Eksperimen batik ecoprint menggunakan berbagai jenis tumbuhan menemukan perbedaan kemampuan bahan alam dalam menghasilkan cetakan pada kain sutra. Dari sejumlah daun dan bunga yang diuji, daun jati, daun pohon Lanang dan daun Sukun menghasilkan cetakan paling jelas.
Temuan tersebut berasal dari penelitian Djandjang Purwo Sedjati dan Vincentia Tunjung Sari mengenai perpaduan teknik ecoprint dan teknik batik berbahan warna tumbuhan dalam penciptaan karya seni tekstil. Penelitian tersebut menggunakan metode berbasis praktik, observasi dan eksperimen untuk memperoleh pengetahuan baru dalam proses penciptaan.
Pada tahap eksplorasi, peneliti mengumpulkan berbagai bagian tumbuhan yang berpotensi digunakan sebagai material ecoprint. Bahan yang diamati antara lain daun pohon Lanang, daun Sukun, Eucalyptus Rainbow, daun Jati, daun pohon Bodi, daun Jarak, daun Jambu Batu, daun Jati Kebon, daun Kakao dan daun Kayu Putih.
Selain daun, penelitian juga menguji sejumlah bunga seperti Alamanda, Kenikir, Keben dan Patramenggala.
Eksperimen kemudian dilakukan dengan menggunakan daun jati, sukun, jambu, kakao, jati kebon, Eucalyptus Rainbow, pohon bodi, bunga kenikir, patra menggala, bunga sepatu, alamanda, wora-wari dan buah Keben.
Peneliti melakukan dua variasi urutan pengerjaan. Pada eksperimen pertama, proses ecoprint dilakukan terlebih dahulu sebelum batik. Pada eksperimen kedua, proses batik dilakukan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan ecoprint.
Eksperimen tersebut penting karena teknik ecoprint dan batik mempunyai karakter proses yang berbeda. Ecoprint menggunakan bagian tumbuhan untuk menghasilkan cetakan pada kain melalui proses hammer atau steaming. Sementara batik menggunakan malam sebagai perintang warna.
Dalam eksperimen tersebut, peneliti juga menggunakan buah Keben sebagai bahan pewarna alami untuk proses batik. Penggunaan bahan alami menjadi bagian dari konsep penciptaan karya tekstil yang diarahkan untuk mengurangi pencemaran akibat penggunaan zat warna sintetis.
Hasil eksperimen menunjukkan tidak semua tumbuhan memberikan hasil cetakan yang sama. Daun jati, daun pohon Lanang dan daun Sukun tercetak paling jelas pada kain sutra.
Sementara daun Jambu Batu dan Eucalyptus Rainbow masih dapat menghasilkan cetakan yang dapat dikenali, tetapi warnanya kurang jelas. Adapun berbagai bunga yang diuji tidak menghasilkan cetakan yang baik.
Temuan tersebut menunjukkan pemilihan material tumbuhan menjadi salah satu faktor penting dalam penciptaan batik ecoprint. Karakter masing-masing daun dan bunga memengaruhi hasil visual yang muncul pada kain.
Penelitian kemudian menentukan urutan proses yang memberikan hasil lebih baik. Eksperimen ecoprint yang dilakukan sebelum batik menghasilkan warna ecoprint yang memudar.
Sebaliknya, ketika kain dibatik terlebih dahulu kemudian dilakukan ecoprint, hasilnya lebih baik. Metode tersebut kemudian dipilih untuk proses penciptaan karya batik ecoprint.


