Yogyakarta – Pameran Puspa Nuswantara resmi dibuka pada peringatan Hari Ulang Tahun Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) ke-8, yang digelar di kompleks Kedutaan Besar Pakualaman, 22 – 23 November 2025 di Pendopo Paku Alam Yogyakarta. Acara ini dibuka secara resmi oleh Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam (GKBRAA Paku Alam), yang memberikan sambutan penuh apresiasi terhadap perjalanan APPBI dan pentingnya sinergi untuk memajukan batik Indonesia.
Dalam sambutannya, GKBRAA Paku Alam mengawali dengan ucapan syukur atas terselenggaranya acara yang mempertemukan para perajin, pengusaha, pemangku kebijakan, serta komunitas pecinta batik dari berbagai daerah.
Apresiasi untuk Perjuangan APPBI
GKBRAA Paku Alam memberikan penghargaan atas kerja keras APPBI yang terus konsisten memperjuangkan keberlangsungan ekosistem perbatikan nasional. “Satu minggu mereka bekerja keras untuk membuat APPBI sampai seperti ini. Luar biasa sekali,” ucapnya. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya mengikuti perjalanan APPBI dari waktu ke waktu, termasuk berbagai program pameran internasional yang turut memperkuat posisi batik Indonesia di kancah global.
Dalam empat tahun terakhir, GKBRAA Paku Alam menyebut keterlibatannya dalam pameran di Malaysia dan Laos bersama para tokoh batik nasional. Ia juga menyampaikan rencana kegiatan berikutnya yang diproyeksikan akan digelar di Singapura. “Sebagai Ketua TTASSEA (Komunitas Seni Tekstil Tradisional ASEAN), saya ingin selalu berkolaborasi dengan semuanya demi memajukan batik Indonesia,” tegasnya.
Kolaborasi sebagai Kunci Kemajuan Batik
Dalam kesempatan tersebut, GKBRAA Paku Alam menekankan bahwa pelestarian dan pengembangan batik tidak dapat dilakukan sendiri. Ia menyoroti pentingnya sinergi antara perajin, pengusaha, pemerintah, hingga sektor pendidikan. “Kita tidak bisa sendiri untuk mempromosikan batik kita. Batik kita luar biasa, harus kita uri-uri sekaligus kita kembangkan,” katanya.
Menurutnya, Jakarta adalah lahan strategis untuk mempromosikan batik karena memiliki ekosistem pasar yang besar. Ia mengungkapkan bahwa hubungan antara produsen dan pembeli batik harus terus diperkuat agar keberlangsungan perajin di daerah dapat terjaga.
Dalam sambutannya, ia juga menyinggung momen Hari Batik Nasional yang baru saja dirayakan, termasuk capaian sejumlah daerah yang memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG) untuk batik mereka. “Alhamdulillah, Yogyakarta sudah satu yang dapat IG. Daerah-daerah lain juga harus menyusul,” ujarnya.
Pengalaman Internasional dan Prestasi Batik Nusantara
GKBRAA Paku Alam turut membagikan pengalamannya saat menghadiri kegiatan Sister City antara Yogyakarta dan Kyoto. Dalam acara tersebut, batik Indonesia kembali menunjukkan kualitasnya dengan menjuarai kompetisi kain tradisional. “Alhamdulillah batik saya nomor satu,” katanya. Ia juga menjelaskan bagaimana batik karya para perajin Indonesia diolah menjadi kimono di Jepang, sebuah bentuk adaptasi dan inovasi lintas budaya yang memperluas pasar batik.
Batik sebagai Warisan dan Identitas Keluarga
Menutup sambutan, GKBRAA Paku Alam menceritakan proses kreatif penciptaan batik untuk upacara pernikahan anak keduanya, yang terinspirasi dari naskah-naskah kuno. Ia menegaskan bahwa batik bukan sekadar wastra, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan spiritual.
Menguatkan Masa Depan Batik Indonesia
Pembukaan Pameran Puspa Nuswantara ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali komitmen APPBI dalam memperjuangkan keberlanjutan batik Nusantara. Di usia yang kedelapan, asosiasi ini diharapkan semakin mampu menjadi penggerak utama dalam mengembangkan potensi perajin, memperluas pasar nasional dan internasional, serta memastikan batik tetap menjadi kebanggaan Indonesia.
Acara ditutup dengan apresiasi terhadap seluruh pihak yang berkontribusi, serta ajakan untuk terus menjaga kolaborasi demi masa depan batik Indonesia yang lebih cerah.

