https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Alasan Menggunakan Internet 2026: Komunikasi, Hiburan, dan Informasi Masih Jadi Pendorong Utama

Survei APJII 2026 mengungkap alasan masyarakat menggunakan internet, hambatan akses, serta pola penggunaan digital Indonesia.

Internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi sebagian besar warga, internet bukan lagi sekadar sarana komunikasi, melainkan infrastruktur yang mendukung aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga layanan publik. Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang dilakukan APJII menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan internet sekaligus mengungkap alasan sebagian warga masih belum terkoneksi.

Temuan ini memberikan gambaran menarik mengenai motivasi penggunaan internet, hambatan yang masih dihadapi masyarakat, serta perubahan perilaku digital yang semakin mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Alasan Terkoneksi Internet: Komunikasi Masih Menjadi Raja

Di tengah berkembangnya berbagai layanan digital, komunikasi dan jejaring sosial tetap menjadi alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan internet. Sebanyak 19,9 persen responden menyatakan mereka terkoneksi internet untuk mengakses media sosial, aplikasi pesan instan, serta layanan surat elektronik.

Menariknya, selisih dengan kategori lain sangat tipis. Aktivitas hiburan seperti menonton video streaming, mendengarkan musik, podcast, maupun bermain gim daring menjadi alasan bagi 19,7 persen pengguna. Sementara pencarian informasi dan berita menempati posisi ketiga dengan 19,6 persen.

Di posisi berikutnya terdapat transaksi e-commerce dan layanan jasa digital sebesar 18,7 persen. Aktivitas ini mencakup belanja online, pemesanan transportasi, makanan, serta berbagai layanan berbasis aplikasi.

Internet juga semakin penting untuk pendidikan dan pekerjaan yang menyumbang 10,9 persen alasan penggunaan internet. Sementara layanan keuangan digital seperti mobile banking, fintech, dan pembayaran elektronik mencapai 5,8 persen. Adapun akses layanan publik dan pemerintahan menyumbang 4,5 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa internet kini tidak lagi didominasi satu fungsi tertentu. Masyarakat memanfaatkannya secara multidimensi, mulai dari komunikasi hingga aktivitas ekonomi.

Alasan Tidak Terkoneksi Internet

Meskipun tingkat penetrasi internet nasional telah mencapai lebih dari 81 persen, masih terdapat sebagian masyarakat yang belum menikmati akses internet. Hambatan terbesar ternyata bukan jaringan, melainkan kepemilikan perangkat. Sebanyak 34 persen responden yang belum terkoneksi menyatakan tidak memiliki komputer atau gawai yang dapat terhubung ke internet.

Faktor kedua adalah keterbatasan kemampuan digital. Sebanyak 31,5 persen responden mengaku tidak mengetahui cara menggunakan perangkat yang dapat terkoneksi internet. Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi digital masih menjadi tantangan penting dalam transformasi digital Indonesia.

Selain itu, 17,2 persen responden menyebut harga kuota internet masih terlalu mahal. Sebanyak 12,9 persen lainnya merasa tidak memperoleh manfaat yang cukup dari penggunaan internet. Sementara keterbatasan fisik atau disabilitas menjadi alasan bagi 1,3 persen responden.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga kemampuan ekonomi dan literasi masyarakat.

Alasan Tidak Terkoneksi Internet Berdasarkan Gender

Jika dilihat dari perspektif gender, terdapat perbedaan pola hambatan antara laki-laki dan perempuan. Pada kelompok laki-laki, alasan terbesar tetap karena tidak memiliki perangkat yang mendukung akses internet, yaitu sebesar 33,6 persen. Angka ini hampir sama dengan perempuan yang mencapai 34,5 persen.

Perbedaan mencolok terlihat pada aspek literasi digital. Sebanyak 37 persen perempuan yang belum terkoneksi internet mengaku tidak mengetahui cara menggunakan perangkat yang terhubung internet, sedangkan pada laki-laki angkanya 26,2 persen.

Sebaliknya, hambatan biaya kuota lebih banyak dirasakan laki-laki. Sebanyak 20,2 persen laki-laki menyebut harga kuota terlalu mahal, sedangkan perempuan hanya 14,1 persen.

Sementara alasan tidak melihat manfaat internet tercatat 16,4 persen pada laki-laki dan 9,3 persen pada perempuan. Data ini menunjukkan bahwa perempuan cenderung menghadapi hambatan keterampilan digital, sedangkan laki-laki lebih banyak mempertimbangkan faktor biaya dan manfaat penggunaan internet.

