in

Batik Indigo: Pewarna Alami Indigofera tinctoria Hasilkan Biru Tua pada Kain Batik

Batik indigo dari Indigofera tinctoria menghasilkan warna biru alami dengan ketahanan luntur baik menggunakan gula aren dan tetes tebu.
Batik indigo dari Indigofera tinctoria menghasilkan warna biru alami dengan ketahanan luntur baik menggunakan gula aren dan tetes tebu.

Batik indigo menjadi salah satu bentuk pemanfaatan tanaman sebagai sumber pewarna alami tekstil. Salah satu tanaman yang berpotensi menghasilkan warna biru adalah Indigofera tinctoria. Tanaman ini diketahui tumbuh di berbagai wilayah Indonesia dan secara tradisional dikenal dengan sejumlah nama daerah, antara lain nila dalam bahasa Jawa, tom di Nusa Tenggara Timur, dan tarum dalam bahasa Sunda.

Penelitian yang dilakukan Agus Haerudin dan Aprilia Fitriani dari Balai Besar Kerajinan dan Batik menguji pemanfaatan daun Indigofera tinctoria dari perkebunan di Ambarawa dan Kulon Progo untuk pewarnaan batik kapas dan sutera. Penelitian tersebut menggunakan dua jenis reduktor alami, yaitu gula aren dan tetes tebu.

Pigmen biru pada tanaman Indigofera berasal dari senyawa indigotin. Untuk memperoleh zat warna, daun difermentasi terlebih dahulu. Dalam proses tersebut, senyawa yang terdapat pada daun mengalami perubahan hingga menghasilkan komponen yang dapat membentuk pigmen indigo. Pigmen yang tidak larut dalam air kemudian perlu direduksi agar dapat digunakan untuk proses pencelupan kain.

Penelitian menggunakan daun Indigofera tinctoria yang dipanen pada usia 120 hari. Sebanyak 1 kilogram daun direndam dalam 10 liter air selama 24 jam. Larutan hasil fermentasi kemudian disaring dan diproses dengan penambahan 100 gram kapur selama satu jam. Setelah melalui sedimentasi dan filtrasi, diperoleh pasta Indigofera yang siap digunakan sebagai bahan pewarna.

Untuk membuat larutan pewarna, penelitian membandingkan dua formula. Reduksi dengan gula aren menggunakan 1 kilogram pasta Indigofera dan 1 kilogram gula aren yang dilarutkan dalam 6 liter air. Sementara itu, reduksi menggunakan tetes tebu menggunakan 1 kilogram pasta Indigofera dan 100 gram tetes tebu dalam 6 liter air.

Pewarnaan dilakukan pada kain kapas dan sutera sebanyak delapan kali pencelupan dengan sistem celup–rendam–jemur. Setelah proses pewarnaan selesai, kain dilorod menggunakan larutan natrium karbonat dengan konsentrasi 5 gram per liter pada temperatur 60–100 derajat Celsius untuk menghilangkan malam batik.

Hasil penelitian menunjukkan warna yang diperoleh berada pada rentang biru muda hingga biru tua. Pengujian ketahanan luntur menunjukkan hasil yang relatif baik terhadap pencucian, gosokan basah, dan sinar matahari, dengan nilai rata-rata pada kisaran 4–5.

Warna paling tua pada kain kapas diperoleh dari Indigofera tinctoria asal Kulon Progo dengan reduktor gula aren. Nilai reflektansinya tercatat 1,54 persen, sedangkan nilai ketuaan warna K/S mencapai 55,12. Penelitian juga mencatat bahwa gula aren menghasilkan warna biru paling tua dibandingkan tetes tebu dalam formula yang diuji.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Indigofera tinctoria dapat menjadi sumber pewarna alami untuk batik indigo. Kombinasi bahan tanaman, proses fermentasi, serta reduktor alami menjadi bagian penting dalam menghasilkan warna biru dengan tingkat ketuaan dan ketahanan luntur yang baik.

Sumber informasi: Agus Haerudin & Aprilia Fitriani, “Pewarnaan Batik Kapas dan Sutera Menggunakan Daun Indigofera tinctoria dari Ambarawa dan Kulon Progo dengan Reduktor Gula Aren dan Tetes Tebu”, Arena Tekstil Vol. 34 No. 2, 2019, hlm. 41–48.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Angklung Buhun dan tradisi masyarakat adat menjadi sumber inspirasi sejumlah motif Batik Lebak.

Angklung Buhun hingga Seren Taun Jadi Motif Batik Lebak

Perajin mengerjakan kain Batik Lebak di Imah Batik Sahate, Rangkasbitung. Produksi Batik Lebak berkembang melalui industri kecil dan menengah di Kabupaten Lebak.

Produksi Batik Lebak Berkembang Sejak 2015, Tiga IKM Aktif Membuat Batik Cap