in

Kisah Religi Batik Sapuan

Sapuan 1-min
Sapuan

Pada Gelar Batik Nusantara ke-9 yang digelar 24 – 28 Juni 2015 lalu di Jakarta Convention Center, tiga bentangan indah kain dengan gambar mirip lukisan namun dibuat dengan cara dibatik berada di bagian depan ruang pameran. Seorang lelaki berkacamata dengan kumis tebal kadang berjongkok, kadang berbaur dengan pedagang lain, dan sesekali menghampiri calon pembeli yang sudah menyimak lama-lama karya batik buatannya. Gayanya tidak sebagai pedagang, melainkan kurator. Dia lah perajin batik Sapuan itu.

Pak guru kuat ingin membuat batik? Tanya juru gambar tersebut. Saya dibuat bingung. Seperti mengejek saya.

Jika Anda pernah melihat voucher pulsa Indosat dengan gambar motif batik, itu adalah voucher limited edition yang diluncurkan Indosat di peringatan Hari Batik Nasional 2013 silam. Motif-motif batik yang tertera di voucher tersebut adalah milik seorang perajin batik asal Pekalongan, Sapuan.

Profesi utamanya adalah seorang PNS guru IPA di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Paninggaran 2 di daerah Pekalongan. Namun tradisi dan budaya membatik yang kental di wilayahnya tinggal, serta darah dari anak seorang pengusaha tekstil, membujuknya terjun ke batik. Maka sejak 2005 lalu dua profesi pun berusaha dijalani sekaligus.

Pada permulaan langkahnya sebagai pembatik, berbagai referensi didapatnya. Tetapi ia menyukai pengamatan langsung. Ketika harus mencari juru gambar untuk mengintepretasikan ide-idenya, ia mendapat tenaganya tak jauh dari rumahnya. Sapuan mulai brainstorming dengan juru gambarnya tersebut dan terus melakukan observasi terkait tema yang akan dijadikan motif batik. Hingga suatu ketika ia didapuk pertanyaan oleh juru gambarnya tentang kesungguhannya membatik. “Pak guru kuat ingin membuat batik?” Tanya juru gambar tersebut. “Saya dibuat bingung. Seperti mengejek saya,” tambahnya.

Sapuan
Sapuan menemani peminat kain batiknya di Gelar Batik Nusantara 2015.
“Bagi saya batik itu thoriqoh. Banyak jalan menuju pintu-pintu Tuhan. Puncak kebahagiaan tertinggi khan bisa bertemu Tuhan.”

Dirinya makin terkejut ketika juru gambar itu menganalogikan keahlian menggambar batik seperti meminjam tangan Tuhan. Maka chemistry antara keduanya pun terpaut hingga akhir hayat si juru gambar yang kini telah tiada. “Saya masih belum menemukan orang sepertinya. Tetapi saya harus jalan terus,” kenangnya.

Ide yang tercurah darinya harus berhadapan dengan kemampuannya. “Saya nggak jago gambar tapi jago kritik,” sergahnya sambil tersenyum. “Bagi saya batik itu thoriqoh. Banyak jalan menuju pintu-pintu Tuhan. Puncak kebahagiaan tertinggi khan bisa bertemu Tuhan.” Dengan kata lain dirinya ingin menyebutkan bahwa membatik adalah proses menuju jalan yang diridhoi-Nya.

Menggambar sebuah motif batik, punya daya ekspresi yang tak biasa. Sapuan oleh Batikology.org disebut memiliki kekuatan lain yakni kegelisahan yang ditumpahkan pada batiknya. Maka karya batiknya pun tematik atau bercerita. Contoh motif batiknya antara lain Garuda Angkrem, yang mengandung makna lahirnya pemimpin adil bijaksana untuk mengembalikan kejayaan bumi Indonesia. Juga perjalanan Bimasena mencari air kehidupan dan bertemu Dewa Ruci yang dikemas dalam motif batik bertema Menuju Suwung. Atau batik Sumpah Tiga Era yang inspirasinya datang dari peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Dampak Bukan Tujuan

Sapuan sedang memberikan penjelasan tentang karya batiknya kepada tim Batiklopedia.com
Sapuan sedang memberikan penjelasan tentang karya batiknya kepada tim Batiklopedia.com
Batik dari perajin ke pedagang atau pembeli, itu sudah ditandai dengan keridhoan.

