Eksperimen perpaduan teknik batik dan ecoprint menghasilkan karya tekstil berupa scarf dan stola. Penelitian menemukan bahwa urutan pengerjaan menjadi faktor penting dalam menghasilkan perpaduan warna dan motif yang lebih baik.
Penelitian tersebut dilakukan Djandjang Purwo Sedjati dan Vincentia Tunjung Sari dalam penciptaan karya seni tekstil berbahan warna tumbuhan. Karya yang dirancang juga mencakup wall hanging atau hiasan dinding sebagai karya seni ekspresi.
Eksperimen dimulai dari pemilihan bahan tumbuhan yang dapat menghasilkan cetakan pada kain sutra. Berbagai jenis daun dan bunga diuji untuk mengetahui kemampuan masing-masing material.
Peneliti menggunakan daun jati, sukun, jambu, kakao, jati kebon, Eucalyptus Rainbow, pohon bodi serta sejumlah bunga. Buah Keben juga digunakan sebagai bahan pewarna alami untuk proses batik.
Sebelum masuk proses penciptaan, kain sutra dimordant menggunakan larutan tawas. Proses tersebut dilakukan agar warna alam dapat melekat secara maksimal pada kain.
Setelah itu, motif dipindahkan dari kertas ke kain dengan teknik penjiplakan. Karakter kain sutra yang licin membuat proses tersebut membutuhkan ketelitian agar gambar tidak bergeser dan bentuk motif tetap sesuai rancangan.
Motif kemudian dicanting menggunakan teknik klowong, tembok dan isen-isen. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses batik sebelum kain memasuki proses pewarnaan.
Pewarnaan dilakukan menggunakan air rebusan buah Keben. Kain dicelup selama sekitar 15 menit dan proses tersebut diulang sedikitnya enam kali. Setelah pencelupan terakhir, dilakukan fiksasi menggunakan kapur dan tunjung.
Setelah proses batik dan pewarnaan selesai, kain memasuki tahap ecoprint. Kain direndam dalam larutan cuka, kemudian ditempeli daun dan bunga.
Kain kemudian dilipat dan ditekan menggunakan dua potong kayu sebelum digulung pada potongan bambu. Setelah itu kain dikukus selama 1,5–2 jam dan didiamkan sedikitnya lima jam sebelum dibuka. Tahap terakhir adalah fiksasi menggunakan kapur.
Eksperimen dilakukan dengan dua pola urutan. Pada pola pertama, ecoprint dikerjakan lebih dahulu kemudian batik. Pada pola kedua, batik dikerjakan lebih dahulu kemudian ecoprint.
Hasil eksperimen menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Ketika ecoprint dilakukan lebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan batik, warna ecoprint menjadi pudar sehingga hasilnya dinilai kurang memuaskan.
Sebaliknya, ketika proses batik dilakukan lebih dahulu dan dilanjutkan dengan ecoprint, hasil yang diperoleh lebih baik. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar penentuan metode penciptaan karya selanjutnya.
Eksperimen juga menunjukkan bahwa tidak semua material tumbuhan menghasilkan cetakan dengan tingkat kejelasan yang sama. Daun jati, daun pohon Lanang dan daun Sukun menghasilkan cetakan paling jelas.
Daun Jambu Batu dan Eucalyptus Rainbow masih dapat dikenali, tetapi menghasilkan warna yang kurang jelas. Sementara bunga yang diuji tidak menghasilkan cetakan yang baik pada kain sutra.
Hasil penelitian kemudian diwujudkan dalam karya tekstil. Dokumentasi pada halaman 9 menunjukkan salah satu hasil karya berupa scarf, sedangkan halaman 10 menampilkan hasil karya stola.
Penelitian tersebut akhirnya menetapkan pola batik terlebih dahulu, kemudian ecoprint sebagai metode yang digunakan dalam penciptaan karya mix teknik. Pendekatan tersebut menjadi hasil utama dari serangkaian eksperimen untuk mencari kombinasi teknik yang menghasilkan karya tekstil lebih baik.


