Oleh: Abdul Syukur
Di hadapan saya terbentang sehelai karya berukuran 290 x 115 sentimeter—sebuah hamparan sutra Thai Silk yang hidup oleh goresan batik tulis -prada. Syamsul Huda menamainya Mawar Kupu-Kupu. Pada pandangan pertama, karya ini merekam hubungan lembut antara flora dan fauna, dua unsur alam yang sejak awal cipta didekatkan oleh kebutuhan dan ketergantungan. Mawar menyediakan nektar, kupu-kupu memberi kehidupan kembali melalui penyerbukan. Hubungan mutualisme ini bukan sekadar refleksi ekologi; Syamsul menerjemahkannya sebagai metafora perjalanan manusia.
Dalam karya ini, mawar tidak hanya tumbuh—ia menghidupi. Kupu-kupu tidak hanya menari—ia membawa perubahan. Kesalingterhubungan ini menjelma gambaran siklus kehidupan: manusia yang tumbuh melalui pengalaman, jatuh, bangkit, lalu berubah menjadi sosok yang lebih memahami dirinya. Mawar Kupu-Kupu bukan sekadar karya visual; ia adalah pelajaran tentang menjadi manusia yang bersedia saling membutuhkan dan menjaga keseimbangan.
Syamsul Huda sendiri adalah wujud dari energi kreatif yang tak pernah berhenti bergerak. Bagi dirinya, seni adalah keindahan yang tak dibatasi medium. Ia menyelami berbagai aktivitas seni tanpa ragu, namun tetap menanamkan kesungguhan dalam setiap langkahnya. Jatuh bangun dalam proses tidak pernah memadamkan nyalanya; justru menjadi sumber kesadaran bahwa perjalanan seni tidak lain merupakan metamorfosis yang panjang.
Dalam perjalanannya, Syamsul beruntung berguru pada dua sosok yang menorehkan sejarah besar dalam seni kerajinan dan batik Indonesia: Warwick Purser dan Iwan Tirta. Dari keduanya, ia menyerap filosofi ketelitian, keberanian bereksperimen, dan pentingnya kejujuran teknik. Berbekal memori masa kecil serta jejak para gurunya, Syamsul menjelajah jalan pewarnaan alami dan menghidupkan kembali teknik prada—sebuah teknik yang sempat hilang dari peredaran.
Melalui Rumah Perada Batik, ia tidak hanya berkarya, tetapi menghidupkan tradisi. Revitalisasi teknik prada yang ia lakukan membuka cakrawala baru dalam seni batik kontemporer, bahkan menempatkannya sebagai salah satu trendsetter yang menyulam kembali keindahan klasik ke dalam konteks modern. Karya Mawar Kupu-Kupu menjadi penanda bahwa seni batik masih memiliki ruang luas untuk berkembang, berkolaborasi, dan bercerita.
Dalam dunia yang terus berubah, Syamsul Huda memilih tumbuh bersama perubahan itu—seperti mawar dan kupu-kupu yang saling menjaga untuk tetap hidup. Dan dari sinilah seni menemukan daya hidupnya: dalam keseimbangan, dalam hubungan, dan dalam keberanian untuk terus menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

