Upaya memberdayakan pengrajin batik difabel terus diperkuat melalui kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK). Kedua lembaga kembali menggelar Workshop Pemanfaatan Alat Bantu Pendukung Produksi bagi Pengrajin Batik Disabilitas Klaten di Kantor PPDK Klaten, sebagai kelanjutan dari rangkaian program peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi batik difabel.

Program ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui skema Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Fokus utamanya adalah penerapan instalasi alat bantu ramah disabilitas untuk mendukung produksi batik shibori dan batik ciprat yang berkelanjutan.
Ketua tim pengabdian, Dyah Widi Astuti, S.T., M.Sc., menegaskan bahwa workshop ini menjadi langkah penting setelah pelatihan sebelumnya. “Jika sebelumnya peserta dibekali kemampuan memperkenalkan produk, maka kali ini kami fokus pada peningkatan efisiensi melalui teknologi tepat guna yang mudah dioperasikan oleh penyandang disabilitas,” jelasnya.
Workshop menghadirkan narasumber dari Teknik Industri UMS, Dr. Indah Pratiwi, S.T., M.T., yang memperkenalkan dua inovasi utama: alat lorod dan alat jemur berbasis katrol. Alat lorod dirancang untuk mempercepat proses melorod atau menghilangkan malam dengan lebih aman, sementara alat jemur berbasis katrol membantu pengrajin menaikkan serta menurunkan kain tanpa membutuhkan tenaga besar. Kedua alat ini dikembangkan dengan mempertimbangkan ergonomi, keselamatan, dan aksesibilitas bagi pengrajin dengan mobilitas terbatas.
Para peserta, yang merupakan pengrajin batik difabel, diberi kesempatan mencoba langsung kedua alat tersebut melalui sesi praktik terarah. Pendekatan bertahap membuat seluruh peserta dapat memahami fungsi alat secara utuh, mulai dari prinsip kerja hingga langkah penggunaan yang aman.
Respons positif datang dari para pengrajin yang merasakan langsung manfaat alat, terutama dalam mengurangi beban fisik, mempercepat proses produksi, dan meminimalkan risiko kecelakaan kerja. Sesi evaluasi di akhir kegiatan menghasilkan sejumlah masukan, seperti penyesuaian stabilitas rak jemur dan pembersihan malam pada alat lorod, yang akan ditindaklanjuti untuk penyempurnaan desain alat.

Dyah menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut pada pendampingan berkelanjutan. “Kami memastikan setiap alat benar-benar bermanfaat dan sesuai kebutuhan lapangan. Inklusivitas dan keberlanjutan menjadi fokus utama,” tutupnya.
Melalui inisiatif ini, UMS dan PPDK Klaten berharap dapat mendorong peningkatan kualitas produksi batik lokal sekaligus memperluas kesempatan ekonomi bagi pengrajin difabel. Teknologi yang inklusif diharapkan menjadi jembatan menuju kemandirian, efisiensi, dan penguatan ekosistem batik ramah disabilitas di Klaten.

