https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Rahasia Indigo VOC Terungkap di Lelana Gallery Stasiun Tugu Jogja

Galeri Batik Jawa di Stasiun Tugu Jogja mengungkap jejak indigo VOC dan sejarah batik yang selama ini jarang diketahui publik.
Galeri Batik Jawa di Stasiun Tugu Jogja mengungkap jejak indigo VOC dan sejarah batik yang selama ini jarang diketahui publik.

Yogyakarta – Sebuah pameran batik di Stasiun Yogyakarta memunculkan narasi sejarah yang selama ini jarang disorot. Melalui Lelana Gallery yang diinisiasi PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata), Galeri Batik Jawa menghadirkan kisah keterkaitan batik, indigo, dan jaringan perkeretaapian kolonial yang bahkan disebut belum banyak diketahui, termasuk di lingkungan perkeretaapian sendiri.

Pameran tersebut menjadi bagian dari soft launching Lelana Gallery di Stasiun Yogyakarta, Kamis (16/7/2026). Selain menampilkan produk batik berpewarna alami, Galeri Batik Jawa mengangkat hasil riset mengenai peran indigo sebagai salah satu komoditas ekspor penting pada masa VOC.

Pemilik Galeri Batik Jawa, Nita Kenzo, mengungkapkan bahwa keterlibatan mereka bermula dari undangan KAI Wisata yang mengkurasi tiga brand lokal untuk mengisi showcase di stasiun. Selain Galeri Batik Jawa, dua brand lain yang dipilih adalah Lawe Indonesia untuk tenun dan The Mogus by Mang Moel untuk produk rajut berbasis keberlanjutan.

Menurut Nita, kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menghadirkan pameran yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menyampaikan cerita sejarah mengenai perdagangan indigo yang berkaitan erat dengan jalur distribusi kereta api pada masa kolonial.

Berbekal penelusuran arsip, termasuk referensi dari Museum Leiden dan dokumen packing list VOC yang dikutip dari buku karya Peter Sundu, tim Galeri Batik Jawa menemukan bahwa indigo tercatat sebagai salah satu komoditas ekspor Hindia Belanda dalam jumlah besar. Namun, bentuk pengiriman indigo saat itu masih menjadi bahan kajian karena belum ditemukan catatan yang memastikan apakah dikirim sebagai pasta, padatan, atau bentuk lainnya.

Nita menilai hubungan antara sejarah komoditas indigo dan perkembangan jaringan transportasi kolonial layak diperkenalkan kepada publik. Melalui pendekatan tersebut, batik diposisikan bukan sekadar produk tekstil, melainkan bagian dari sejarah perdagangan, industri pewarna alami, dan perkembangan infrastruktur di Indonesia.

Direktur Utama KAI Wisata, Raden Agus Dwinanto Budiadji, mengatakan Lelana Gallery merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung UMKM sekaligus melestarikan warisan budaya Nusantara.

“Lelana Gallery hadir sebagai komitmen KAI Wisata dalam mendukung UMKM lokal dan pelestarian warisan budaya Nusantara. Kami ingin penumpang tidak hanya datang atau berangkat dari stasiun, tetapi juga membawa pulang cerita dan produk yang memiliki nilai budaya serta keberlanjutan,” ujarnya.

Melalui konsep tersebut, KAI Wisata menargetkan Stasiun Yogyakarta berkembang menjadi living museum sekaligus lifestyle destination yang menghubungkan transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Model kurasi serupa juga direncanakan diterapkan di sejumlah stasiun strategis lainnya sebagai upaya memperluas ruang promosi bagi produk budaya dan kerajinan Indonesia.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Zahir Widadi menilai batik Indonesia terlalu fokus pada bisnis dan komoditas, sementara pelestarian mulai terabaikan.

Zahir Widadi Bongkar Kekeliruan Arah Batik Indonesia: Terlalu Sibuk Jualan, Lupa Melestarikan

Edy Santosa menyoroti dugaan masuknya kain impor tak sesuai aturan yang dinilai menekan industri tekstil dan batik nasional.

Edy Santosa: Kain Impor Diduga Tak Sesuai Aturan Bikin Industri Tekstil Nasional Terpuruk