https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

MENGENAL PRANATA MANGSA, KALENDER JAWA YANG SEMPAT POPULER DI MASA SILAM

Pranata mangsa berasal dari kata ‘pranata’ yang berarti aturan dan ‘mangsa’ yang berarti masa atau musim atau ketentuan musim, digunakan sebagai informasi tentang perubahan musim yang terjadi setiap tahun.

pranata mangsa dipergunakan untuk bertani

Di wilayah lain di Nusantara ada juga perhitungan serupa seperti suku Dayak di Kalimantan Barat mengenal sistem kalender dengan sebutan Papan Katika, Bali disebut Wariga, Suku Batak mengenal dengan Perhalaan.

Di masa itu, penanaman padi hanya berlangsung sekali setahun. Disamping padi, ditanam juga palawija atau padi gogo. Pranata mangsa selain sebagai petunjuk bagi petani untuk beraktifitas, juga digunakan sebagai petunjuk dari ancaman bencana alam, datangnya wabah penyakit, serangan hama pengganggu tanaman, banjir, dan masih banyak lagi.

Pranata mangsa di Nusantara berbasis peredaran matahari dan peredaran rasi Bintang Waluku (Orion), mengikuti perubahan irama alam dalam setahun. Diperkirakan, pengetahuan ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak periode Kerajaan Medang (Mataram Hindu) dari abad ke-9 sampai dengan periode Kesultanan Mataram pada abad ke-17 sebagai panduan dalam bidang pertanian, ekonomi, administrasi, dan pertahanan (kemiliteran).

Pranata mangsa dapat dianggap sebagai teknologi data masa silam yang ditularkan dari mulut ke mulut. Hingga kemudian ada seseorang membakukannya dalam bentuk tulisan dan menjadi panduan bagi masyarakat selanjutnya.

Pranata Mangsa punya zaman keemasannya, yang terbagi dalam beberapa periode.

  1. Periode pertama, sekitar tahun 1817 seperti yang diceritakan oleh Sir Stamford Raffles (1817), unsur-unsur pranata mangsa telah dimanfaatkan oleh petani untuk kegiatan pertaniannya.
  • Periode kedua, 22 Juni 1856, pranata mangsa ditetapkan oleh Sri Paduka Susuhunan Pakubuwono VII sebagai kalender resmi pertanian, hingga sekitar tahun 1900. Pranata mangsa menjadi pedoman andalan dalam kegiatan bertani. Walaupun dalam periode ini muncul banjir dan kekeringan, namun kejadiannya masih sesuai dengan yang tersebut dalam pranata mangsa.
  • Periode ketiga, sekitar tahun 1920, ketika mulai diketahui adanya anomali iklim, para petani menunggu hujan turun di musim hujan dengan sia-sia. Periode ini rupanya terus berlangsung hingga tahun 1960-an, saat Pulau Jawa melintasi titik keseimbangan antara persediaan dan kebutuhan minimum lahan pertanian. Pranata mangsa telah banyak meleset dari kenyataan, namun sebagian masyarakat masih memanfaatkannya. Bahkan pada tahun 1960-an konsep pranata mangsa merupakan mata pelajaran di sekolah, di daerah Surakarta dan Yogyakarta.
  • Periode keempat, sekitar tahun 1970 ketika hingga tahun 1990 ketika pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa meningkat pesat, sehingga pranata mangsa mulai terabaikan. Bahkan sekitar tahun 1997, pranata mangsa semakin tidak akurat karena terdapat penyimpangan terhadap perhitungan peredaran semu matahari. Hal ini terbukti dari hasil studi jajak pendapat yang dilakukan pada tahun 1999, dengan hasil bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang paham tentang pranata mangsa, namun sebagian besar tidak memanfaatkannya dalam kegiatan pertanian.
  • Periode kelima, sekitar tahun 2000 hingga terakhir tahun 2016 berdasar dialog dengan petani dan anggota masyarakat lainnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, ternyata pranata mangsa hanya dipahami saja dan tidak dimanfaatkan, bahkan sebagian tidak paham sama sekali tentang keberadaan pranata mangsa.  

