Dalam webinar yang digelar Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) beberapa tahun silam, ada cerita berlatar sejarah tentang kehadiran motif batik truntum. Cerita itu dicetuskan oleh Dr. Farid Abdullah, M.Sn. Ia membawa kembali ke abad ke-18—ke masa ketika Pulau Jawa sedang berubah, terbelah oleh Perjanjian Giyanti, dan Surakarta berada dalam tekanan konflik. Di tengah gejolak itulah kisah Kanjeng Ratu Kencono, atau Roro Beruk muda, menemukan jejaknya.
Menurut Dr. Farid, Ratu Kencono bukan berasal dari keluarga bangsawan. Ia tumbuh di lingkungan sederhana di Desa Coyudan, menjual arang, mendampingi ayahnya yang bertugas melantunkan macapat di Keraton Surakarta. Karena sering ikut ke keraton, ia kemudian mendapat kesempatan menjadi penari bedhaya—dan pada akhirnya menjadi selir Pakubuwono III yang dinobatkan oleh VOC saat usianya baru 17 tahun.
Namun masa itu bukan masa yang tenang. Keraton Surakarta terus digempur Raden Mas Said; tekanan politik dan ancaman perang membuat perhatian sang raja terhadap Ratu Beruk meredup. Dalam kesedihan dan kesendiriannya, Ratu Beruk memandang bunga tanjung yang gugur dan bintang-bintang malam, lalu mulai membatik. Dengan doa yang berulang, ketekunan, dan air mata, ia menciptakan sehelai kain yang belum diberi nama—kain yang kelak mengubah kisah cintanya.
Ketika Pakubuwono III menemukan Ratu Beruk yang lama tak terlihat, ia melihat kain itu dan menamainya truntum, yang berarti “tumbuh kembali.” Doa yang tersulam itu benar-benar menumbuhkan kembali kasih sang raja, hingga Ratu Beruk diangkat menjadi Kanjeng Gusti Kencono pada 1762.
Dr. Farid menjelaskan bahwa motif truntum bukan sekadar repetisi titik dan bunga tanjung; ia adalah simbol sinar dalam kegelapan, cinta yang kembali tumbuh, dan doa yang terus terucap. Motif ini berkembang dari masa ke masa, hingga muncul varian seperti truntum sawat lar dan truntum kukilo kasmaran, tetap membawa makna kerukunan, keteduhan, dan ajaran cinta kasih dalam budaya Jawa.
Dalam penutupnya, Dr. Farid mencerminkan bagaimana kisah truntum adalah bentuk transformasi rasa—dari tekanan, menjadi cinta; dari kesedihan, menjadi keindahan. Nilai itu, katanya, tetap relevan hingga era masyarakat 5.0, ketika manusia dituntut menjaga hubungan, merawat cinta, serta menghidupkan kembali nilai-nilai kebaikan yang diwariskan leluhur Jawa.

