Yogyakarta โ Praktisi, akademisi, sekaligus peneliti batik Zahir Widadi kembali angkat bicara mengenai kondisi batik Indonesia saat ini. Ditemui Batiklopedia.com di ajang Inacraft Festival yang berlangsung pada 14-19 Juli 2026 di Jogja Expo Center, Zahir menyoroti kecenderungan dunia batik yang dinilai terlalu berorientasi pada aspek komersial.
Menurut Zahir, setelah lebih dari satu dekade batik Indonesia diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, perhatian berbagai pihak justru lebih banyak tertuju pada pengembangan produk dan pasar dibandingkan upaya pelestarian dan perlindungan nilai-nilai batik itu sendiri.
โBatik saat ini sudah sampai pada muara pengembangan di sektor hilir sebagai komoditas. Padahal ketika diakui UNESCO, tujuan utamanya bukan hanya pengembangan ekonomi, tetapi juga pelestarian dan perlindungan,โ ujar Zahir.
Mantan dekan yang turut terlibat dalam proses penyusunan berkas nominasi batik ke UNESCO pada 2008 itu menegaskan bahwa batik memiliki tiga pilar utama yang harus berjalan seimbang, yakni pelestarian, perlindungan, dan pengembangan. Ia mengingatkan bahwa pengembangan tanpa dibarengi pelestarian berpotensi menghilangkan makna, filosofi, hingga identitas budaya yang melekat pada batik.
โKalau hanya mengembangkan tanpa melestarikan dan melindungi, kita bisa kehilangan esensi batik itu sendiri,โ katanya.
Zahir juga mengkritisi dunia pendidikan batik yang menurutnya masih terlalu fokus pada keterampilan teknis. Padahal batik merupakan disiplin ilmu yang kompleks karena melibatkan unsur seni rupa, teknologi, matematika, kimia, budaya, hingga filsafat.
Dalam pandangannya, mahasiswa batik tidak cukup hanya diajarkan cara membatik, tetapi juga harus memahami nilai, sejarah, dan filosofi yang menjadi fondasi lahirnya setiap motif.
Selain itu, ia menyoroti semakin ditinggalkannya penggunaan pewarna alami yang selama ratusan tahun menjadi bagian penting dalam tradisi membatik Nusantara. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, Zahir mengaku aktif melakukan riset dan budidaya tanaman indigo sebagai upaya menjaga keberlanjutan pewarna alami Indonesia.
โBudaya itu tidak akan habis dieksplorasi. Yang penting adalah bagaimana generasi muda memahami mana yang harus dilestarikan, mana yang harus dilindungi, dan mana yang boleh dikembangkan,โ ujarnya.
Melalui Inacraft Festival 2026, Zahir berharap diskusi mengenai masa depan batik tidak hanya berhenti pada penciptaan produk baru, tetapi juga mengembalikan perhatian pada amanat UNESCO agar batik tetap hidup sebagai warisan budaya yang sarat nilai, bukan sekadar komoditas ekonomi.



