Oleh: Komarudin Kudiya
Hari ketiga WEFT Forum 2025 menjadi salah satu momen paling hangat sekaligus mengesankan. Di tengah suasana ruang sidang yang dipenuhi para akademisi dan pelaku tekstil dunia, Maestro Batik Indonesia, Dudung Aliesyahbana, tampil dengan pembawaan yang sederhana namun memikat. Presentasinya disampaikan dalam Bahasa Indonesiaโsebuah ketulusan yang sontak mencairkan suasana. Leany Chan, sang moderator, menerjemahkan setiap kalimatnya dengan tenang, memastikan pesan-pesan penting itu sampai kepada seluruh peserta internasional.

Dudung membuka sesi dengan refleksi tentang batik masa lalu, sebuah perjalanan yang ditulis langsung oleh para pembatiknya. Ia mengingat kembali bagaimana sejarah batik memasuki babak baru ketika UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (2009). Pengakuan ituโkatanyaโmembuat nama Batik Indonesia mendadak menjadi kosa kata global. Dunia mulai menoleh, dan batik pun tumbuh bukan hanya sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai kekuatan budaya yang melekat pada identitas bangsa.
โBerjuanglah menemukan batik, sebagaimana batik ingin hadir di dirimu,โ demikian pesan Pak Dudung, yang disampaikan dengan suara rendah namun penuh makna.
Sebagai pembicara senior, gaya bertuturnya mengalir tenang, sarat pengalaman lapangan. Ia tidak menggunakan slide. Yang ia bawa adalah batik-batik asli, ditunjukkan satu per satu di hadapan forum internasional. Para peserta pun terpukau sejak menit pertama.
Batik Masa Lalu: Warisan Leluhur yang Sarat Makna

Dalam penjelasannya, Dudung mengajak peserta menelusuri jejak batik sejak masa kerajaan. Batik, tegasnya, bukan sekadar kain. Ia adalah bahasa simbolik yang mencerminkan relasi manusia dengan alam, spiritualitas, hingga struktur sosial.
Motif Parang, Kawung, Truntum, Mega Mendung, hingga batik pesisiranโsemuanya memiliki narasi panjang. Warna pun menghadirkan simbol: biru sebagai langit dan maskulinitas, sedangkan coklat sebagai bumi dan feminitas.
Dudung kemudian menampilkan karyanya yang merupakan rekonstruksi motif-motif lama. Ia mendekonstruksi Parang, menghadirkannya dalam bentuk over-lapping, bahkan memadukannya dengan elemen wayang. Dengan cara inilah, motif-motif keraton yang dahulu penuh aturan kini menjadi lebih lentur dan dapat digunakan di berbagai kesempatan.
โTidak ada satu pun motif batik masa lalu yang tercipta tanpa makna,โ ujarnya, tegas namun lembut.
Batik Masa Kini: Transformasi dan Tantangan Baru
Masuk ke masa kini, Pak Dudung menyoroti perubahan besar sejak pengakuan UNESCO. Batik kini memasuki wilayah industri modern:
โ teknologi produksi,
โ diversifikasi produk,
โ manajemen kualitas,
โ hingga kolaborasi dengan industri kreatif.
Batik tidak lagi hanya hidup dalam ruang budaya tradisional. Ia bergerak ke fesyen kontemporer, interior, kriya, desain modern, hingga wearable art. Generasi baru pembatik pun mulai berani bereksperimen dengan teknik dan warna, menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Dudung menyebut proses ini sebagai evolusi kreatifโsebuah dinamika yang justru penting bagi keberlanjutan batik Indonesia.
Dengan penuh harapan ia berpesan bahwa generasi muda harus memahami batik bukan hanya sebagai motif, tetapi sebagai ruh budaya yang perlu dirawat melalui riset, inovasi, dan disiplin penciptaan.
Batik Masa Depan: Narasi yang Terus Ditulis

Sebagai penutup presentasinya, Dudung menyatukan benang merah dari tiga dimensi waktu: masa lalu yang berakar, masa kini yang berkembang, dan masa depan yang harus dibangun bersama.
Ia mengingatkan bahwa masa depan batik berada di tangan kitaโpara perajin, desainer, akademisi, pelaku industri, dan generasi muda yang terus menghidupkan narasi budaya ini.
Presentasi โBatik: Past, Present and Futureโ menjadi penutup indah dalam rangkaian WEFT 2025. Melalui pengalaman panjang, pengamatan teliti, dan dedikasi seumur hidup pada batik, Pak Dudung menghadirkan bukan hanya paparan ilmiah, tetapi juga sebuah kesaksian budaya:
bahwa batik bukan sekadar produk, melainkan perjalanan peradaban yang tidak pernah selesai ditulis.
Komarudin Kudiya hadir sebagai delegasi WEFT dengan dukungan Yayasan Batik Indonesia (YBI). Sebagai Ketua Dewan Pakar YBI, ia tidak hanya tampil sebagai pembicara, tetapi juga sebagai duta batik yang mempromosikan kekayaan batik Indonesia di panggung dunia.