Harga kain batik Sapuan tergolong spektakuler, mulai dari jutaan, puluhan juta, hingga ratusan juta. Harga tersebut diterakan berdasarkan lamanya waktu pengerjaan dan tingkat kesulitan yang dihasilkannya. “Bikin batik bagi saya paling lama setahun dua tahun. Jika secara bisnis, harga jual bisa nggak masuk. Tetapi justru batik tersebut lebih lama nyawanya,” sergahnya.

“Artinya jika batik dibuat sempurna atau mendekati sempurna, maka umurnya bisa ratusan tahun. Batik kuno sampai sobek pun dipamerkan di tempat terbaik,” tambahnya.

Komodifikasi batik dalam perdagangan pun mendapat perhatian khusus dari dirinya dalam konsep religi. “Batik dari perajin ke pedagang atau pembeli, itu sudah ditandai dengan keridhoan. Meski ada yang mendapatkan untung besar atau untung kecil, dasar keridhoan itu adalah berkah tersendiri.”

Ada yang bilang bikin batik seperti Pak Sapuan iso ora mangan (bisa nggak makan).

Dikatakan olehnya jika membatik ditujukan untuk mencari uang, maka dirinya mengubah hal tersebut. “Biarlah uang yang mencari batik,” tegasnya. “Jika orang telah suka dan senang, pasti mau bayar. Hakikatnya, orang itu membayar dirinya sendiri.”

Kelayakan atas batik yang dihargai secara nominal adalah hal penting baginya. Mirip lukisan fine art, harga batik ditentukan pula oleh kaidah tersebut. “Yang penting jika batik naik, saya bisa menyejahterakan karyawan saya. Jika karyawan sejahtera, batik tidak akan mati.”

Lama produksi pembuatan kain batik buatannya membuat banyak pertanyaan bagi perajin batik lainnya. “Ada yang bilang bikin batik seperti Pak Sapuan iso ora mangan (bisa nggak makan). Mereka yang bilang demikian sudah menyangkut-pautkan dengan wilayah aqidah, seolah-olah yang memberi makan itu perilaku kita.”

Cuma orang lebih tertarik angka-angka 10 digit, karena sifat dunia itu lebih menarik.

Pertanyaan itu mudah saja dibalik sebenarnya dengan kondisi saya saat ini masih makan apa tidak, bisa merokok atau tidak, mampu menjamu tamu atau tidak, sanggup menyekolahkan anak saya atau tidak.”

Sapuan menjelaskan lagi jika membuat batik yang dianutnya akan kesulitan makan, berarti orang tersebut menganggap perilaku membatik sumber dari makanan bukan esensi keberadaan batik sebagai budaya dan tradisi yang diizinkan Tuhan untuk manusia.

Seperti kemudian jika ada orang yang berani menghargai batik Sapuan 100 juta, olehnya dikatakan itu hanya dampak bukan tujuan. “Cuma orang lebih tertarik angka-angka 10 digit, karena sifat dunia itu lebih menarik.”

Untuk menuju nilai tersebut dirinya harus konsekwen terhadap keberlangsungan produksinya. Pembuatan batik yang misalkan memakan waktu dua tahun pengerjaan, banyak menguras modal bagi honor pekerjanya maupun material lainnya. Terlebih batiknya sendiri harus berhadapan dengan pembeli yang mau, bukan hanya mampu. “Mampu bukan berarti mau. Itu pembeli yang saya hadapi. Masih banyak kain batik saya tersimpan di rumah dan belum terjual.”

Cara Produksi

Sapuan menunjukkan bentangan kain batik buatannya.
Sapuan menunjukkan bentangan kain batik buatannya.
… maka jika kain batik itu terjual akan diputar lagi dengan produksi kain batik yang baru. Jadi dari batik, untuk batik, oleh batik. Abudemennya begitu.

