besar untuk melakukan eksperimen desain dan menciptakan motif dengan identitas budaya yang kuat.
Plt. Kepala BBSPJIKB, Cahyadi, ikut menyoroti tingginya minat peserta sebagai bukti bahwa pelaku batik membutuhkan inovasi yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar saat ini. Peminat pelatihan bahkan melampaui kuota awal sehingga jumlah peserta digandakan menjadi 100 orang.
Pada pembukaan kegiatan, Direktur Bina SDM, Lembaga dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, memberikan apresiasi terhadap kolaborasi lintas kementerian ini. Ia menyebut pelatihan ini sebagai upaya penting menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya tak benda dunia.
Ke depan, BBSPJIKB akan terus memperluas layanan pelatihan dan sertifikasi demi memperkuat kompetensi perajin serta menjaga daya saing batik Indonesia di tengah dinamika pasar global. Dengan inovasi dan kolaborasi yang terus diperkuat, industri batik nasional melangkah semakin optimis menuju masa depan yang lebih cerah dan relevan.

