Oleh: Sapuan
Sapuan adalah pensiunan guru biologi di SMP Paninggaran, Pekalongan Jawa Tengah. Di lain sisi, ia adalah pembatik ternama yang tergabung dalam Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI). Di sebuah sebuah webinar batik yang digelar APPBI, Sapuan menyapa para peserta dengan “Salam canting”, seolah menegaskan bahwa batik bukan sekadar kain, melainkan bahasa batin yang hidup.
Falsafah Jawa memayu hayuning bawono menjadi konsep yang unknown lahirnya—seperti batik itu sendiri—namun nyata hadir dalam laku hidup masyarakat Jawa. Memayu dimaknai sebagai memberi atap: menaungi, melindungi. Hayuning berasal dari rahayu, keselamatan dan kesejahteraan. Bawono adalah dunia, mencakup semesta mikro dan makro. Secara ringkas, falsafah ini mengajarkan manusia untuk menciptakan keselarasan antara dirinya dan lingkungan, agar hidup berlangsung seimbang.
Dari sana, Sapuan mengajak peserta memahami DNA batik melalui analogi ilmu sitologi. Dalam inti sel makhluk hidup terdapat DNA—kode kehidupan yang berpasangan dan unik. Tidak ada makhluk yang benar-benar sama, bahkan pada bayi kembar. Variasi itulah yang membuat kehidupan kaya. Prinsip yang sama ia temukan dalam batik. Sejak kecil, ia mampu membedakan batik Solo, Jogja, Pekalongan, Madura, hingga Cirebon. Meski sama-sama disebut batik, tiap daerah memiliki “DNA” visual yang berbeda.
Namun, menurut Sapuan, variasi batik tidak berhenti pada wilayah. Ia melangkah lebih jauh: batik juga memiliki DNA personal. Dari kejauhan, orang yang peka bisa berkata, “Oh, ini karya Pak Dudung (Dudung Alie Syahbana),” atau “Ini batik Mas Afif (Afif Syakur).” Jiwa pembatik melekat kuat pada kain. Batik bukan produk anonim; ia adalah potret batin penciptanya.
Ketika membatik secara sungguh-sungguh, Sapuan menyadari bahwa proses teknis batik sesungguhnya sarat nilai kehidupan. Mengapa batik tulis dibuat bolak-balik? Mengapa tidak disederhanakan saja dengan teknologi cetak? Salah satu gurunya menjelaskan bahwa bolak-balik itu bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan, melainkan pesan moral: antara perkataan dan perbuatan, lahir dan batin, harus sejalan.
Proses membatik juga menuntut persiapan yang tidak instan. Kain mori tidak serta-merta digunakan, tetapi melalui tahapan panjang. Nglowongi, isen-isen, nembok—semuanya berurutan dan tidak bisa dilompati. Dari sini, batik mengajarkan bahwa hidup pun memiliki tahap-tahap yang harus dijalani dengan sabar. Tidak semua bisa didahulukan, tidak semua bisa dipercepat.
Bahkan cara memegang canting dan menggoreskannya dikaitkan dengan tarikan napas. Membatik dilakukan dalam suasana tenang, tanpa guyon. Lilin panas yang berisiko melukai mengajarkan kehati-hatian. “Belajar hidup itu memang harus hati-hati,” kata Sapuan. Tradisi yang sering dianggap kuno justru terbukti paling matang; berbagai upaya modernisasi alat akhirnya kembali pada bentuk canting tradisional.
Dari laku membatik itu, Sapuan sampai pada kesimpulan yang mendalam: setiap manusia sejatinya adalah pembatik. Hanya saja, kadar bakat dan kesediaan menjalani jalannya berbeda-beda. Lingkungan dapat mempercepat tumbuhnya DNA batik dalam diri seseorang. Batik mengajarkan pentingnya mengantri, keserasian desain, warna, dan isen-isen—sebuah pelajaran tentang harmoni dan pluralitas. Seperti motif Hokokai dengan ragam warna yang berani, perbedaan bisa menjadi indah jika ditata dengan rasa.
Lebih jauh, Sapuan menyebut batik sebagai sebuah thoriqah—jalan spiritual. Proses membatik adalah perjalanan laku manusia menuju Tuhannya. Hampir seluruh warisan budaya Nusantara, menurutnya, menyimpan filosofi serupa: nilai hidup yang ditanamkan melalui praktik, bukan ceramah.
Falsafah memayu hayuning bawono kemudian ia tarik ke konteks nyata, termasuk masa pandemi. Ketika pemasukan terhenti dan tanggung jawab terhadap para pembatik tetap ada, Sapuan memilih jalan keadilan. Ia mengatur kerja bergilir agar nyala batik tidak padam. Baginya, para pembatik adalah “kerajaan batik” yang harus dijaga keseimbangannya. Prinsipnya bukan mati siji mati kabeh, melainkan urip siji urip kabeh—jika satu hidup, semua harus hidup.
DNA batik, pada akhirnya, bukan hanya soal motif atau teknik, melainkan soal akhlak, keadilan, dan kesadaran hidup. Batik menuntut perilaku yang benar. Ketika pembatiknya baik, batik apa pun yang lahir darinya akan membawa kebaikan. Dalam laku itulah, batik menjadi cahaya—penuntun perjalanan manusia menuju keseimbangan, dan akhirnya, menuju Tuhan.


