Di tengah riuh rendah perdebatan antara tradisi dan teknologi, pemilik Batik Komar, Komarudin Kudiya, berusaha memperkenalkan cara baru dan tak biasa dalam dunia batik, yakni Batik AI.
“Saya sendiri baru belajar AI, tapi saya belajar serius.”

Kisahnya dimulai bukan dari galeri, melainkan dari kebutuhan akademik. “Awalnya saya cuma minta AI bikin ringkasan buku 2.000 kata buat jurnal,” kenangnya. Tapi dari situlah ia menemukan sesuatu yang bisa menginovasi batik.
Kemampuan AI untuk membaca, menyusun, bahkan menggubah ulang visual yang kompleks, dapat dipergunakan lebih dari sekadar alat bantu membaca. AI jadi medium untuk bereksperimen. Batik pun menjadi medan percobaannya dan menghasilkan kemudahan yang luar biasa dalam mendesain batik.
Batik dan Mesin: Siapa yang Menjahit Makna?
Komarudin Kudiya sedang “melawan” apa yang ia sebut sebagai “kemandekan kreativitas”.
“Generasi sekarang belajar batik itu cuma ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Tidak ada literasi, tidak ada studi komposisi, tidak ada pemahaman teori visual,” ujarnya tajam.
Maka ketika AI—dengan kekuatan ‘prompt’ dan pemetaan visualnya—memberi celah eksplorasi tak terbatas, Pak Komar mencoba masuk dengan cara programmer: struktur, sintaks, algoritma.
“Prompt itu bukan cuma perintah. Harus tahu semantik, estetika, struktur batik, bahkan tekstur visual. Kalau tidak, hasilnya absurd.”
“Merusak Tradisi!” — Serangan yang Tak Pernah Usai
“Saya diserang. Dulu fractal, sekarang AI. Dibilang saya merusak,” kata Pak Komar, menyebut kembali insiden lawas ketika ia memperkenalkan batik berbasis rumus matematika fractal dan sempat digeruduk satu bus penuh oleh kelompok pembatik yang ingin meminta pertanggungjawabannya.

Bagi mereka, batik adalah kerja tangan, bukan kerja mesin. “Tapi saya menjelaskan alasan saya,” sergahnya, “bahwa batik selalu punya ruang untuk gubahan. Yang saya lakukan bukan menghilangkan proses batik. Saya masih pakai lilin, masih canting. Yang saya ganti hanya fase desain—itu pun dengan struktur berpikir, bukan asal jadi.”
Perbandingan yang Mencengangkan: 2 Menit vs 3 Bulan
Pak Komar tidak menutupi fakta bahwa AI memang mempercepat fase desain. “Saya bisa buat visual batik dalam 2 menit dengan AI. Tapi untuk menjadikannya batik sesungguhnya? Tetap butuh waktu 3 bulan.” Ia bahkan membuat hitung-hitungannya: kecepatan desain AI bisa 67.000 kali lebih cepat dari kerja tangan. Tapi, tambahnya, “Cepat tidak selalu berarti dangkal. Asal tahu ilmunya.”
Mendidik Mesin, Memanusiakan Desain
Apa yang membuat batik AI berbeda adalah siapa yang duduk di balik keyboard.
“Prompter bukan hanya pengguna. Dia harus tahu sejarah batik, logika visual, mapping motif, hingga semantik budaya.” Menurutnya, AI hanyalah alat, dan yang membedakan adalah kapasitas kultural si pengguna.
Ia bahkan menyusun diagram alur pembuatan desain visual batik AI, lengkap dengan input sejarah, gaya, pola modular, hingga karakter tekstur (cat air, metallic, kontemporer, seamless, dll).
“Tanpa itu semua, ya sama aja kayak nyuruh AI gambar kucing pakai batik. Nggak nyambung.”
Yang Menolak, Belum Pernah Mencoba
Pak Komar sadar betul ia akan terus dikritik. Tapi ia juga yakin banyak dari mereka yang menolak, belum pernah mencoba.
“Kalau belum pernah bikin prompt, belum pernah duduk di depan mesin, jangan bilang batik AI itu merusak. Belajar dulu. Baca dulu. Baru bicara.”
Sikap terbukanya tidak menafikan nilai tradisi. Ia justru berharap generasi muda bisa menjadikan AI sebagai alat untuk menggali warisan, bukan meninggalkannya.
“Kalau saya saja yang dulunya programmer, bisa belajar memahami filosofi kawung lewat prompt, masa anak-anak sekarang yang digital native nggak bisa?”
Bukan Soal Alat, Tapi Soal Arah
Komarudin Kudita tahu dia bukan dewa desain. Tapi ia percaya bahwa peradaban berubah, dan batik pun harus ikut berkembang tanpa meninggalkan akarnya.
“Yang saya lawan itu bukan budaya. Tapi kemalasan berpikir. AI itu bukan shortcut. Dia cuma alat untuk mengembangkan imajinasi. Tapi arah dan maknanya, tetap manusia yang tentukan.”
Apakah batik AI akan jadi jembatan antara tradisi dan teknologi? Atau justru jadi palu pemecah harmoni budaya? Jawabannya belum selesai. Tapi satu hal jelas: perdebatan ini penting. Karena dari percakapan yang panas, biasanya muncul pemahaman yang lebih tajam.
Melalui eksperimen desain batik berbasis AI, Komarudin Kudiya melakukan eksperimen sekaligus inovasi batik dengan pendekatan yang menekankan literasi visual, struktur budaya, dan pemahaman mendalam akan sejarah batik. Ia memanfaatkan AI sebagai alat baru yang jika digunakan dengan pengetahuan dan sensitivitas budaya, justru bisa memperkaya warisan bangsa.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

