https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

MENGHITUNG WAKTU DI MASYARAKAT JAWA

Sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat Jawa telah memiliki keterampilan dalam bidang astrologi. Kondisi tersebut dibuktikan dengan kemampuan yaitu:

masyarakat jawa yang agraris
  1. Membuat sistem perhitungan waktu yang berpedoman pada pranata mangsa.
  2. Mengenal perhitungan waktu mirip penanggalan tahun saka.
  3. Membuat alat penunjuk waktu dengan menggunakan bayang-bayang matahari.
  4. Mengenal jenis-jenis angin yang berhembus.
  5. Menentukan jumlah bulan dan hari dalam setahun melalui perubahan musim.

Ciri yang menonjol dari struktur masyarakat Jawa pra Hindu – Budha didasarkan pada aturan-aturan hukum adat serta sistem religinya yakni animisme dan dinamisme.

Hukum adat istiadat yang begitu mengikat, menyebabkan masyarakatnya memiliki kepatuhan yang tinggi dan bersifat statis serta konservatif. Mereka mengangkat tokoh religi untuk mengatasi konflik dan memecahkan masalah dalam komuninya.

Peran pendeta atau pemimpin spiritual sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan keyakinan masyarakat tertentu terhadap alam semesta, serta pemberi petunjuk dalam menjalankan kehidupan bersama.

Kuatnya ikatan solidaritas sosial dan hubungan pertalian darah merupakan ciri masyarakat Indonesia lama. Dalam masyarakat jawa, pendewaan dan pemitosan terhadap ruh nenek moyang melahirkan penyembahan ruh nenek moyang (ancestor worship) yang menghasilkan adat dan relasi-relasi pendukungnya.

Dengan upacara-upacara selametan, ruh nenek moyang menjadi pelindung astral bagi keluarga yang masih hidup.

Penghitungan Waktu Di Era Hindu – Budha

Pada fase ini proses perkembangan budaya Jawa mengalami pengaruh dari budaya india (Hindu – Budha) yang sifatnya ekspansif. Sedangkan budaya Jawa yang permisif, menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur Hinduisme – Budhisme tersebut setelah melalui proses akulturasi. Dalam hal ini, pengaruhnya tidak hanya pada sistem budaya, tetapi juga berpengaruh terhadap agama.

Sejak awal, budaya jawa pada masa hindu-budha bersifat terbuka untuk menerima apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik, maka sangatlah wajar jika kebudayaan jawa bersifat sinkretis (bersifat momot atau serba memuat). Ini sangat berbeda dengan keberadaan agama Hindu – Budha di negeri asalnya yang justru saling bermusuhan tetapi keduanya dapat dipersatukan menjadi konsep agama yang sinkretis, yaitu agama Syiwa Budha.

Contoh lain dari budaya jawa pada waktu itu adalah sangat bersifat teokratis. Ketika sebelumnya masyarakat Jawa mengkultuskan nenek moyang sebagai sesuatu Dzat yang membantu kehidupan mereka, di era Hindu – Budha, mereka diperkenalkan dengan pengkultusan terhadap raja-raja sebagai titisan dewa.

Di masa ini, perhitungan waktu pun turut berkembang dengan adanya:

  1. Sistem penanggalan Pancawara (Pasaran) seperti Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage.
  2. Sistem penanggalan Sadwara (Peringkelan) seperti Tungleh, Aryang, Wurukung, Paniron, Uwas, dan Mawulu.
  3. Sistem penanggalan Saptawara (Pandinan) seperti Radite, Soma, Anggara, Budha, Respati, Sukra, dan Saniscara.
  4. Sistem penanggalan Astawara (Padawan) seperi Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala dan Uma.
  5. Sistem penanggalan Sangawara (Padongan) seperti Dangu, Jagur, Gigis, Kerangan, Nohan, Wogan, Tulus, Wurungan, dan Dadi.
  6. Sistem penanggalan Aji Saka (tahun Saka).

Perhitungan Waktu Di Era Islam

Masuknya Islam di Pulau Jawa membawa angin segar untuk menghimpun pelbagai keyakinan tentang waktu yang dipergunakan sebelumnya dengan waktu yang digunakan pada masa itu hingga ke depannya.

Penggunaan bahasa Arab pada penyebutan waktu pun diberlakukan namun diadaptasi dengan penyebutan populer yang kita kenal sekarang ini.

Di masa Islam, kalender Jawa mengadaptasi penanggalan Julian, Islam, dan Hindu. Penanggalan Julian masuk ke Nusantara semenjak masa kolonial. Penanggalan Hindu sudah hidup lebih dahulu semenjak era kerajaan di Nusantara sebelumnya. Sedangkan penanggalan Islam meski sudah didahului oleh keberadaan Kerajaan Pasai, Kerajaan Demak, dan Kesultanan Pajang, tetapi mulai dikembangkan dan dibakukan di era kepemimpinan Raja Mataram Islam ketiga yakni Sultan Agung (1613–1645).

