https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Struktur Kekuasaan yang Membentuk Budaya dan Mentalitas

Konsep kerajaan konsentris Jawa memengaruhi tata ruang, hierarki sosial, budaya, hingga cara berpikir masyarakat.

Salah satu gagasan menarik yang diangkat Denys Lombard adalah konsep kerajaan konsentris. Model ini menggambarkan bagaimana kekuasaan tradisional Jawa disusun dalam lingkaran-lingkaran yang berpusat pada raja.

Raja berada di titik pusat sebagai simbol keseimbangan dunia. Di sekelilingnya terdapat para bangsawan dan pejabat kerajaan. Lingkaran berikutnya ditempati para pedagang dan pengrajin, sedangkan wilayah paling luar dihuni masyarakat pedesaan.

Struktur tersebut tidak hanya berlaku dalam organisasi sosial, tetapi juga tercermin dalam tata ruang kota dan wilayah kerajaan.

Kota sebagai Cerminan Kekuasaan

Dalam kerajaan tradisional Jawa, keraton menjadi pusat segala aktivitas. Di sekitar keraton berdiri rumah para bangsawan dan pejabat. Lebih jauh lagi terdapat kawasan perdagangan dan permukiman para pengrajin.

Di luar kawasan inti terbentang desa-desa pertanian yang menjadi penopang ekonomi kerajaan. Susunan ini memperlihatkan bagaimana ruang fisik digunakan untuk menegaskan hubungan kekuasaan.

Pola yang sama juga berlaku dalam skala yang lebih luas. Kerajaan dibagi menjadi wilayah inti, daerah penyangga, hingga kawasan pinggiran yang semakin jauh dari pusat kekuasaan.

Pengaruh terhadap Cara Berpikir Masyarakat

Menurut Lombard, struktur konsentris tidak hanya membentuk organisasi politik, tetapi juga memengaruhi mentalitas masyarakat Jawa. Konsep pusat dan pinggiran hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari tata krama hingga seni pertunjukan.

Wayang menjadi salah satu contoh penting. Kisah-kisah wayang sering menggambarkan perjalanan tokoh dari pinggiran menuju pusat kekuasaan atau pencarian keseimbangan antara berbagai unsur kehidupan.

Pandangan tersebut turut membentuk nilai-nilai sosial seperti penghormatan terhadap hierarki, pentingnya harmoni, dan pencarian keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari Hutan ke Kota Modern

Lombard juga menyoroti perubahan besar yang terjadi ketika pertumbuhan penduduk semakin pesat. Pada masa lalu, hutan memiliki peran penting sebagai ruang pelarian, tempat bertapa, dan wilayah yang memungkinkan mobilitas masyarakat.

Ketika hutan menyusut akibat perluasan permukiman dan pertanian, masyarakat kehilangan salah satu elemen penting dalam struktur tradisionalnya. Perubahan tersebut turut memengaruhi pola kehidupan dan cara masyarakat menghadapi tekanan sosial.

Meski banyak unsur lama telah berubah, jejak konsep kerajaan konsentris masih dapat ditemukan dalam budaya Jawa modern, baik dalam simbol kekuasaan, tata kota, maupun nilai-nilai sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sumber: Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian I Batas-Batas Pembaratan, Gramedia Pustaka Utama.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Islam dan Cina memberi pengaruh besar pada perdagangan, budaya, kota, serta mentalitas masyarakat Jawa selama berabad-abad.

Warisan Islam dan Cina di Tanah Jawa

Posisi strategis Jawa di antara Samudra Hindia dan Pasifik menjadikannya pusat pertemuan budaya dunia sejak dahulu.

Mengapa Jawa Menjadi Persimpangan Peradaban Dunia?