in

Nasionalisme Batik – Noni Purnomo, President Director dan CEO Blue Bird Group

Ia melihat perkembangan Blue Bird dari masa ke masa, sejak dilahirkan keberadaan Blue Bird oleh neneknya, Mutiara Djoko Sutono. Ayahnya, Purnomo Prawiro menjadi tenaga supir awal usaha tersebut berjalan.

Noni Pur 3Kebanggaan mengenakan batik, ditularkan ke perusahaan untuk mengukuhkan indetitasnya sebagai perusahaan nasional. Di berbagai event, ia selalu mengenakan busana khas tradisional Indonesia seperti tenun dan batik.

Era perdagangan bebas Asia sering dianggap sebagai momok menakutkan atas kelangsungan perusahaan nasional. Persaingan yang bakal makin ketat atas produk-produk asing yang masuk ke Indonesia, berhadapan langsung dengan produk-produk asal Indonesia. Program yang lebih dari satu dekade silam disepakati oleh para pemimpin ASEAN untuk membentuk pasar tunggal seperti MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa), ditujukan untuk meningkatkan daya saing ASEAN terhadap negara lainnya, terutama Cina dan India yang berhasil menyedot banyak investasi asing masuk ke negaranya.

Pembentukan pasar tunggal yang lazim disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), memungkinkan satu negara anggota dengan negara anggota lainnya menjual barang dan jasa secara lintas negara dengan mudahnya.

Blue Bird Group sebagai perusahaan nasional memandang hal tersebut sebagai peluang yang harus diambil. Jika selama ini perluasan usahanya berada di kota-kota besar di Indonesia, dirancang pula ekspansi usaha ke negara-negara anggota MEA. Modal dasarnya adalah semangat nasionalisme dan rasa bangga sebagai perusahaan nasional.

“Kita tidak pernah memiliki tenaga ekspatriat sejak perusahaan berdiri,” ujar President Director dan CEO Blue Bird Group Noni Sri Aryati Purnomo atau lebih akrab disapa Noni Purnomo. Wanita kelahiran 20 Juni 1969 sangat yakin potensi sumberdaya manusia Indonesia mampu menggerakkan perusahaan tanpa bantuan tenaga ahli asing.

Ia melihat perkembangan Blue Bird dari masa ke masa, sejak dilahirkan keberadaan Blue Bird oleh neneknya, Mutiara Djoko Sutono. Ayahnya, Purnomo Prawiro menjadi tenaga supir awal usaha tersebut berjalan. Ibunya, Endang Basuki sebagai penerima order pengguna jasa sewa kendaraan. Ada dua armada kendaraan yang digunakan untuk memenuhi pelanggan private pada awalnya. Kini berkembang menjadi puluhan ribu armada dengan layanan jasa transportasi taksi, mobil carteran, bus carteran, angkutan logistik, hingga properti.

Nasionalis Batik

Batik sebagai indetitas korporat Blue Bird Group dilihatnya berdampak pada rasa bangga karyawan seabagai orang Indonesia.

Noni Pur 2Yang terlihat dalam keseharian, itulah yang menjadi kebiasaan. Kerja keras anggota keluarganya menjadi etos dirinya. Ibu tiga anak ini berhasil mengubah manajemen bisnis keluarganya dengan keilmuan yang didapat dari berbagai tempat. Jika sebelumnya laci bisnis adalah laci rumah juga, maka ia merubahnya terpisah. Dampak yang dihasilkannya adalah bisnis transportasi keluarganya berjalan baik.

Kebiasaan dari keseharian yang dilihatnya dan berlanjut hingga kini adalah kesukaannya menggunakan kain tradisional Indonesia baik tenun maupun batik. “Almarhum nenek saya yang berasal dari Jogja, kesehariannya mengenakan kain batik. Juga ibu saya menyukai dan memiliki banyak kain batik.”

Ia mengaku tidak memiliki spesifik motif batik favorit. Namun ada dua motif yang selalu menggugahnya untuk dimilik yakni motif parang dan sekar jagad. Filosofi kedua motif itu diketahuinya sangat dalam dan penuh arti. “Seperti motif sekar jagad, melambangkan kemakmuran,” tukasnya.

Untuk mendapatkannya batik, tidak diluangkan waktu khusus membelinya. Kebanyakan malah datangnya dari penawaran-penawaran langsung ke dirinya. “Bagi saya, membeli batik tidak dibutuhkan waktu khusus untuk mencarinya. Tetapi jika ada yang menarik dan bagus menurut saya, maka saat itu juga saya beli.”

Merk-merk produk batik yang dibelinya umumnya berasal dari Parang Kencana, danar Hadi, dan Alleira. “Mereka juga rajin jika ada model baru, kita dikirimi infonya.” Untuk produk batik yang ditemui dijalan dan tergugah rasa sukanya, ia mengaku tidak melihat merknya. “Jika senang ya, beli.” Untuk kain batik dalam bentuk bahan, ia mengaku tak banyak memilikinya. “ibu saya senang beli bahan, dan saya lebih banyak ngambilin,” kenangnya tertawa.

Batik sebagai indetitas korporat Blue Bird Group dilihatnya berdampak pada rasa bangga karyawan seabagai orang Indonesia. “Indetitas Blue Bird di luar negeri menunjukkan kami adalah perusahaan Indonesia. Jika pun buka di negara lain, kita tetap membawa indetitas Indonesia.”

Era perdagangan bebas ASEAN yang dianggap sebagai ketakutan tersendiri, tidak demikian disikapi oleh dirinya. “Kami sebagai perusahaan Indonesia sanggup bersaing dan memiliki kesempatan ekspansi keluar. Kita jangan melihat terbalik, justru kesempatan itu kita lakukan untuk berekspansi ke luar. Dan semangat nasionalisme menjadi modal dari hal tersebut,” pungkasnya.

Sumber: Majalah BATIK On Fashion

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Batik Fashion - Uri-Uri Batik Pekalongan Didi Budiardjo

Uri-Uri Batik Pekalongan Didi Budiardjo

trusmi

Ada Trusmi Di Bandung