Ditulis oleh: Abdul Syukur
Dalam perjalanan panjang batik Indonesia, karya-karya yang benar-benar lahir dari kedalaman renungan batin selalu memiliki tempat yang berbeda. Di antara karya-karya itulah, kisah batik “GALIHPADA” karya Drs. Sapuan berdiri sebagai sebuah pernyataan artistik sekaligus spiritual. Dibuat pada tahun 2025 menggunakan teknik batik tulis di atas kain katun berukuran 270 x 105 cm, karya ini bukan sekadar visual—ia adalah narasi tentang manusia, semesta, dan hubungan batin yang menghidupi keduanya.

Galih dan Pada: Dua Ruang, Satu Kesatuan
Sapuan menamai karyanya GALIHPADA dari dua kata dasar: galih (batin) dan pada (alam). Dua istilah yang menandai relasi paling tua dalam kehidupan manusia. Dalam pandangannya, manusia adalah ruang pertemuan antara fenomena batin dan fenomena materi. Kedua ranah itu selalu bergerak bersama, menciptakan ritme kehidupan yang harmonis—atau sebaliknya, mengguncang bila salah satu timpang.
Pada lapisan pertama, Sapuan menggambarkan fenomena materi sebagai empat elemen dasar: tanah, air, api, dan udara. Keempatnya adalah sumber dari segala bentuk yang dapat dilihat, diraba, dan dirasakan. Mereka menjadi pondasi dari gerak semesta, termasuk kehidupan manusia sebagai bagian dari jagad besar.
Di lapisan yang lebih dalam, hadir fenomena batin yang bersumber dari cahaya rohani Tri Purusha—diwujudkan dalam simbol-simbol bintang, bulan, dan matahari. Ketiganya melambangkan kesadaran, kejernihan, serta pencerahan.
Perpaduan dua dunia ini yang menjadi inti gagasan karya Sapuan.
Pertemuan Simbol: Naga dan Merak sebagai Penjaga Keseimbangan
Di antara motif yang digunakan Sapuan, dua simbol utama mencuri perhatian: naga dan merak.
- Naga menggambarkan keperkasaan, kekuatan, dan keberanian.
- Merak menghadirkan kelembutan, kecantikan, dan kehalusan rasa.
Bagi Sapuan, keduanya bukan sekadar ornamen. Mereka adalah representasi keseimbangan batin manusia: antara kegagahan dan keindahan, keadilan dan kebijaksanaan, daya dan kelembutan.
Dalam GALIHPADA, naga dan merak bukan berhadapan, melainkan berdampingan—sebuah simbol bahwa keutuhan manusia hanya tercapai ketika dua aspek itu menyatu.
Sap Pitu: Tujuh Tataran Batin Manusia
Keindahan makna dalam karya ini mencapai puncaknya ketika Sapuan meramu konsep sap pitu—tujuh tataran batin manusia. Ia memadukan empat daya materi dengan tiga cahaya rohani, melahirkan tujuh formasi yang membentuk Sang Aku.
Tujuh tataran ini bukan hanya filosofi; mereka menentukan bagaimana manusia bergerak, merasa, dan berpikir. Dari sinilah lahir pola budi-daya, yakni proses manusia membangun kebudayaannya.
Saat menatap batik ini, kita seperti diajak masuk ke ruang meditasi. Setiap garis lilin yang ditorehkan seolah menghubungkan gerak hidup yang diamati Sapuan dalam batinnya: pergulatan antara nafsu, pikiran, hasrat, dan kesadaran.
Jagad Karamean: Empat Warna Kehidupan
Dalam perjalanannya, budi-daya manusia akan memunculkan empat warna dasar kehidupan. Sapuan menerjemahkannya dalam motif Jagad Karamean, yang mencakup:
- Harta
- Seksualitas
- Tahta
- Pandhita (spiritualitas/kebijaksanaan)
Keempat unsur ini berasal dari empat daya materi, namun baru terwujud setelah mendapat sentuhan cahaya rohani. Motif Jagad Karamean dalam karya ini tidak dimaknai sebagai dorongan negatif, tetapi sebagai realitas yang perlu dijalani dengan kesadaran.
Dalam tangan Sapuan, motif-motif ini berubah menjadi sebuah peta batin: tentang apa yang dicari manusia, apa yang diinginkannya, dan apa yang sedang ia perjuangkan.
Tumpal Dasadriya: Menjembatani Jagad Cilik dan Jagad Ageng
Manusia, menurut Sapuan, adalah jagad cilik—semesta kecil. Untuk berinteraksi dengan jagad ageng (semesta besar), manusia membutuhkan dua perangkat: Pancaindriya dan Pancakarmendriya.
- Pancaindriya (mata, telinga, lidah, hidung, peraba): Menjadi pintu masuk segala fenomena luar.
- Pancakarmendriya (mulut, tangan, kaki, kemaluan, anus): Menjadi pintu keluarnya ekspresi batin ke dunia luar.
Sapuan menggambarkan ini dalam motif Tumpal Dasadriya, menghadirkannya sebagai pola geometris dan repetitif di bagian pinggir karya. Tumpal tidak hanya menjadi hiasan, tetapi simbol aliran informasi: apa yang kita terima dari alam, dan apa yang kita kembalikan kepada alam.
Sapuan, Batin, dan Ruang yang Menjelma Kain
Melihat “GALIHPADA,” kita tidak hanya memandang karya batik. Kita memandang sebuah sistem kosmologi yang dituang dalam bahasa visual—sebuah narasi yang memadukan filsafat Jawa, spiritualitas, dan seni batik klasik.
Sebagai seorang seniman, Drs. Sapuan menghadirkan lebih dari estetika. Ia menghadirkan pemahaman bahwa batik bisa menjadi medium kontemplasi, tempat manusia membaca ulang dirinya dan semestanya.
“GALIHPADA” adalah undangan untuk kembali ke galih (batin), menafsirkan pada (alam), dan menyadari bahwa dua ruang itu sejatinya bersatu dalam diri kita.

