in

Batik Ecoprint Dikembangkan untuk Kurangi Penggunaan Pewarna Sintetis

Batik ecoprint menggunakan warna tumbuhan dan buah Keben sebagai alternatif dalam penciptaan karya tekstil berbasis bahan alam.
Batik ecoprint menggunakan warna tumbuhan dan buah Keben sebagai alternatif dalam penciptaan karya tekstil berbasis bahan alam.

Pengembangan batik ecoprint dalam penelitian seni tekstil diarahkan pada pemanfaatan bahan alam, mulai dari daun dan bunga hingga buah Keben sebagai sumber warna. Pendekatan tersebut digunakan dalam eksperimen perpaduan teknik batik dan ecoprint pada kain sutra.

Penelitian Djandjang Purwo Sedjati dan Vincentia Tunjung Sari mengembangkan karya tekstil dengan mengeksplorasi teknik ecoprint dan batik. Salah satu pertimbangannya adalah penggunaan zat warna alam sebagai upaya mengurangi pencemaran lingkungan akibat penggunaan zat warna sintetis.

Dalam konsep ecoprint, bagian tumbuhan yang memiliki kandungan zat warna digunakan untuk menghasilkan cetakan pada permukaan kain. Penelitian tersebut mengeksplorasi berbagai jenis daun dan bunga untuk mendapatkan material yang sesuai.

Sementara pada proses batik digunakan pewarna yang berasal dari buah Keben. Penggunaan warna alam Keben tersebut merupakan pemanfaatan hasil penelitian sebelumnya.

Pemanfaatan bahan alam menjadi bagian dari eksplorasi untuk menciptakan karya tekstil dengan gaya kreatif yang mengarah pada bentuk kontemporer. Peneliti merancang tiga jenis karya, yaitu stola, scarf dan wall hanging.

Stola dan scarf ditempatkan sebagai karya fungsional, sedangkan wall hanging atau hiasan dinding dikembangkan sebagai karya seni ekspresi. Seluruh karya dirancang menggunakan kain sutra.

Proses penciptaan tidak dilakukan hanya melalui perancangan visual, tetapi melalui eksperimen langsung. Penelitian menggunakan metode Practice Based Research untuk memperoleh pengetahuan baru melalui praktik dan hasil praktik.

Metode tersebut kemudian dikombinasikan dengan metode penciptaan seni kriya Gustami yang mencakup tiga tahap, yaitu eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Eksperimen dan improvisasi juga dilakukan selama proses penciptaan.

Pada tahap eksplorasi, peneliti mengamati berbagai tanaman sebagai sumber material ecoprint. Gambar dokumentasi pada halaman 5 penelitian memperlihatkan bahan-bahan tumbuhan yang digunakan, termasuk daun Lanang, Sukun, Jati, Jambu Batu, Jati Kebon, Kakao dan sejumlah jenis bunga.

Setelah pemilihan bahan, kain sutra terlebih dahulu melalui proses mordant agar warna alam dapat melekat secara maksimal. Materi menjelaskan kain sutra direbus dalam larutan tawas selama satu jam, kemudian didiamkan semalam sebelum dicuci dan dikeringkan.

Proses batik kemudian dimulai dengan memindahkan motif dari kertas ke kain melalui penjiplakan. Karena karakter kain sutra licin, proses tersebut membutuhkan kecermatan dan ketelatenan.

Setelah motif dipindahkan, dilakukan pencantingan menggunakan tahapan klowong, tembok dan isen-isen. Pencantingan pada kain sutra juga membutuhkan waktu cukup lama karena sifat material yang licin.

Pewarnaan menggunakan air rebusan buah Keben. Kain dicelup sekitar 15 menit dan proses pencelupan diulang sedikitnya enam kali. Pada pencelupan terakhir dilakukan fiksasi menggunakan kapur atau tunjung.

Kapur digunakan untuk memperoleh warna cokelat, sedangkan tunjung digunakan untuk mendapatkan warna abu-abu atau hitam.

Setelah proses batik selesai, ecoprint dilakukan dengan merendam kain dalam larutan cuka, menempatkan daun dan bunga, kemudian melipat, menekan dan menggulung kain pada potongan bambu.

Kain selanjutnya dikukus selama 1,5–2 jam dan didiamkan sedikitnya lima jam sebelum dibuka. Setelah itu dilakukan fiksasi menggunakan kapur.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Lasem tidak hanya terletak pada keindahan motifnya, tetapi juga pada perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa yang membentuk identitas khas daerah pesisir utara Jawa

Batik Lasem: Mengapa Perlu Dilindungi dan Diberdayakan sebagai Warisan Budaya Indonesia?

Batik Jepara mengangkat legenda Syekh Maulana Mangun Sejati dan Roro Ayu Mas Semangkin sebagai motif untuk mengenalkan sejarah lokal.

Batik Jepara Angkat Legenda Tokoh Lokal sebagai Identitas Budaya