Ketika membahas sejarah Jawa, perhatian sering tertuju pada kerajaan-kerajaan besar atau kolonialisme Eropa. Namun Denys Lombard mengingatkan bahwa jauh sebelum pengaruh Barat menguat, Jawa telah menjadi bagian dari jaringan Asia yang luas.
Dalam jaringan tersebut, dua kekuatan budaya memainkan peran besar, yakni Islam dan Cina. Keduanya datang melalui jalur perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai pusat ekonomi dunia.

Interaksi tersebut berlangsung berabad-abad dan meninggalkan dampak yang jauh melampaui urusan ekonomi. Islam dan Cina turut membentuk cara hidup, pola pikir, serta struktur sosial masyarakat Jawa.
Islam dan Perubahan Mentalitas Masyarakat
Masuknya Islam membawa perubahan besar dalam kehidupan Jawa. Awalnya proses islamisasi berkembang di kawasan pesisir utara yang menjadi pusat perdagangan internasional. Dari sana pengaruhnya meluas ke pedalaman melalui jaringan ulama, pesantren, dan para pedagang.
Islam memperkenalkan konsep-konsep baru mengenai kehidupan sosial. Hubungan antarmanusia menjadi lebih terbuka karena setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Mobilitas sosial pun semakin memungkinkan dibandingkan sistem hierarkis yang berkembang sebelumnya.
Selain itu, Islam membawa pandangan baru tentang waktu dan sejarah. Kehidupan dipahami sebagai perjalanan yang memiliki awal dan akhir yang jelas. Konsep ini berbeda dengan pandangan siklus kehidupan yang berkembang pada masa sebelumnya.
Jejak Cina dalam Kehidupan Sehari-hari
Selain Islam, pengaruh Cina juga sangat kuat dalam sejarah Jawa. Lombard menunjukkan bahwa kontribusi masyarakat Cina tidak hanya terlihat dalam perdagangan, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Teknologi pertanian, produksi gula, pengolahan makanan, pengobatan tradisional, hingga teknik perdagangan berkembang berkat interaksi yang panjang antara komunitas Cina dan masyarakat lokal.
Jejak tersebut bahkan dapat ditemukan dalam kuliner, arsitektur, pakaian, hingga tradisi hiburan. Banyak unsur yang kini dianggap bagian dari budaya Indonesia sebenarnya merupakan hasil akulturasi panjang antara budaya Jawa dan Cina.
Kosmopolitanisme Nusantara
Lombard menyebut perpaduan Jawa, Islam, dan Cina sebagai bentuk kosmopolitanisme yang khas. Ketiga unsur tersebut selama berabad-abad saling memengaruhi dan menciptakan ruang budaya yang relatif terbuka.
Kondisi ini baru mengalami perubahan besar ketika kolonialisme Eropa mulai memisahkan kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan kategori ras dan kepentingan politik. Meski demikian, warisan hubungan tersebut masih dapat dirasakan hingga sekarang.
Sumber: Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian I Batas-Batas Pembaratan (pengantar kajian trilogi Nusa Jawa).