Tentang dapur produksinya, ia pun berbagi pengetahuan. Untuk menghindari perbedaan pemberian honor antar pengusaha batik Pekalongan, ia mengikuti standar pembayaran umumnya yang berlaku di Pekalongan. Pengalamannya sebagai PNS guru, sering mendapatkan insentif-insentif seperti honor jaga ujian, jasa koreksi, dan masih banyak lagi. “Saya kembangkan itu ke pembatik agar saya juga tidak dituding memberikan honor berlebih dari perajin lain. Semua sama-sama enak,” tukasnya. Sapuan kini memiliki 15 – 20 orang pembatik.

Efisiensi kerja pun diterapkan seefektif mungkin. “Saya menghitung semua ada batas minimal (abudemen). Membatik pun harus ada batas minimal. Contohnya kompor tungku berbahan bakar minyak tanah, satu unitnya bisa untuk enam orang. Namun jika satu tungku dikerjakan tiga orang, cost saya khan meledak. Harga minyaknya tetap satu liter, hanya dipakai oleh tiga orang.”

Untuk mempertahankan kualitas, Sapuan pun menghitung kebutuhan pembatik untuk menyelesaikan satu karyanya. “Saya menghitung dibutuhkan 25 pembatik yang bekerja belum bisa diambil keuntungannya. Tetapi dengan 30 pembatik dengan masing-masing pendapatan per harinya antara 25 – 30 ribu, belum termasuk tips, dengan waktu pengerjaan setahun atau dua tahun, maka jika kain batik itu terjual akan diputar lagi dengan produksi kain batik yang baru. Jadi dari batik, oleh batik, untuk batik. Abudemennya begitu.”

belajar batik
Seorang pelajar asal Brunei Darussalam berlatih batik di workshop Batik Sapuan.
Saya sebenarnya ingin merdeka mandiri sendiri. Tetapi merdeka itu tidak mudah. Dan tidak merdeka pun tidak enak.

Tentang keuntungan dari penjualan kain batiknya, dirinya tak sungkan membukanya. “Kalau saya mau ambil keuntungan, maka produksi awal adalah pengumpul modalnya untuk produksi selanjutnya. Dan di produksi selanjutnya itulah baru saya mendapatkan untung.”

Dirinya pun tak menepis ada seorang ibu dari kalangan pejabat yang membantu memberikan dana pendampingan kegiatan produksinya yang terbilang berdurasi lama untuk hasil yang diharapkannya. “Saya sebenarnya ingin merdeka mandiri sendiri. Tetapi merdeka itu tidak mudah. Dan tidak merdeka pun tidak enak.” Kontribusi dari ibu pejabat tersebut baginya adalah simbol apresiasi terhadap produk anak bangsa di tengah brand-brand luar yang sering dikenakan kalangan atas.

 

Batik oleh Sapuan diibaratkan sungai yang alami, meski musim kering melanda, tetap ada masih sedikit air yang bisa mengalir. “Artinya, batik tulis tidak akan mati sampai kapan pun.” Keberadaannya diantara para pembatik ternama lainnya dianggap sebagai suatu cara untuk berbuat menularkan tradisi ini agar terus lestari.

Maka amat disayangkan jika ada statement miring dari pengusaha besar batik beranggapan tak perlu lagi ada perajin batik karena sekarang yang laku adalah printing motif batik. Padahal batik bukan sekedar komoditas tetapi wajah industri tekstil Indonesia yang berangkat dari nilai-nilai luhur bangsa yang ditumbuhkembangkan oleh perajin batik. “Membatik itu mirip memainkan musik. Instrumen boleh sama tetapi cara bermainnya bisa beda-beda. Intinya mereka menuju suwung. Dan itu keunikan dari batik” pungkasnya.

 

Batiklopedia.com

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Batik Ciamis, Kisah Manis Yang Berjuang Hidup Kembali

Bazaar Lebaran 2016

Bazar Lebaran 2016 Untuk Kebutuhan Sembako Masyarakat