Bandung – Upaya melestarikan batik memasuki babak baru dengan sentuhan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Rabu (13/8), di Swiss-BelResort Dago Bandung, perajin batik senior Komarudin Kudiya bersama Prof. Kasiyan meluncurkan buku “Revolusi Batik Artificial Intelligence”. Acara dihadiri sejumlah tokoh budaya, akademisi, dan perwakilan pemerintah, termasuk Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Indra Sofyan dan Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Ramania Wurandari, Ketua P3BC Heri Kismo Rusimo.

Buku tersebut memaparkan integrasi teknologi AI dalam proses perancangan batik tanpa menghilangkan nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya. “Batik secara culture-nya, nilai-nilainya tetap ada, tapi bagaimana membuatnya mengikuti pertimbangan zaman,” ujar Komarudin. Ia menegaskan, AI hanya menjadi alat bantu yang mempercepat proses desain, sementara sentuhan akhir tetap dikerjakan para pembatik berpengalaman.
Prof. Kasiyan menambahkan, penggunaan AI dalam batik perlu diletakkan dalam kerangka praksis, yakni perpaduan antara aksi dan refleksi. “Jangan sampai dimensi ruhani dan nilai budaya hilang begitu saja,” ujarnya.
Selain membahas aspek teknis pembuatan batik dengan AI, peluncuran buku ini juga menjadi momentum pelindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) karya para pembatik di Jawa Barat. Komarudin menyampaikan, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk mendaftarkan karya pembatik agar tidak diakui pihak lain, termasuk dari luar negeri.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Indra Sofyan, mengapresiasi keberanian Komarudin mengadopsi teknologi yang sempat menuai pro-kontra. Ia berharap terobosan ini mampu menarik minat generasi muda, khususnya Gen Z, agar mau melanjutkan warisan batik. “Kalau generasi muda meninggalkan warisan luar biasa ini, apa lagi yang akan kita banggakan?” katanya.
Buku Revolusi Batik AI rencananya akan didistribusikan ke perguruan tinggi yang memiliki jurusan kriya, fesyen, dan desain. Komaruddin juga mengemas inovasi ini menjadi bagian paket wisata budaya ke Kampung Batik AI di Bandung, yang diharapkan menjadi destinasi unggulan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Peluncuran buku diakhiri dengan penyerahan simbolis buku kepada para tamu kehormatan dan demo proses desain batik menggunakan AI. “Mudah-mudahan ini menjadi awal langkah besar, bukan akhir,” tutup Indra Sofyan.

