https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Quiet Quitting: Fenomena Diam-Diam Tapi Mengubah Cara Kita Bekerja

Quiet quitting: karyawan bekerja sesuai jobdesk tanpa ekstra loyalitas. Fenomena ini muncul karena burnout, kurang apresiasi, dan budaya kerja buruk.

Di tengah perubahan dunia kerja pascapandemi dan meningkatnya kesadaran akan work-life balance, muncul fenomena yang menarik perhatian para pemimpin perusahaan: quiet quitting.

Quiet quitting: karyawan bekerja sesuai jobdesk tanpa ekstra loyalitas. Fenomena ini muncul karena burnout, kurang apresiasi, dan budaya kerja buruk.
Quiet quitting: karyawan bekerja sesuai jobdesk tanpa ekstra loyalitas. Fenomena ini muncul karena burnout, kurang apresiasi, dan budaya kerja buruk.

Istilah ini bukan berarti karyawan benar-benar berhenti bekerja, melainkan mereka tetap bekerja sesuai jobdesk—tanpa tambahan loyalitas, lembur, atau inisiatif ekstra. Dalam arti lain, mereka secara diam-diam “berhenti” dari ekspektasi kerja di luar kontrak formal.

Apa Penyebab Quiet Quitting?

  1. Burnout dan Kelelahan Mental
    Tekanan kerja berlebih tanpa kompensasi yang sepadan membuat banyak karyawan menarik batas yang lebih tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
  2. Kurangnya Apresiasi
    Ketika upaya ekstra tidak dihargai secara moral maupun finansial, semangat untuk “lebih dari yang diminta” perlahan hilang.
  3. Kepemimpinan dan Budaya Organisasi
    Manajemen yang terlalu mikro, kurang transparan, atau tak memberikan ruang berkembang kerap menjadi pemicu.

Dampak terhadap Perusahaan

  • Produktivitas Stabil, Tapi Tidak Berkembang
    Karyawan tetap menyelesaikan tugas—namun tanpa semangat inovasi atau kepedulian jangka panjang terhadap perusahaan.
  • Turunnya Keterlibatan Karyawan (Employee Engagement)
    Lingkungan kerja terasa datar, tanpa energi kolektif atau semangat kolaboratif.
  • Risiko Turnover Diam-Diam
    Quiet quitting sering menjadi “pra-gejala” dari resign yang sebenarnya.

Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

  1. Bangun Budaya Kerja yang Inklusif dan Sehat
    Dengarkan aspirasi karyawan, perjelas ekspektasi, dan hargai keseimbangan hidup mereka.
  2. Perkuat Sistem Apresiasi
    Pengakuan tidak harus selalu berupa uang—bisa dalam bentuk fleksibilitas kerja, promosi, atau penghargaan sederhana.
  3. Ukur Keterlibatan, Bukan Sekadar Output
    Gunakan survei kepuasan, 1-on-1 coaching, atau sesi refleksi rutin untuk mengetahui suasana batin tim.

Quiet quitting bukan tentang malas, melainkan tentang batas. Fenomena ini menuntut kita untuk mengelola ulang ekspektasi, merawat komunikasi, dan menciptakan sistem kerja yang adil dan manusiawi. Karena di era kerja pascapandemi, loyalitas tak bisa dipaksa—ia harus dibangun.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Solopreneur makin relevan di era digital: kerja mandiri, fleksibel, berbasis teknologi dengan tantangan manajemen dan peluang tanpa batas.

Solopreneurs di Era Digital: Peluang, Tantangan, dan Strategi Bertahan

Membatik bukan sekadar seni, tapi guru kehidupan: mengajarkan kesabaran, ketekunan, keberanian, dan makna di balik setiap proses.

Belajar Kehidupan dari Membatik: Titik, Tarikan, dan Kesabaran yang Menjadi Guru