in

YBI Berbagi Batik Untuk Masyarakat – Yultin Ginandjar Kartasasmita

Ekonomi kerakyatan yang muncul dari industri batik telah puluhan bahkan ratusan tahun membuktikan kehandalannya sebagai produk berbasis budaya.

Yultin 1Selama 20 tahun lebih YBI telah mendedikasikan diri terhadap pelestarian dan pengembangan batik Indonesia. Usia yang tak sebentar sebagai sebuah yayasan nirlaba ini untuk mengajak seluruh elemen baik dari kalangan pemerintahan hingga kalangan masyarakat untuk mencintai dan memasyarakatkan batik.

Kendala dari masa ke masa pun berbeda-beda. Namun sejak pengakuan UNESCO terhadap batik tahun 2009 lalu, YBI makin memiliki pekerjaan tambahan. Dukungan dari daerah-daerah untuk terlibat menghasilkan batik khas setempat terus berdatangan.

Terlebih ketika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendukung kegiatannya tersebut via ibu negaranya, Ani Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengajak untuk mengangkat kekayaan tradisi lokal.

Ekonomi kerakyatan yang muncul dari industri batik telah puluhan bahkan ratusan tahun membuktikan kehandalannya sebagai produk berbasis budaya. Meski sempat terseok-seok dalam upaya pengembangan dan pelestariannya, batik tetap hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Event-event YBI yang sering digelar setiap tahunnya adalah Pameran Batik bekerjasama dengan Departemen Perindustrian RI. Umumnya digelar untuk menyambut serta merayakan Hari Batik Nasional (HBN) tanggal 2 Oktober setiap tahunnya. Sedangkan event dua tahunannya adalah Gelar Batik Nusantara (GBN).

Sesuai dengan tujuan awal YBI, hingga kini masih sama yakni mengangkat para perajin ke permukaan. “Sejauh ini kami melakukan via pameran sebagai pertemuan perajin hingga pembeli.” Dan tujuan lain tambahannya adalah mempertahankan gelar batik sebagai warisan tak-benda oleh UNESCO. “Jika hal tersebut menurun dan hilang, maka UNESCO dapat menarik gelar tersebut,” sergahnya.

YBI sebelumnya sering menggelar lomba motif batik untuk mencari bakat-bakat baru perajin batik Indonesia. Namun beberapa tahun belakangan terhenti karena berkurangnya dukungan karena sesuatu hal.

Popularitas batik yang tahun demi tahun sejak pengakuan UNESCO makin meningkat, diharapkan pula menjadi pemicu popularitas produk berbasis budaya lainnya.

“Yang paling penting adalah regenerasi sumberdaya manusianya. Kita lihat sekarang bagaimana sumberdaya manusia perajin batik masih dikerjakan oleh orangtua dan jarang terlihat sumberdaya manusia dari kalangan muda. Jika ini tak segera dibangun regenerasinya, maka ke depannya sumberdaya manusia di industri batik dapat terkendala.”

YBI sebelumnya sering menggelar lomba motif batik untuk mencari bakat-bakat baru perajin batik Indonesia. Namun beberapa tahun belakangan terhenti karena berkurangnya dukungan karena sesuatu hal.

“Padahal event tersebut dapat memberikan wacana untuk menumbuhkan kecintaan akan batik dan tergerak masuk ke dalam industrinya.”

Meski demikian YBI yang menjadi partner Departemen Perindustrian RI dalam upaya melestarikan dan mengembangkan batik Indonesia, mencatat peningkatan yang menggembirakan setiap tahunnya sejak pengakuan UNESCO. “Kami selalu mendapatkan laporan tahunan tersebut oleh Departemen Perindustrian dan Alhamdulillah mengalami peningkatan.”

Problem Solve Batik

Ia bersama YBI selalu berupaya merespon dan mendukung permintaan daerah untuk turut larut dalam pengembangan tersebut.

Yultin 3Dari 34 provinsi di Indonesia ada 33 provinsi yang turut serta mengembangkan batik di wilayahnya.

“Ini bukan karena paksaan dari siapapun, tetapi kesadaran mereka untuk turut mengembangkan batik di wilayahnya tersebut. Dan kami selalu menyarankan agar tidak meniru-niru motif batik Jawa dan memperbanyak mengangkat kearifan lokal dalam bentuk motif batik,” terangnya.

Dan ia mencontohkan bagaimana perkembangan Batik Papua yang mengangkat simbol-simbol lokal seperti alat musik tifa, burung cendrawasih, patung asmat, perahu Sentani, sebagai motif-motif khas Papua.

“Juga ada batik daerah Riau, Jambi, Bengkulu, dan lain sebagainya yang memunculkan karakter khas daerahnya. Ini penting, karena melalui batik diharapkan image daerahnya akan terangkat melalui motif-motif khas setempat.”

