in

Ada Trusmi Di Bandung

Bukan Trusmi tempat ia tumbuh kembang dipilih sebagai lokasi usaha, melainkan Bandung yang notabene bukan sentra batik.

Trusmi dan dirinya tak pernah hilang dalam gugusan kesatuan lahir dan berkembang. Meski meninggalkan tempat ia dibesarkan dalam lingkungan perajin batik, nun ratusan kilometer dari Trusmi, ia membangun usaha batiknya.

Dirumahkan karena krisis moneter menjelang saat menjadi site manager sebuah perusahaan IT, ia beralih menjadi direktur utama di ruang pamer rotan dan kedai kuliner Cirebon milik seorang temannya. Selagi mengelola usaha tersebut, sekaligus pula ia menjual batik-batik buatannya dalam skala kecil. Seorang seniman patung dan dosen seni rupa ITB terpikat dengan batik buatannya dan mengusulkannya mengikuti lomba desain batik jika ada kesempatan.

Tahun 1997, Yayasan Batik Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Pos dan Telekomunikasi mengadakan lomba Cipta Selendang Batik Internasional di Yogyakarta. Ia mengirimkan lima desainnya. Dua dari lima desainnya berhasil meraih predikat juara I untuk desain motif Selendang Pittaloka dan juara harapan I untuk selendang Jasuma. Prestasi itu memecut dirinya untuk mengembangkan batik.

H Komarudin Kudiya 1Akhir tahun 1998 ia bersama istrinya Nuryanti Widya atau akrab disapa Yeyen, memilih jalan hidupnya menjadi perajin dan pedagang batik dengan produknya dinamai dengan Batik Komar. Hal yang dulunya disarankan orangtuanya tidak dipilih sebagai sumber nafkah karena masa itu batik kurang menjanjikan sebagai mata pencaharian.

Bukan Trusmi tempat ia tumbuh kembang dipilih sebagai lokasi usaha, melainkan Bandung yang notabene bukan sentra batik. Ia memilih menjadi bintang kecil ketimbang berada di gugusan bintang. Trusmi sudah sangat penuh perajin ternama dan di Bandung ia memunculkan namanya diantara sunyinya perajin batik di wilayah tersebut.

Bandung sebagai pusat mode punya pasar potensial meskipun yang ditawarkannya berupa produk tradisional. Dan ia mengenal Bandung sejak tahun 1987, awal hijrahnya karena menimba ilmu di kursus komputer PIKSI ITB. Usaha batiknya menjadi salah-satu ikon Kota Bandung meskipun yang ditawarkannya adalah batik Cirebonan.

Komarudin Kudiya mengubah stigma cara berdagang batik tradisional, dari sistem penjualan door to door menjadi terpusat alias membuka showroom sekaligus workshop. Dari motif-motif tak terdokumentasikan menjadi computerized. Bahkan meningkatkan upah karyawan batik yang terkenal dengan upah kecil menjadi menjanjikan untuk dijadikan profesi. Karena baginya batik merupakan paduan pekerjaan seni dan produk konsumsi yang bisa dijual.

Dengan panjang 446,5 meter, terdiri dari 407 motif dari 32 provinsi di Indonesia, 112 warna, yang dikerjakan selama 1,5 tahun oleh 45 perajin, ia mencatat rekor MURI dan Guiness World of Record.

H Komarudin Kudiya 3Ketika banyak perajin mengangkat tradisional batik dengan motif-motif dan corak warna lawasan sebagai daya tarik produk, ia mengeksplorasi motif-motif dan corak baru yang relevan yang inspirasinya diambil dari bumi Indonesia khususnya Jawa Barat.

Langkah fenomenalnya ia lakukan bersama Yayasan Batik Indonesia dengan meluncurkan Batik Terpanjang Di Dunia tahun 2005. Dengan panjang 446,5 meter, terdiri dari 407 motif dari 32 provinsi di Indonesia, 112 warna, yang dikerjakan selama 1,5 tahun oleh 45 perajin, ia mencatat rekor MURI dan Guiness World of Record.

Ir. Sendy Ramania Wurandari, istri dari eks Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, bersama dirinya pun sepakat untuk mengeksplorasi ragam motif batik Jawa Barat di bawah naungan Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB). Ia menganggap ini penting sebab industri batik dapat meningkatkan harkat dan martabat bangsa serta meningkatkan perekonomian masyarakat Jawa Barat di tiap kabupaten/kota melalui industri batiknya.

Sumber: Majalah BATIK On Fashion

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Blue Bird

Nasionalisme Batik – Noni Purnomo, President Director dan CEO Blue Bird Group

YBI

YBI Berbagi Batik Untuk Masyarakat – Yultin Ginandjar Kartasasmita