Adaptasi ketiga penanggalan tersebut membuat kalender Jawa jauh lebih lengkap penghitungannya.

Kalender Sultan Agung menyematkan juga istilah saptawara dalam bahasa Arab (Akhad, Isnain, Tslasa, Arba’a, Khamis, Jum’at, Sabt). Nama tersebut mulai dipakai sejak pergantian Kalender Jawa – Asli yang disebut Saka menjadi kalender Jawa / Sultan Agung yang nama ilmiahnya Anno Javanico ( AJ ). Pergantian kalender itu mulai 1 sura tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042 = Kalender masehi 8 Juli 1633.

Anno Javanico dipakai untuk meneruskan angka tahun saka yang waktu itu berhenti sampai tahun 1554. Meski tahun saka tidak lagi dipakai di Jawa, tetapi masih berlanjut penggunaannya di Bali. Rangkaian kalender Saka yang dimaksud adalah penanggalan Nawawara (hitungan 9 atau pedewaan), Paringkelan (kelemahan makhluk), Wuku, dan lain-lain. AJ resmi menjadi petungan (perhitungan) Jawa yang dicatat dalam Primbon.

Perhitungan Waktu Era Kolonial

Pada saat kolonialis datang ke Indonesia, khususnya bangsa Belanda, diperkenalkan sistem penanggalan Masehi atau kalender matahari. Meski tidak resmi digunakan khususnya pada wilayah kekuasaan Islam, hal tersebut tidak dijadikan masalah oleh pemerintah kolonialis.

Kalender Masehi perhitungannya menggunakan perputaran bumi mengelilingi matahari (revolusi). Tahun Masehi juga disebut tahun Syamsiah atau tahun matahari. Sistem penanggalan ini menghitung satu hari didasarkan atas jumlah waktu yang diperlukan bumi untuk melakukan rotasi yakni 24 jam (1 hari = 24 jam).

Sedangkan Jumlah waktu yang diperlukan bumi untuk mengelilingi matahari adalah satu tahun, yakni berkisar 365.25 hari. Berdasarkan ketetapan pemerintahan Julius Caesar, akhirnya disepakati pembulatan 365 hari. Untuk sisa 0,25 hari yang tersisa, selama empat tahun sekali dimasukkan ke dalam bulan Februari yang rata-rata memiliki 28 hari hingga dalam kurun empat tahun sekali menjadi 29 hari (tahun kabisat yang ditetapkan empat tahun sekali).

Sistem penanggalan Masehi disebut juga kalender Julian (Julius Caesar) atau kalender Gregorian. Sistem ini diperkenalkan di Indonesia tahun 1582. Pengguna kalender ini sebelumnya ada di benua Eropa. Sedangkan sistem perhitungan kalendernya ditemukan oleh seorang astronom Romawi.  

Di tahun 1570-an, kalender Julian melenceng dari tanggal matahari sebanyak 10 hari karena sistem penanggalan ini tidak sinkron dengan musim dalam setahun. Maka dikhawatirkan akan membuat hari Paskah terus melenceng jauh dari tanggal seharusnya. Oleh Paus Gregorius XIII dibuatlah sistem penanggalan yang baru. Bersama ahli fisika Aloysius Lilius dan ahli astronomi Christopher Clavius. Paus Gregorius XIII mengembangkan kalender ini selama 5 tahun.

Dalam kalender Gregorian penambahan hari setiap empat tahun sekali dihapuskan. Sistem kabisat berlaku empat tahun sekali kecuali tahun yang tidak habis dibagi 400. Jadi tahun kabisat jatuh pada tahun 2000, tapi tidak pada tahun 1900, 1800, atau 1700. Paus Gregorius XIII juga memindahkan tahun baru yang semula 25 Maret menjadi 1 Januari.

Penanggalan Gregorian ini diterima baik oleh negara-negara penganut Kristen Katolik yakni Italia, Spanyol, dan Portugal. Sedangkan Amerika Serikat dan Inggris menyusul menggunakannya di tahun 1742.

Perhitungan waktu bagi masyarakat Jawa sendiri dulunya sarat dengan hal-hal bersifat mistis, seperti misalnya ketika akan melakukan suatu acara atau pekerjaan. Masyarakat Jawa percaya bahwa ada waktu isi dan waktu kosong. Waktu isi menggambarkan ketetapan waktu berdasarkan sifat waktu itu sendiri terhadap tindakan manusia.

Sumber: Kenali Jati Dirimu Melalui Hari Lahirmu

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

konsep waktu masyarakat jawa

KONSEP WAKTU MASYARAKAT JAWA

pranata mangsa dipergunakan untuk bertani

MENGENAL PRANATA MANGSA, KALENDER JAWA YANG SEMPAT POPULER DI MASA SILAM