Yogyakarta โ Sekretaris Jenderal Asia Pacific Craft Alliance (APCA), Dr. Joseph Loh, memaparkan standar dan kriteria ketat dalam program Asia Pacific Craft Master Award yang diperkenalkan pada Inacraft Festival 2026 di Yogyakarta, Rabu (15/7/2026).
Dalam workshop yang dihadiri perajin, pelaku industri kreatif, akademisi, dan komunitas kerajinan dari berbagai daerah, Joseph menegaskan bahwa penghargaan tersebut tidak sekadar mencari perajin yang mampu menghasilkan karya berkualitas tinggi, melainkan sosok yang mampu menjadi pemimpin dan penggerak komunitas kerajinan.
Menurutnya, Asia Pacific Craft Master Award dirancang untuk menemukan figur-figur terbaik yang memiliki dedikasi panjang terhadap dunia kerajinan. Secara umum terdapat dua kategori utama, yakni perajin dengan pengalaman profesional minimal 20 tahun dan kategori maestro dengan pengalaman lebih dari 40 tahun.
โPenghargaan ini berbasis komunitas. Seseorang tidak dapat mengangkat dirinya sendiri sebagai Craft Master. Komunitaslah yang mengenali, menghormati, dan mengusulkan individu yang dianggap memiliki kontribusi besar bagi dunia kerajinan,โ ujar Joseph.
Ia menjelaskan, proses seleksi dibagi dalam tiga kelompok penilaian utama, yaitu keahlian dan inovasi, kontribusi terhadap komunitas, serta pengakuan nasional dan internasional.
Pada kelompok pertama, kandidat harus menunjukkan penguasaan teknik yang tinggi, pemahaman mendalam terhadap material yang digunakan, serta kemampuan menciptakan inovasi baru. Seorang Craft Master, kata Joseph, tidak cukup hanya mengulang karya yang sama selama puluhan tahun, tetapi harus mampu menghadirkan pengembangan dan pembaruan dalam bidangnya.
Selain itu, kandidat juga dituntut memiliki peran aktif sebagai pemimpin komunitas, mentor, maupun pendidik yang mampu mentransfer pengetahuan kepada generasi berikutnya.
โCraft Master harus menjadi inspirasi. Mereka tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan keterampilan dan tradisi tetap hidup,โ katanya.
Joseph juga menyoroti pentingnya praktik berkelanjutan di tengah krisis iklim global. Penggunaan bahan ramah lingkungan, pewarna alami, ekonomi sirkular, hingga sertifikasi hijau menjadi bagian dari penilaian.
Menurutnya, penghargaan ini bukan hanya tentang memberi gelar kepada para maestro yang sudah dikenal, tetapi juga tentang membina generasi baru perajin agar mampu mencapai standar internasional.
โSaya lebih tertarik menemukan calon-calon Craft Master masa depan dan membantu mereka berkembang. Itulah nilai utama dari program ini,โ ujar Joseph.
Melalui Asia Pacific Craft Master Award, APCA berharap dapat melahirkan lebih banyak perajin unggulan yang mampu membawa kerajinan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, semakin diperhitungkan di panggung dunia.



