Yogyakarta โ GKRBRAA Paku Alam mengungkap makna mendalam di balik motif batik Asthabrata yang diciptakannya dari inspirasi naskah-naskah kuno koleksi Kadipaten Pakualaman. Motif tersebut ditampilkan di Inacraft Festival di Jogja Expo Center, Yogyakarta. Motif tersebut tidak sekadar karya seni tekstil, melainkan media untuk menghidupkan kembali ajaran kepemimpinan Jawa yang dinilai mulai kurang dipahami oleh generasi muda.
Dalam sebuah diskusi budaya di Yogyakarta, GKRBRAA Paku Alam menjelaskan bahwa Asthabrata merupakan ajaran kepemimpinan yang bersumber dari delapan sifat para Batara dalam tradisi Jawa. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam motif batik yang sarat makna dan filosofi.
Menurutnya, setiap unsur dalam Asthabrata memiliki pesan tersendiri. Batara Surya, misalnya, melambangkan kemampuan seorang pemimpin dalam mengelola sumber daya dan keuangan secara bijaksana untuk kesejahteraan rakyat. Sementara Batara Chandra mengajarkan pentingnya kasih sayang dan empati dalam kepemimpinan.
Selain itu, Batara Bayu mencerminkan keteguhan hati yang tidak mudah terpengaruh, sedangkan Batara Resi mengingatkan pemimpin agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjaga kebersihan hati dalam mengambil keputusan. Adapun Batara Brahma menjadi simbol keberanian dalam menjaga wilayah dan tanggung jawab yang diemban.
โSeorang pemimpin harus mampu meneladani sifat-sifat para Batara tersebut,โ ujar GKRBRAA Paku Alam.
Motif Asthabrata yang dikembangkannya tidak hanya menampilkan figur para Batara, tetapi juga dipadukan dengan unsur batik klasik Yogyakarta seperti kawung, parang, serta ragam isen-isen khas Pakualaman. Seluruh proses kreatifnya berangkat dari kajian terhadap naskah-naskah kuno yang tersimpan di perpustakaan Kadipaten Pakualaman, beberapa di antaranya telah berusia lebih dari dua abad.

GKRBRAA Paku Alam menegaskan bahwa pelestarian batik tidak cukup hanya pada aspek visual. Generasi muda juga perlu memahami filosofi yang terkandung di dalam setiap motif agar mampu mengembangkan karya-karya baru tanpa kehilangan akar budaya.
Ia menilai banyak masyarakat yang mengenal motif batik hanya dari bentuknya, tetapi belum memahami makna di baliknya. Karena itu, Asthabrata dihadirkan sebagai upaya menghubungkan kembali warisan literasi Jawa, nilai kepemimpinan, dan seni batik dalam satu karya yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Melalui motif Asthabrata, GKRBRAA Paku Alam berharap ajaran kepemimpinan Jawa tidak hanya tersimpan dalam naskah kuno, tetapi juga terus hidup dan dikenakan oleh masyarakat lintas generasi.


