Universitas Muhammadiyah Bandung menggelar Pameran Kain dan Kebaya Ibu pada 20–24 Mei 2026 sebagai bagian dari rangkaian Pembukaan Pameran Kain dan Kebaya Ibu #3 dan bedah buku “Estetika, Tradisi dan Inovasi: Pondasi Kriya Tekstil Fashion Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung bekerja sama dengan Yayasan Batik Jawa Barat dan Pusat Studi Wastra Nusantara UMBandung.
Pameran tersebut menjadi ruang edukasi, apresiasi, sekaligus pelestarian budaya wastra Indonesia. Tidak hanya menampilkan kain dan kebaya sebagai busana tradisional, kegiatan ini juga memperlihatkan nilai sejarah, estetika, identitas, hingga memori keluarga yang melekat pada setiap koleksi.



Ketua Pusat Studi Wastra Nusantara UMBandung, Dr. Komarudin Kudiya, bersama Ketua Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion UMBandung, Dra. Saftiyaningsih Ken Atik, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi budaya di lingkungan akademik.
Pameran dibuka langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung dan dihadiri jajaran pimpinan kampus, dosen lintas program studi, mahasiswa Kriya Tekstil dan Fashion UMBandung, mahasiswa Institut Teknologi Nasional Bandung, serta dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Kehadiran sivitas akademika menunjukkan kampus memiliki peran strategis dalam penguatan budaya dan kreativitas berbasis tradisi. Selain itu, acara turut dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat, dr. Siska Gerfianti, pengurus Dekranasda Jawa Barat, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Dede Yusuf, Ketua Komunitas Cinta Berkain Indonesia Bandung Yeyen Komar, serta Hetty Sunaryo dari Komunitas Ratna Busana.
Dalam pameran tersebut dipamerkan puluhan koleksi kain dan kebaya milik tokoh-tokoh Bandung yang dikenal memiliki perhatian terhadap budaya berkain. Setiap koleksi menampilkan karakter dan cerita personal yang berbeda, mulai dari perjalanan hidup, selera estetika, hingga kecintaan terhadap warisan budaya Indonesia.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung adalah kain dan kebaya kecil milik Ni Hyang, putri Dedi Mulyadi. Kehadiran koleksi tersebut menjadi simbol bahwa kecintaan terhadap kain dan kebaya dapat dikenalkan sejak usia dini.
Melalui pameran ini, kain dan kebaya ditegaskan bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi simbol identitas, keanggunan, dan peran perempuan dalam menjaga budaya. Dalam banyak keluarga Indonesia, sosok ibu dinilai menjadi pihak pertama yang mengenalkan kain, kebaya, tata cara berpakaian, hingga nilai kesopanan kepada anak-anaknya.
Bagi mahasiswa Kriya Tekstil dan Fashion, kegiatan ini juga menjadi laboratorium visual untuk mempelajari unsur desain, komposisi warna, teknik pengerjaan, pemilihan material, hingga makna budaya dalam karya kriya tekstil dan fashion Indonesia.
Kegiatan ini turut terhubung dengan bedah buku “Estetika, Tradisi dan Inovasi: Pondasi Kriya Tekstil Fashion Indonesia” karya Dr. Komarudin Kudiya dan Dra. Saftiyaningsih Ken Atik. Buku tersebut membahas hubungan antara estetika, tradisi, inovasi, dan proses penciptaan karya kriya tekstil fashion Indonesia.
Menurut penyelenggara, pameran ini menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman. Kain dan kebaya tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga bagian dari gaya hidup modern yang elegan dan berakar pada identitas bangsa.
Selama pameran berlangsung, pengunjung dapat menikmati berbagai koleksi yang ditata sebagai ruang apresiasi visual. Setiap kain dan kebaya menghadirkan cerita tentang sejarah, kelembutan, ketekunan, dan kebanggaan perempuan Indonesia.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan yayasan budaya dalam kegiatan ini juga dinilai menjadi contoh penting penguatan ekosistem pelestarian budaya. Kampus hadir tidak hanya sebagai ruang pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat pengembangan tradisi, penelitian, kreativitas, dan pengabdian masyarakat. Secara keseluruhan, Pameran Kain dan Kebaya Ibu di Universitas Muhammadiyah Bandung menjadi momentum penting dalam memperkuat kecintaan masyarakat terhadap wastra Nusantara. Dari ruang kampus, semangat berkain dan berkebaya terus digaungkan sebagai gerakan budaya yang berkelanjutan dan relevan dengan kehidupan masa kini.

