https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Berguru pada Maestro, Syamsul Huda Bangkitkan Tren Prada via Perada Batik

Syamsyul Huda: Berguru pada Maestro, Luka Krisis, dan Kebangkitan Prada di Tangan Samsyul Huda via Perada Batik

Di sebuah sudut Pekalongan yang tak jauh dari hiruk-pikuk sentra batik, Syamsul Huda membangun kembali apa yang dianggap banyak orang sebagai gaya batik yang telah pudar: batik prada lewat brand Perada Batik. Pada awal 2010-an, ketika warna-warna emas dianggap “jadul”, ketika prada identik dengan batik nenek-nenek, Huda justru memilih jalan yang tak populer. Pilihan itu bukan didorong tren, melainkan oleh jejak perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah kartu nama sederhana bertuliskan dua kata: Iwan Tirta.

Syamsul Huda mengangkat prada di Perada Batik
Syamsul Huda mengangkat prada di Perada Batik

Pertemuan yang Mengubah Arah Hidup

Semua bermula pada awal 2000-an. Saat itu Huda masih fokus di dunia tenun—menenun sutra untuk Gusti Pambayun, keluarga besar Keraton Yogyakarta. Setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan, ia diberi sebuah kartu nama oleh pihak Gusti. Tanpa mengetahui apa pun, Huda membuka kartu itu dan terperanjat: itu kartu nama desainernya Indonesia, Iwan Tirta.

Kartu itu bukan sekadar kartu. Itu undangan—undangan untuk masuk ke dunia baru.

Huda berangkat ke Jakarta. Ia tidak membawa ambisi besar, hanya membawa rasa ingin tahu dan keberanian untuk bertemu sosok yang karyanya telah menjejak panggung dunia. Pertemuannya dengan Iwan berlangsung hangat. Iwan bertanya, “Kamu orang Pekalongan kok tidak bikin batik, malah nenun?” Kalimat itu menampar sekaligus membangunkan.

Namun hidup berbelok dengan caranya sendiri. Huda masih tenggelam dalam dunia ekspor handicraft. Keinginan membatik tertunda sepuluh tahun. Sampai akhirnya, pada 2010, telepon dari sekretaris Iwan kembali membuka pintu itu. Iwan datang ke Pekalongan dalam rangka Pekan Batik Internasional. Huda diminta mendampingi. Dalam pertemuan itu, Iwan kembali mendorongnya membuat batik dan berjanji akan mengirimkan buku-buku desainnya sebagai panduan.

Tak lama kemudian, paket berisi buku dan lembaran motif tiba. Huda mulai membatik, lalu ia mengirimkan hasilnya ke Jakarta. Iwan menanggapi setiap karya dengan catatan tertulis: “Kurang berani,” “Komposisi kurang pas,” atau “Motif ini perlu dipertajam.”
Itu adalah pembelajaran jarak jauh yang tidak pernah ia bayangkan akan dialaminya—belajar langsung dari maestro, tanpa internet, hanya melalui surat yang ditulis tangan.

Sayangnya, proses berguru itu tidak berlangsung lama. Kurang dari setahun setelah mereka berkorespondensi intensif, Iwan Tirta jatuh sakit dan wafat. Huda kehilangan guru pada saat ia belum benar-benar siap berdiri sendiri. Namun catatan-catatan tangan Iwan tetap ia simpan—menjadi pusaka, menjadi kompas.

Jatuh, Habis, dan Lahir Kembali

Setahun sebelum wafatnya sang maestro, badai justru lebih dulu menerjang usaha Huda. Pada 2008–2009, 90% bisnis handicraft-nya berorientasi ekspor. Ketika krisis global menghantam, pasar membeku, pembayaran macet, dan perusahaannya turun drastis.

Ketika dunia luar runtuh, Huda justru kembali pada sesuatu yang pernah membangkitkan rasa cintanya: batik.

Ia ingat masa kuliah di Unikal. Setelah lulus dari Manajemen Ekonomi, ia sempat belajar ke Balai Batik Jogja. Ia memang mencintai batik sejak muda, namun waktu itu ia sedang fokus pada ekspor. Kini, ketika krisis membuat semua kerangka runtuh, batik menjadi tempat pulang.

Pada 2012 lahirlah nama Perada Batik—nama yang diambil dari proses “merada”, sebuah memori masa kecil ketika ia membantu orang-orang tua merada dengan canting sepulang sekolah. Meski garis keturunan membatik di keluarganya sudah terputus dua generasi, Huda percaya DNA itu tidak hilang.

