Pada masa kejayaan perdagangan Asia Tenggara, banyak kerajaan berkembang menjadi negara absolut yang memusatkan kekuasaan pada raja. Sistem ini memberi pengaruh besar terhadap politik dan ekonomi kawasan.
Anthony Reid menjelaskan bahwa absolutisme di Asia Tenggara memiliki karakter berbeda dibanding Eropa. Raja memegang kendali penuh atas perdagangan, pelabuhan, bahkan harta rakyatnya.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Sultan Iskandar Muda di Aceh. Ia dikenal sebagai penguasa kuat yang berhasil memperluas kekuasaan Aceh dan membangun sistem hukum tertulis. Pada masanya terdapat empat jenis pengadilan, mulai dari pengadilan kriminal hingga perdagangan.
Namun di balik kejayaannya, sistem absolut juga memiliki sisi gelap. Raja dapat bertindak sewenang-wenang karena tidak ada institusi yang membatasi kekuasaannya.
Di Mataram, Amangkurat I menerapkan monopoli kerajaan secara ekstrem. Ia melarang rakyat berdagang ke luar negeri dan bahkan menghancurkan kapal-kapal dagang milik rakyat pesisir pada 1655.
Kebijakan tersebut berdampak buruk bagi perkembangan perdagangan lokal. Rakyat kehilangan kebebasan ekonomi dan takut memperlihatkan kekayaan mereka.
Menurut Anthony Reid, absolutisme Asia Tenggara gagal melahirkan institusi politik dan ekonomi yang mampu menciptakan sistem perdagangan modern seperti di Eropa.
Di Eropa, raja absolut justru bekerja sama dengan kelas pedagang untuk memperkuat ekonomi negara. Sementara di Asia Tenggara, pedagang sering dianggap ancaman bagi kekuasaan raja.
Akibatnya, akumulasi modal dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang menjadi terhambat.
Meski demikian, beberapa kerajaan mencoba menciptakan keseimbangan kekuasaan. Di Makassar misalnya, dikenal sistem monarki dualis antara raja dan perdana menteri. Di Minangkabau terdapat pembagian kekuasaan antara raja alam, raja adat, dan raja ibadat.
Sejarah absolutisme Asia Tenggara menunjukkan bahwa kekuatan politik tanpa kontrol institusi dapat melemahkan ekonomi dan perdagangan masyarakat.
Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680 Jilid 2.