Alasan Tidak Terkoneksi Internet Berdasarkan Generasi

Perbedaan generasi juga memengaruhi alasan seseorang tidak menggunakan internet. Kelompok usia lanjut umumnya menghadapi kendala kemampuan menggunakan perangkat digital. Sementara generasi yang lebih muda cenderung terkendala faktor ekonomi atau ketersediaan perangkat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesenjangan digital di Indonesia bukan hanya persoalan wilayah, tetapi juga terkait perbedaan usia. Generasi yang lahir sebelum era digital membutuhkan dukungan literasi yang lebih intensif dibandingkan kelompok usia muda yang telah terbiasa menggunakan teknologi sejak dini.

Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026

Selain mengungkap alasan penggunaan internet, survei APJII juga menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia berinteraksi dengan internet dalam kehidupan sehari-hari.

Pola penggunaan internet menunjukkan bahwa konektivitas telah menjadi bagian rutin aktivitas harian. Mayoritas pengguna mengakses internet setiap hari dengan durasi yang relatif panjang. Hal ini memperlihatkan bahwa internet telah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat digital Indonesia.

Cara Mengakses Internet

Akses internet di Indonesia semakin didominasi oleh koneksi bergerak atau mobile. Smartphone menjadi pintu utama masyarakat memasuki dunia digital. Perangkat ini memungkinkan pengguna melakukan berbagai aktivitas mulai dari komunikasi, hiburan, transaksi keuangan, hingga pekerjaan tanpa harus bergantung pada komputer.

Kemudahan penggunaan smartphone, harga yang semakin terjangkau, serta tersedianya jaringan seluler yang luas membuat perangkat ini menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.

Durasi Mengakses Internet

Durasi penggunaan internet masyarakat Indonesia tergolong tinggi. Sebanyak 43,4 persen responden mengakses internet selama 4–6 jam per hari. Kelompok terbesar berikutnya adalah pengguna dengan durasi 7–10 jam per hari sebesar 35,7 persen.

Pengguna yang menghabiskan waktu lebih dari 10 jam per hari mencapai 14,5 persen. Sementara mereka yang mengakses internet selama 1–3 jam per hari tercatat 33,6 persen dan kurang dari satu jam sebesar 9,2 persen.

Dibandingkan tahun sebelumnya, 12,1 persen responden mengaku durasi penggunaan internet mereka meningkat sekitar 60 hingga 120 menit per hari. Sebanyak 84,6 persen menyatakan durasi penggunaan relatif sama, dan hanya 3,3 persen yang mengalami penurunan.

Temuan ini menunjukkan bahwa internet semakin melekat dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia.

Perangkat untuk Akses Internet

Smartphone masih menjadi perangkat utama untuk mengakses internet. Sebanyak 84,31 persen responden menggunakan smartphone atau telepon genggam sebagai perangkat utama akses internet.

Laptop atau notebook berada di posisi kedua dengan 9,41 persen. Selanjutnya Smart TV dan konsol gim mencapai 3,02 persen, tablet 2,39 persen, serta desktop atau PC sebesar 0,85 persen.

Dominasi smartphone menunjukkan bahwa internet Indonesia berkembang melalui model mobile-first, berbeda dengan banyak negara maju yang lebih dahulu berkembang melalui komputer desktop.

Perangkat yang Digunakan untuk Mengakses Internet Berdasarkan Demografi

Berdasarkan generasi, penggunaan smartphone semakin tinggi pada kelompok usia yang lebih tua. Pre-Boomers tercatat menggunakan smartphone hingga 97,7 persen, Baby Boomers 93,8 persen, Gen X 87,5 persen, Millennial 82,4 persen, dan Gen Z 81,8 persen.

Sebaliknya, penggunaan laptop lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Gen Z menggunakan laptop sebesar 11,4 persen dan Millennial 10,7 persen. Angka ini terus menurun pada kelompok usia yang lebih tua.

Dilihat dari pendidikan, penggunaan laptop meningkat seiring jenjang pendidikan. Kelompok lulusan perguruan tinggi memiliki tingkat penggunaan laptop tertinggi, mencapai 24,7 persen, jauh di atas kelompok berpendidikan SD yang hanya 2,7 persen.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun smartphone tetap mendominasi, perangkat yang digunakan masyarakat untuk mengakses internet sangat dipengaruhi oleh kebutuhan pendidikan, pekerjaan, serta tingkat literasi digital.

Sumber: Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026, APJII.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Penetrasi internet Indonesia 2026 mencapai 81,72%. Simak sebaran pengguna berdasarkan pulau, provinsi, dan demografi.

Penetrasi Pengguna Internet Indonesia 2026: Menembus 235 Juta Pengguna di Tengah Ketimpangan Wilayah