Dengan bekal desain asli dari Iwan Tirta, ia mulai membuat batik prada. Tahun 2013 ia membawa karyanya ke pameran nasional. Reaksi pasar? Sinis. Prada dianggap usang. “Kayak batik nenek saya,” ejek sebagian pengunjung. Ada pula yang menyebutnya norak, bling-bling, atau tidak kekinian.

Namun Huda tahu, segmen pasar selalu bergerak. Ia tidak gentar. Ia maju terus.

Benar saja, tahun berikutnya pasar mulai mengenali karyanya. Orang-orang berusia 50 tahun ke atas—yang mengenal motif Iwan—mulai menyadari kedekatan karakter karya Huda dengan maestro tersebut. Mereka bertanya: “Kamu muridnya?” Huda menjawab jujur, ia hanya berguru, bukan siapa-siapa. Sejak itu lingkaran pelanggan perlahan terbentuk.

Lahirnya Identitas Perada

Mencari suara baru setelah belajar dari maestro bukan perkara mudah. Huda membutuhkan waktu hampir empat tahun untuk menemukan identitas Perada. Identitas itu bukan sekadar motif, tetapi filosofi: keindahan yang dibangun dari proses panjang, keberanian eksplorasi material, dan karakter warna yang khas.

Salah satu keunggulan Perada adalah penggunaan material non-mainstream: tencel, arami, benang pembek, sutra tenun tangan, hingga katun yang ia tenun sendiri.
Ia memulai perbedaannya dari akar: bahan baku.

Sementara banyak perajin membeli kain dari pabrik, Perada menenunnya sendiri—menjadikan setiap kain unik. Kombinasi material eksperimental dengan prada tradisional menjadikan karya Perada tidak hanya bernuansa klasik, tetapi juga modern, eksklusif, dan berkarakter.

Perada kemudian berkembang ke home decor—cushion cover, table runner, bed cover—menghidupkan kembali jejak awal Huda di dunia handicraft.

Pandemi: Ujian Terbesar, Lompatan Terjauh

Ketika pandemi melanda, hampir semua perajin batik gulung tikar. Banyak sentra batik tutup total. Namun Perada melakukan hal yang sulit: tidak merumahkan karyawan in-house-nya satu pun.

Dari hampir 400 artisan mitra, sekitar 100 adalah tenaga in-house, dan merekalah yang dipertahankan Huda. Ia menjual aset pribadi demi menggaji para pekerja yang sudah bertahun-tahun membantunya tumbuh.

Keputusan itu yang menyelamatkan Perada.

Ketika pandemi mereda dan pasar kembali dibuka, banyak perajin kewalahan karena stok kosong dan tenaga kerja hilang. Sementara Perada memiliki kedua-duanya: stok dan tim yang solid. Hasilnya, Perada justru mengalami lompatan omzet terbesar dalam sejarah usahanya.

Harapan tentang Regenerasi

Meski bisnisnya stabil, Huda menyimpan satu kegelisahan: regenerasi pembatik tulis semakin menipis. Banyak artisan berpindah profesi selama pandemi. Anak-anak muda tidak lagi mudah diajak berkecimpung di dunia batik.

Ia berharap anak keduanya yang mengambil Ekonomi dapat melanjutkan usaha ini. Namun ia sadar, perjalanan menuju keberlanjutan sebuah perusahaan budaya membutuhkan waktu minimal 25 tahun. Perada baru berusia 12 tahun. Perjalanan masih panjang.

Ekonomi Batik Menurut Huda

Sebagai lulusan ekonomi, Huda memandang batik bukan sekadar produk budaya, tetapi juga bisnis dengan pasar luas. Kesalahan banyak pelaku batik, menurutnya, adalah tidak memahami segmentasi pasar. Sejak awal ia memilih segmen middle-up, segmen yang menghargai proses, karakter, dan cerita.

Bagi Huda, batik adalah karya seni yang tidak lekang oleh waktu. Dan seperti seni lainnya, ia membutuhkan presisi, keberanian bereksperimen, serta komitmen untuk menjaga nilai budaya. Dalam perjalanan panjangnya, Perada telah membuktikan satu hal: batik prada belum mati. Ia hanya menunggu seseorang yang cukup berani untuk meniupkan kembali nyalanya.


Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Batam: sejarah, motif khas (gonggong, Barelang), gerak UMKM, tantangan regenerasi perajin, dan peluang pariwisata kreatif lokal.

Batik Batam: Identitas Wastra Pulau Industri

Pembukaan Pameran Puspa Nuswantara rayakan HUT ke-8 APPBI dengan sambutan GKBRAA Paku Alam yang menekankan kolaborasi dan promosi batik nasional.

Pembukaan Pameran Puspa Nuswantara Rayakan HUT ke-8 APPBI: GKBRAA Paku Alam Tekankan Kolaborasi dan Promosi Batik Nasional