in ,

APPBI Awali Program Kerja 2020 Di Lasem

Asosiasi Pengusaha dan Perajin Batik Indonesia atau disingkat APPBI awali kerja tahun 2020 di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, 13 Р16 Januari lalu. Asosiasi yang anggota terdiri dari para pembatik berpengaruh Indonesia ini, mengunjungi Lasem untuk membahas agenda  review kegiatan APPBI tahun 2019 serta Rapat Kerja Penyusunan Kegiatan APPBI periode 2020. Keberadaan APPBI di Lasem sekaligus juga dimanfaatkan untuk sosialisasi dan rekruitmen anggota baru.

Asosiasi Pengusaha dan Perajin Batik Indonesia (APPBI) didirikan sejak 29 Juli 2017, yang kini dipimpin oleh Komarudin Kudiya sebagai ketua umumnya. Dalam perjalanannya, APPBI bekerjasama dengan Direktorat IKMA Kementerian Perindustrian dan dunia perbankan BRI. APPBI berharap keberadaannya bermanfaat bagi kemitraan komunitas perajin dan pengusaha batik di seluruh wilayah Indonesia, baik dalam bentuk kerja nyata, berbagi keahlian, memberikan solusi atas permasalahan sekitar batik, penyambung aspirasi perajin batik, serta menjadi contoh dan teladan yang berkaitan dengan kerajinan batik Indonesia.

Para pendiri Asosiasi Pengusaha dan Perajin Batik Indonesia (APPBI) yang hadir di Lasem, Rembang, diwakilkan oleh 17 orang pendirinya yakni: Hj. Maemonah (Madura), SH. Wirasno dan Hj. Putu Sulistiyani (Surabaya), Hj. Zunaiyah Budiarty (Gresik), Santoso Hartono (Lasem), Yuli Astuti (Kudus), H. Eko Suprihono, H. Moh. Pribadi dan Hj. Tatik Sriharta (Sragen dan Solo), H. Failasuf (Pekalongan), Nita Kenzo (Semarang), H. Afif Syakur (Yogya), Komarudin Kudiya dan Nia Hasan (Bandung), Agus Purwanto dan. Budi Dharmawan (Jakarta), dan Dimas Andre (Makassar). Semuanya adalah pelaku batik yang sukses di daerahnya masing-masing.

Hari pertama kegiatan (14 Januari), Asosiasi Pengusaha dan Perajin Batik Indonesia (APPBI) membahas laporan-laporan kegiatan dari masing-masing bidang, dan berencana di 2020 terlibat dan aktif di Jambore Batik Nasional dengan tema Jaring Batik Nasional, Hari Belanja Online Nasional, workshop-workshop batik yang digelar di berbagai daerah, serta memperingati Hari Batik Nasional.

Selama di Lasem, APPBI mendatangi beberapa sentra penghasil batik tulis di wilayah Lasem, yakni Desa Karangturi, Desa Gedungmulyo, Desa Babagan, Desa Karasgede, Desa Karasjajar atau Doropayung, Desa Jeruk, dan Desa Sumbergirang.

Keunikan dan keunggulan Lasem sebagai sentra batik adalah proses produksinya 100% dikerjakan dengan teknik batik tulis. Usia perajin batik sendiri antara 30 tahun ke atas hingga paling tua berusia 82 tahun, bernama Mbok Karinah, pembatik di bengkel batik Pusaka Beruang di desa Karasjajar.

Alasan lain APPBI menggelar rapat laporan tahunan di sentra batik Lasem, karena batik Lasem identik dengan produk akulturasi budaya, antara budaya akulturasi keturunan Tionghoa dan masyarakat Jawa. Akulturasi tersebut menyatu dalam ikatan budaya Lasem yang sangat kental dan melahirkan batik-batik Lasem dengan corak warna yang didominasi warna merah, khas Tionghoa.

Menurut salah satu pendiri APPBI H. Afif Syakur, sebelum berkembangnya batik-batik yang berada di sekitar Jawa Tengah, justru batik Lasem lebih berkembang lebih dahulu. Bahkan di masa lalu, batik Lasem sudah menjadi bagian dari komoditi ekspor.

Salah satu keunggulan batik Lasem jaman dulu adalah batik Tiga negeri, yakni batik dengan ciri khas warna merah dikerjakan di Lasem, warna sogan dikerjakan di Yogya atau Solo dan Warna Biru dikerjakan di kota Pekalongan. Dari sisi ornament hias, batik Lasem dikenal dengan bentuk Lanto atau tanaman ganggeng dai laut. Sehingga batik Lasem dikenal juga dengan julukan nama Batik Lantohan.

Kunjungan APPBI ke sentra perajin batik Lasem disertai dengan kegiatan bakti sosial, melakukan pembagian sebagian rejeki berupa santunan dengan para perajin batik di daerah tersebut.

Digelar juga bincang-bincang tentang batik dan permasalahan yang dialami oleh perajin batik Lasem, difasilitasi oleh BAPEDA Kabupaten Rembang. Hadir Bupati Rembang beserta jajaran OPD (Kepala Bapeda, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan). Pertemuan tersebut dilakukan di Hotel Pollos Rembang.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Waspada Flu di Musim Hujan, Cegah Sebelum Terjadi

Batik Gedangsari, Kisah Buruh Perajin Batik Warlami Naik Kelas