Di balik geliat batik Subang yang perlahan mulai dikenal publik, ada satu sosok perempuan yang perannya jarang disebut, tetapi selalu hadir dalam setiap proses penting: Ratna Bambang Heryanto. Empat periode menjabat sebagai Ketua PHRI Subang, pemilik rumah makan Balai Desa dan pengelola hotel ini, Ratna justru menemukan ruang paling intimnya bukan pada bisnis kuliner atau perhotelan, melainkan pada sehelai kain batik.
Pertemuan Tak Terduga pada 2012
Perjalanan Ratna dengan batik subang dimulai lebih dari satu dekade lalu, ketika ia bergabung dengan organisasi wanita yang dipimpin Bu Sendy Ramania Wurandari, sosok yang saat itu tengah mendorong munculnya ciri khas batik untuk setiap kabupaten di Jawa Barat karena kedudukannya sebagai Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat.
Di Subang, batik belum menjadi apa-apa: belum ada geliat pasar, belum dirasakan potensinya, belum dianggap sebagai identitas. Tetapi Ratnaโyang saat itu baru menjadi Ketua PHRIโmerasa terpanggil.
โSelain memang suka batik, saya tergelitik. Subang harus punya ciri khas,โ kenangnya.
Dari situ, Ratna mulai masuk: belajar, mencari pengrajin, menggerakkan komunitas kecil, sampai akhirnya lahir motif-motif awal batik Subangโyang kini dikenal luas, terutama motif nanas sebagai ikon daerah.
Menghidupkan Batik Dengan Kekuatan Jejaring
Jabatan Ratna di PHRI membuatnya selalu berada di tengah banyak pertemuan. Di situlah ia menggunakan kekuatan terbesarnya: lobi.
Ratna menekan pemerintah daerah, dinas-dinas, hingga organisasi perempuan agar mewajibkan penggunaan batik Subang. Ketika ada mutasi pejabat? Semua harus pakai batik Subang. Saat ada pameran? Selalu ada stan batik. Ketika PKK, Dharma Wanita, hingga instansi publik membuat kegiatan? Batik Subang ikut masuk.
โKalau nggak pemerintahnya yang gencar, berat. Tapi begitu pemerintah pakai, dukungannya kerasa banget,โ kata Ratna.
Dan benarโsetiap kali kebijakan penggunaan batik daerah ditegakkan, pesanan membludak. Kain-kain yang sudah lama menunggu pembeli akhirnya bergerak.
Namun sektor swasta?
Ratna terus terang: masih tertinggal.
Bank-bank, perusahaan, lembaga non-pemerintah belum mewajibkan seragam batik daerah. Padahal, menurutnya, dampaknya bisa berkali lipat untuk pengrajin.
Menjaga Pengrajin Agar Tidak Punah
Ratna tahu betul: mempertahankan pengrajin batik di Subang bukan hal mudah.
Permintaan tidak stabil. Banyak pengrajin menyerah. Beberapa menerima tawaran kerja di luar daerah, bahkan ada yang akhirnya menjual peralatan mereka kepada Ratna.
โSaya mah bantu sebisanya. Kalau mereka butuh, saya modalin kainnya, modalin alatnya. Tinggal mereka kerja, saya bayar jasanya,โ ujarnya pelan.
Ia pernah membina pengrajin yang bekerja sama dengan pesantren, berharap lahir kampung batik baru. Ia juga mendorong universitas, komunitas kreatif, hingga desa-desa pesisir Subang untuk membuat program batik. Beberapa berhasil, beberapa tidak.
Namun satu hal pasti: Ratna tidak berhenti.
โKalau kita nggak ada, kayaknya batik Subang juga nggak ada,โ katanya dengan khawatir.
Idealisme yang Jarang Dimiliki Pengusaha
Dengan latar belakang bisnis kuliner dan perhotelan, Ratna tahu betul bagaimana cara menghitung untung rugi. Tetapi batik? Batik adalah ruang yang berbeda. Banyak kali ia tidak mendapat keuntungan besar, atau bahkan nombok. Tetapi Ratna tetap jalan.
โSenang aja,โ katanya, sambil tertawa kecil.
Hanya itu jawabannyaโtetapi jawaban yang sederhana itu justru menghimpun kekuatan terbesar.
Baginya, batik bukan sekadar komoditas. Batik adalah tugas budaya.
โBatik itu kebudayaan yang harus kita jaga. Kalau bukan kita, siapa lagi?โ
Membangun Ekosistem dari Nol
Dari 2012 hingga kini, Ratna telah:
- Mengadakan dua kali lomba desain motif besar (2012 dan 2019)
- Membina pengrajin Subang dari berbagai desa
- Menghidupkan gerakan penggunaan batik di sekolah, dinas, dan organisasi
- Menjadi juri di berbagai lomba batik
- Mendorong kampung batik Palasari dan kawasan pesisir utara
- Melibatkan batik dalam kegiatan PHRI dan UMKM
- Membuat galeri batik yang terintegrasi dengan pusat oleh-oleh dan rumah makan
Lokasinya strategisโdekat pusat kota, dekat dinas-dinasโdan Ratna menjadikannya titik di mana wisatawan bisa melihat dan membeli batik Subang.
โYang penting konsisten,โ katanya.
Harapan yang Belum Padam
Ratna masih menunggu sektor swasta untuk ikut serta. Ia berharap suatu hari bank-bank di Subang mewajibkan seragam batik daerah. Ia berharap kampung batik bisa benar-benar tumbuh. Ia berharap lebih banyak pengrajin baru lahir.
Dan di tengah semua harapan itu, Ratna tetap tidak ingin menjadi single fighterโmeski ia tidak mau disebut sendirian. Ada komunitas, ada pengrajin, ada teman-teman dekatnya. Tetapi semua orang tahu: tanpa Ratna, perjalanan batik Subang tidak akan pernah sejauh ini.
Ratna Bambang Heryanto mungkin pengusaha kuliner dan perhotelan, mungkin pula Ketua PHRI empat periode yang sibuk. Namun di balik itu semua, ia berusaha menjaga batik Subang tetap hidupโyang bekerja bukan hanya dengan modal, tetapi dengan hati, keberanian, dan cinta yang tidak pernah habis.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
Artikel ini didukung oleh:

PT Arunika Jaya Persada adalah perusahaan layanan terpadu yang terus tumbuh dengan mengedepankan kualitas, profesionalisme, dan nilai kerja yang jujur serta kolaboratif. Perusahaan ini bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari telekomunikasiโmeliputi instalasi, commissioning, hingga maintenanceโhingga konstruksi bangunan yang mencakup perencanaan, desain, implementasi, dan pemeliharaan.
Sebagai penyedia solusi teknologi, PT Arunika Jaya Persada menawarkan layanan IT end-to-end yang mencakup konektivitas (Internet, IP-VPN, VSAT-IP), pengembangan IoT (Smart School, Smart City, Smart Building, Smart Home), serta infrastruktur IT seperti data center, cloud, managed services, keamanan sistem, hingga pengembangan web dan aplikasi mobile.
Di sektor kesehatan, perusahaan ini juga menyediakan perangkat medis dan nonmedis untuk mendukung peningkatan layanan kesehatan modern.
Dengan komitmen pada kerja cerdas, sikap positif, dan kerja tim solid, PT Arunika Jaya Persada hadir sebagai mitra terpercaya dalam menghadirkan solusi terintegrasi untuk kebutuhan telekomunikasi, teknologi, konstruksi, dan kesehatan.

