“Kalau ditanya sempat salah jurusan apa enggak? Saya jawab iya,” ucap Sally Yusuf sambil tersenyum. “Saya kuliah tiga kali.”

Perjalanan hidupnya memang berliku. Selepas SMA, Sally sempat masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengambil jurusan Seni Grafis. Dunia seni baginya seperti rumah, tempat ia bisa bebas berekspresi.
“Setiap hari harus ada inovasi. Jangan pernah menyerah kalau dapat kritik,” kenangnya. Tapi biaya kuliah yang tinggi membuatnya harus berpikir ulang.
Sally kemudian mencoba mewujudkan cita-cita lamanya: menjadi guru. Ia menempuh pendidikan guru SD, lulus, dan sempat mengajar sebagai guru honorer. Namun, gaji yang minim tak cukup menopang kebutuhan keluarga. “Sekali datang, cuma dapat Rp 20 ribu. Padahal saya sudah punya anak. Akhirnya saya harus realistis,” ujarnya.
Masuk ke Dunia Perhotelan
Tahun 2004 menjadi titik balik. Sally melamar ke beberapa perusahaan, dan akhirnya diterima di hotel.
“Sebenarnya bapak saya orang hotel juga, tapi kami nggak pernah ngobrol soal perhotelan. Saya murni masuk dengan usaha sendiri,” katanya.

Ia mulai dari bawah, sebagai telephone operator di Twin Plaza Hotel. Dari situ, perlahan ia naik jadi resepsionis, lalu sales. Namun, dunia sales ternyata tidak cocok.
“Saya nggak kuat di jalan. Sales call ke Pulogadung panas-dingin, badan saya nggak sanggup,” kenangnya.
Sally pun pindah ke Hotel Borobudur, kembali ke front office. Dari sanalah kariernya mulai menanjak: guest relation, duty manager, front office manager, operation manager, executive assistant manager, hingga akhirnya dipercaya menjadi General Manager (GM).
“Prosesnya panjang. Dari 2004 sampai sekarang sudah 21 tahun saya di dunia hotel,” ujarnya.
Filosofi Layanan dari Hati
Sally dikenal cerewet. “Saya cerewet banget,” ia tertawa. Ia mengaku melakukan demikian terhadap karyawannya karena untuk antisipasi sebelum dikomplain tamu.
“Tapi itu karena saya harus mewakili tamu. Sebelum tamu komplain, saya duluan yang komentar.”
Baginya, keberhasilan hotel bukan hanya soal review bagus atau okupansi tinggi, tapi servis yang tulus dari hati. Ia memberi contoh sederhana: “Kalau nasi goreng dihias timun, lalu satu irisan jatuh, jangan diambil pakai tangan. Potong yang baru. Kecil, tapi menyangkut safety dan kepercayaan tamu.”
Cinta Batik Sejak Kecil
Di luar pekerjaan, Sally punya kegemaran yang sudah mendarah daging: batik. Ia lahir dari keluarga Jawa-Sunda, terbiasa melihat ibunya dan neneknya berbusana kebaya dengan kain batik. “Nenek saya sampai akhir hayatnya masih pakai batik setiap hari. Jadi saya terbiasa sejak kecil,” kenangnya.

Ia mengoleksi berbagai kain, dari batik tulis indigo hingga songket Palembang. Batik baginya bukan sekadar pakaian, tapi warisan budaya.
“Membuat batik itu nggak sebentar. Ada proses panjang, penuh ketelitian, sama seperti hidup,” ujarnya.
Ia pernah membeli batik yang awalnya ragu buat membelinya karena harganya. Tetapi batik itu seperti ingin dimiliknya dan akhirnya terbeli.
“Awalnya ragu, kok kayaknya lumayan ya harganya. Tapi begitu lihat warna birunya, saya langsung jatuh cinta,” katanya sambil tertawa.
Proses Hidup Seperti Batik
Bagi Sally, perjalanan hidupnya—dari mahasiswa seni, guru honorer, lalu berkarier di hotel hingga jadi GM—ibarat membatik. Setiap fase adalah tarikan garis, setiap tantangan adalah titik lilin yang menguji kesabaran.
“Untuk jadi sesuatu yang bagus itu nggak mungkin sebentar. Sama seperti batik, semua butuh proses, ketelitian, dan kesabaran. Hasil akhirnya mungkin tidak sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi kalau kita tekun, kita bisa sampai ke titik terbaik kita,” ungkapnya.
Kini, sebagai GM di Bandung, Sally menghadapi tantangan baru: membangun brand hotel, menghidupkan bisnis pasca pandemi, hingga meramu strategi marketing. Namun ia selalu kembali pada filosofi hidupnya: persisten, atentif, melayani dengan hati, dan berani mencoba hal baru.
“Allah itu kasih banyak jalan,” tutupnya. “Tinggal kita berani atau tidak untuk melangkah.”