Ia bersama YBI selalu berupaya merespon dan mendukung permintaan daerah untuk turut larut dalam pengembangan tersebut.

“Kami berupaya untuk turun langsung memenuhi permintaan mereka.”

Sebagai contoh, batik Indramayu yang dulunya sangat terkenal keindahannya akan motif-motifnya, beberapa waktu lalu mengalami surut akibat ditinggalkan oleh perajinnya yang putus harapan dengan prospek batik Indramayu.

“Ada seseorang yang mengeluhkan kepada kami tentang hal itu, dan meminta kami untuk membantu menghidupkannya kembali. Maka kami pergi ke sana dan bertemu langsung dengan perajin yang tersisa serta pemerintah daerah setempat. Setelah itu kerajinan batik Indramayu syukur lah lambat-laun hidup kembali.”

Produk ini (batik printing) kerap menyelamatkan perajin manakala produk batik tulis dan cap tidak mampu memenuhi permintaan konsumen atau menghidupi perekonomian perajin sehari-hari oleh karena proses pembatikan tulis dan cap membutuhkan waktu lebih lama.

Ia menjelaskan masalah utama dari perkembangan batik daerah terkait dengan dukungan pemerintah daerahnya.

“Percuma kita menggenjot kemampuan industri para perajinnya jika pemerintah daerahnya tidak mendukung. Dua kepentingan tersebut kami satukan, karena bagaimanapun perajin batik daerah adalah aset penting perkembangan batik nasional.”

Untuk contoh skala nasional yang berusaha dipecahkan problem solving-nya adalah ketika derasnya tekstil motif batik asal negara lain (Cina) masuk ke dalam Indonesia dengan segala keunggulannya, sangat murah dan bagus.

“Era Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, kami telah menyampaikan hal tersebut, dan tidak berhasil karena terkait regulasi perdagangan bebas yang Indonesia turut di dalamnya. Di menteri selanjutnya kami melakukan hal yang sama dan terganjal dengan hal yang sama pula.”

Meski produk tekstil motif batik bukan dalam kategori batik yang diemban upaya pelestarian dan pengembangannya oleh YBI, setidaknya tekstil motif batik punya peranan penting dalam menumbuhkan kecintaan terhadap batik bagi masyarakat Indonesia.

“Ada kelas-kelas konsumen tersendiri dalam industri batik: high, medium, dan low. Produk high adalah batik tulis berharga mahal dan telah menjadi barang seni seperti contohnya lukisan. Produk medium adalah batik tulis atau cap berharga sedang yang dapat dijadikan material fashion atau koleksi. Dan batik low adalah batik tulis atau cap berharga murah hingga terjangkau oleh konsumen kelas tersebut dan ditujukan untuk fashion. Hal itu akan meningkat tahapan kelasya seiring pengetahuannya terhadap batik.”

Yultin 4Tentang batik printing atau tekstil motif batik di industri batik Indonesia sudah tidak terhindarkan. Produk ini kerap menyelamatkan perajin manakala produk batik tulis dan cap tidak mampu memenuhi permintaan konsumen atau menghidupi perekonomian perajin sehari-hari oleh karena proses pembatikan tulis dan cap membutuhkan waktu lebih lama.

“Tetapi yang harus diingat adalah batik itu bukan corak atau motif, tetapi lebih kepada proses pembuatannya yang tradisional dan sarat filosofi untuk menjadikan busana seseorang sebagai kemuliaan dirinya.”

Ia berharap andaikata tekstil motif batik memenuhi pasar, setidaknya itu berasal dari produk dari dalam negeri, bukan negara lain. Pertemuannya dengan Menteri Perdagangan RI Rahmat Gobel tempo lalu memberikan sinyalemen positif terhadap dukungannya itu.

Gobel merasakan hal yang sama dengan yang diaspirasikan dirinya dan YBI. Ia berjanji akan membuat regulasi impor terkait tekstil motif batik dengan cara merintanginya karena batik merupakan produk budaya yang seharusnya dinikmati hasilnya oleh pemilik budaya tersebut.

“Dan saya bersama YBI tidak akan pernah tahu keluhan yang terjadi tentang pelestarian dan pengembangan batik di suatu tempat jika tidak ada yang menyampaikan keluhan tersebut,” tukasnya.

Maka ia berharap masyarakat batik Indonesia dapat leluasa bertukar-pikiran dengan YBI dan memecahkan solusinya secara bersama-sama. Demi batik Indonesia dan masyarakat yang hidup dan mengandalkan industri batik sebagai sumber perekonomiannya.

Sumber: Majalah BATIK On Fashion

Partner:
Financial Services Link Exchange Directory
Free link exchange and link building service for financial services themed websites.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

trusmi

Ada Trusmi Di Bandung

Neo Lasem – Harry Darsono