Kehidupan masyarakat adat menjadi salah satu sumber utama pembentukan motif Batik Lebak. Tradisi, alat musik, lumbung padi, hingga ritual panen diterjemahkan menjadi motif yang kemudian digunakan sebagai bagian dari identitas Kabupaten Lebak.
Penelitian Kurnia Trijaya Apriyani, Imam Setyobudi, dan Sriati Dwiatmini mencatat lima motif yang berkaitan kuat dengan budaya masyarakat adat, yaitu Angklung Buhun, Kahirupan Baduy, Leuit Sijimat, Sadulur, dan Seren Taun.
Motif Angklung Buhun mengambil inspirasi dari alat kesenian tradisional masyarakat Kasepuhan Lebak Selatan dan suku-bangsa Baduy. Alat musik tersebut digunakan dalam berbagai kegiatan atau upacara masyarakat adat.
Angklung Buhun memiliki karakter yang berbeda dengan angklung lainnya, salah satunya dari bahan dasar yang menggunakan bambu jenis bitung berukuran besar.
Dalam pemaknaan penelitian, Angklung Buhun menjadi ikon yang dikaitkan dengan kedinamisan dan kegembiraan. Alunan irama, ritme, dan nadanya dianggap bersifat dinamis dan berkesinambungan. Angklung Buhun juga digunakan dalam kegiatan adat sebagai ungkapan kegembiraan dan suka cita untuk menghormati tamu.
Selanjutnya, motif Kahirupan Baduy menggambarkan aktivitas sehari-hari masyarakat Baduy yang masih memegang teguh adat istiadat.
Ornamen motif ini terdiri dari rumah panggung, lantayan atau tempat penjemuran padi, leuit Baduy, serta pohon aren.
Motif tersebut dikaitkan dengan kehidupan masyarakat yang bersahaja dan memiliki hubungan erat dengan kelestarian alam.
Motif Leuit Sijimat terinspirasi dari lumbung padi masyarakat Kasepuhan Lebak Selatan. Leuit digunakan sebagai tempat penyimpanan padi untuk menjaga kebutuhan pangan, termasuk ketika masyarakat menghadapi masa paceklik.
Dalam pemaknaan penelitian, Leuit Sijimat menjadi simbol lumbung kemakmuran hidup dengan ketahanan pangan yang cukup.
Sementara itu, motif Sadulur menggambarkan hubungan persaudaraan masyarakat. Ornamen utamanya berupa dua jenis leuit, yakni leuit masyarakat Kasepuhan Lebak Selatan dan leuit masyarakat Baduy.
Meskipun bentuk keduanya berbeda, fungsi dan manfaatnya sama, yaitu menyimpan padi. Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan persaudaraan, kesejahteraan, dan kebersamaan masyarakat Kabupaten Lebak.
Motif berikutnya adalah Seren Taun, yang mengambil inspirasi dari ritual masyarakat Kasepuhan Lebak Selatan dan suku-bangsa Baduy.
Seren Taun dilakukan setelah panen sebagai ritual ucapan syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat.
Motif tersebut memiliki ornamen berupa leuit, ikat padi, dan reog reungkong. Reog reungkong digunakan sebagai pengiring upacara seren taun sekaligus alat pengangkut padi dari lantayan ke leuit.
Kelima motif tersebut menjadi bagian dari 12 motif Batik Lebak yang resmi diluncurkan pada 2 Desember 2015.
Penelitian menyimpulkan bahwa pembentukan motif dilakukan melalui proses pemaknaan terhadap realitas sosial dan budaya Kabupaten Lebak. Budaya masyarakat adat kemudian diterjemahkan menjadi tanda visual yang berfungsi sebagai bagian dari identitas daerah.
Sumber informasi: Kurnia Trijaya Apriyani, Imam Setyobudi, dan Sriati Dwiatmini, “Motif Batik sebagai Ikon dan Mitos Baru Identitas Kabupaten Lebak,” Jurnal Budaya Etnika, Vol. 5 No. 1, Juni 2021.

