Oleh: Komarudin Kudiya
Di balik perjalanan budaya, selalu ada momen-momen kecil yang mengubah cara pandang seseorang terhadap tradisi yang ia tekuni. Begitu pula yang dialami Komarudin Kudiya ketika menghadiri WEFT โ World Eco Fiber and Textiles 2025 di Kuching, Serawak, Malaysia. Undangan resmi itu bukan sekadar agenda internasional, melainkan gerbang menuju pengalaman baruโtentang bagaimana batik Indonesia berdiri di tengah dialog global tekstil tradisional.
WEFT 2025 yang berlangsung pada 14โ16 November mempertemukan pelaku serat alam, perajin batik, akademisi, dan pecinta budaya dari 24 negara. Bagi Komarudin, forum ini menjadi kesempatan penting untuk membangun jejaring baru dan membaca arah masa depan batik Indonesia di panggung dunia.
Pertemuan Tak Terduga di Terminal 2
Pagi itu di Terminal 2, Gate 4, Komarudin tak menyangka bertemu sahabat lamanya, Dudung Aliesyahbana, seorang perajin batik yang ia kenal sejak lama. Dudung tak sendirian; dua putranya turut dalam perjalanan budaya ke Kuching. Pertemuan spontan itu seketika mengubah suasana. Dari perjalanan seorang diri, kini menjadi perjalanan bersama, penuh diskusi panjang tentang dunia batik dan masa depannya.
Selama penerbangan, obrolan mengalir tanpa henti: dari perkembangan batik mutakhir, pasar global, hingga teknologi pewarna ramah lingkungan. Percakapan itu menjadi pengingat bahwa ekosistem batik Indonesia sangat kayaโdan menuntut sinergi tanpa henti.


Mencari Rasa di Kota Kuching
Setelah tiba di Kuching, mereka memilih makan malam di sebuah restoran Pakistan yang direkomendasikan warga lokal. Suasana hangat, aroma rempah, dan musik lembut menjadi pembuka perjalanan kultural mereka. Di meja makan, diskusi kembali mengerucut pada batik: tantangan, cita-cita, dan urgensi inovasi. Malam itu, percakapan sederhana terasa seperti pintu pembuka safari intelektual yang menunggu di hari-hari berikutnya.
Museum BorneoโRuang Belajar Tanpa Batas
Agenda berikutnya membawa mereka ke Museum Borneo, salah satu pusat budaya terpenting di Serawak. Dari luar, bangunan modern itu sudah menunjukkan keseriusan pemerintah dalam merawat warisan budaya. Namun kekaguman sebenarnya muncul ketika mereka memasuki ruang-ruang kuratorialnya.
Empat lantai museum itu menghadirkan koleksi yang tertata modern: rumah adat, pakaian tradisional, alat musik, perangkat ritual, artefak perang, hingga narasi kolonial. Yang paling mengesankan adalah cara penyajian museum: edukatif, tertib, dan menyentuh sisi emosional.
Selama dua jam, Komarudin berjalan perlahan dari ruang ke ruang. Setiap artefak seperti berbicaraโtentang jati diri, nilai hidup, dan kearifan lokal masyarakat Borneo. Ia teringat pesan penting Bung Karno: โJangan sekali-kali meninggalkan sejarah.โ Museum ini seperti bukti nyata betapa seriusnya sebuah bangsa menjaga memorinya.
Komarudin membayangkan: bagaimana jika Indonesia, dengan ratusan suku, memiliki museum modern di setiap provinsi? Betapa kayanya pembelajaran generasi muda tentang budaya nenek moyang.
Usai mengelilingi museum, mereka beristirahat di restoran dalam area museum. Meski makanannya enak, rombongan memutuskan mencari hidangan lain yang lebih sesuai selera. Siang itu berakhir di meja makan yang lebih pas, sebelum akhirnya kembali ke hotel Margherita untuk beristirahat dan mempersiapkan perjalanan malam.
TopSpot SeafoodโDi Mana Rasa dan Pikiran Menyatu
Saat magrib, mereka berjalan kaki menuju TopSpot Seafood, hanya 150 meter dari hotel. Tempat itu ramai, penuh lampu, suara pedagang, dan aroma seafood yang menggoda. Mereka memesan ikan kakap bakar, cumi telur asin, pakcoy saus tiram, dan mixed vegetables.
Di tengah hidangan segar itu, diskusi penting kembali mencuat: sejauh apa manfaat perjalanan internasional ini? Apakah jejaring global benar-benar berdampak pada masa depan batik?
Jawabannya lahir dari pemikiran bersama: perjalanan ini adalah investasi perspektif. Hasilnya mungkin tidak langsung berupa transaksi, tetapi berupa wawasan, kolaborasi, kesadaran budaya, dan posisi batik Indonesia di mata dunia.
Pelajaran dari 24 Negara
WEFT mempertemukan peserta dari 24 negara: dari Amerika sampai Asia Selatan, Afrika, hingga Eropa Timur. Mereka datang membawa filosofi kain masing-masing. Dalam keragaman itu, Komarudin menemukan sebuah pesan kuat: di atas langit, selalu ada langit.
Banyak negara telah menata sistem pelestarian budaya dengan manajemen yang rapi dan modern. Dari sinilah lahir kesadaran baru: Indonesia harus terus belajar.
Belajar dari cara negara lain merawat budaya.
Belajar dari manajemen komunitas.
Belajar dari strategi menyampaikan tradisi kepada generasi muda.
Belajar dari cara mereka membawa warisan leluhur ke panggung global.
Karena budaya hanya bisa tumbuh ketika dirawat, dikaji, dan dibagikan.

Safari Belajar yang Mengubah Cara Pandang
Perjalanan singkat ke Kuching bukan sekadar menghadiri forum internasional. Bagi Komarudin, ini adalah safari belajar yang memperluas perspektif tentang pelestarian budaya. WEFT 2025, museum Borneo, dan diskusi panjang bersama Mas Dudung membuka ruang refleksi baru: betapa pentingnya Indonesia bergerak lebih terstruktur dalam merawat batik sebagai mahkota budaya bangsa.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa batik tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan nasional. Ia harus menjadi bagian dari percakapan global tentang warisan budaya dunia. Dan untuk itu, kuncinya adalah satu: terus belajar dari dunia luar.
Komarudin Kudiya hadir sebagai delegasi WEFT dengan dukungan Yayasan Batik Indonesia (YBI). Sebagai Ketua Dewan Pakar YBI, ia tidak hanya tampil sebagai pembicara, tetapi juga sebagai duta batik yang mempromosikan kekayaan batik Indonesia di panggung dunia.

