Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, kota-kota pelabuhan di Asia Tenggara berkembang menjadi pusat perdagangan dunia yang sangat dinamis. Letaknya yang strategis menjadikan kawasan ini titik temu berbagai bangsa dan budaya internasional.
Anthony Reid menyebut bahwa kota-kota seperti Pegu, Ayutthaya, Melaka, Aceh, Banten, Jepara, Gresik, hingga Makassar merupakan pusat ekonomi regional yang sangat berpengaruh pada masa Zaman Perdagangan.

Pelabuhan-pelabuhan itu bukan sekadar tempat bongkar muat barang. Mereka menjadi pusat kekuasaan politik, pertumbuhan urbanisme, dan kreativitas budaya.
Di Melaka, pedagang dari Arab, India, Cina, dan Nusantara hidup berdampingan. Kota ini menjadi contoh kosmopolitanisme Asia Tenggara sebelum kolonialisme Eropa berkembang.
Aceh dikenal sebagai bandar lada terbesar di kawasan barat Nusantara. Sementara Makassar berkembang menjadi pelabuhan bebas yang ramai dikunjungi pedagang asing setelah jatuhnya Melaka ke tangan Portugis.
Kehidupan kota pelabuhan sangat berbeda dibanding wilayah pedalaman agraris. Di kota-kota ini, penggunaan mata uang semakin umum, perdagangan internasional berkembang pesat, dan masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap budaya luar.
Islam juga menyebar cepat melalui jaringan perdagangan maritim. Masjid, pasar, dan pelabuhan menjadi pusat interaksi budaya dan agama.
Namun kota-kota pelabuhan Nusantara mulai kehilangan peran penting ketika Portugis, Spanyol, dan Belanda membangun pusat perdagangan kolonial seperti Melaka Portugis, Manila Spanyol, dan Batavia Belanda.
Dominasi kolonial mengubah pola perdagangan Asia Tenggara. Pelabuhan lokal yang sebelumnya mandiri perlahan berada di bawah kontrol perusahaan dagang Eropa.
Meski demikian, warisan kota pelabuhan tetap hidup hingga kini. Budaya pesisir yang terbuka, multietnis, dan kosmopolitan masih terlihat di banyak kota pelabuhan Indonesia modern.
Kejayaan kota-kota pelabuhan Asia Tenggara membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi salah satu pusat peradaban maritim dunia.