Pranata mangsa adalah sistem penanggalan dengan menerjemahkan situasi dan kondisi alam, menggunakan hasil kepekaan indra petani karena mereka harus mengamati, merasakan, dan membaca alam. Indra petani harus lihai memahami segala macam perubahan yang terjadi di alam, seperti desir angin, kicau burung, maupun cahaya matahari yang dapat menjadi petunjuk petani.

masyarakat jawa yang agraris

Secara umum pranata mangsa terbagi menjadi empat musim (mangsa), yakni:

Rendheng :Musim hujan
Mareng:Pancaroba akhir musim hujan
Ketiga:Musim kemarau
Labuh:Musim pancaroba

Pranata mangsa merupakan siklus tahunan dalam pertanian. Dalam siklus ini terdapat 12 mangsa atau waktu yang terdiri dari simbol-simbol yang berbeda-beda. Adapun 12 mangsa ini antara lain:

NoMangsaMangsa UtamaPeriodeCiri-CiriTuntunan
1.Kasa (Kartika)Ketiga Terang22 Juni – 1 Agustus (44 Hari)Daun-dauan berguguran Kayu mengering Belalang masuk ke dalam tanahSaatnya membakar jerami Mulai menanam palawija
2.Karo (Pusa)Ketiga Paceklik2 – 24 Agustus (23 Hari)Tanah mengering dan retak-retakPohon randu dan mangga mulai berbunga 
3.Katelu (Manggasri)Ketiga Semplah23 Agustus – 18 September (24 Hari)Tanaman merambat menaiki lanjaran Rebung bambu bemunculanPalawija mulai panen  
4.Kapat (Sitra)Labuh Semplah19 September – 13 Oktober (25 Hari)Mata air mulai terisi  Kapuk randu mulai berbuah Burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur  Panen palawija Saatnya menggarap lahan untuk padi gogo  
5.Kalima (Manggakala)Labuh Semplah14 Oktober – 9 November (27 Hari)Mulai ada hujan besar Pohon asam jawa menumbuhkan daun muda Ulat mulai bermunculan Laron keluar dari liang Lempuyang dan temu kunci mulai bertunas. Mulai memperbaiki selokan sawah Mulai membuat tempat mengalir air di pinggir sawahMulai menyebar padi gogo
6.Kanem (Naya)Labuh Udan10 November – 22 Desember (43 Hari)Buah-buahan (durian, rambutan, manggis, dan lainnya) mulai muncul Belibis mulai terlihat di tempat berair  Para petani menyebar benih padi di pembenihan  
7.Kapitu (Palguna)Rendheng Udan23 Desember – 3 Februari (43 Hari)Banyak hujan Sungai banjir  Saatnya memindahkan bibit padi ke sawah 
8.KawoluRendheng Pangarep-Arep4 Februari – 28 / 29 Februari (26 / 27 Hari)Musim kucing kawin Padi menghijau Uret mulai bermunculan Padi berbunga  
9.Kasanga (Jita)Rendheng Pangarep-Arep1 – 25 Maret (25 Hari)Padi berbunga Jangkrik bermunculan Tonggeret dan gangsir mulai bersuara Sisa banjir masih bermunculan Bunga glagah berguguran  
10.Kasepuluh (Srawana)Mareng Pangarep-Arep26 Maret – 18 April (24 Hari)Padi mulai menguning Banyak hewan hamil Burung-burung kecil mulai menetas telurnya  
11.Desta (Padrawana)Mareng Panen19 April – 11 Mei (23 Hari)Burung-burung memberi makan anaknya Buah kapuk randu merekahSaatnya panen raya genjah (panen untuk tanaman berumur pendek)
12.Sada (Asuji)Mareng Terang12 Mei – 21 Juni (41 Hari)Suhu menurun dan terasa dingin (Bediding)Saatnya menanam palawija (kedelai, nila, kapas) Saatnya menggarap tegalan untuk menanam jagung. 

Sistem kalender ini memiliki sejumlah kelebihan. Pertama, di Pranata Mangsa terdapat materi mengenai perubahan iklim, musim, jenis tanaman/tumbuhan dan hewan asli Indonesia, ekosistem, adaptasi mahluk hidup, dan sistem perkalenderan yang didasarkan pada siklus edar matahari.

Secara kosmografi (pengukuran posisi benda langit), Pranata Mangsa dimulai penghitungannya di 22 Juni, yakni ketika posisi matahari berada di garis balik utara. Bagi petani yang berada di wilayah Merapi dan Lawu merasakan bayangan terpanjang empat pecak atau kaki ke arah selatan. Di saat yang sama, rasi bintang Waluku atau Orion terbit di waktu subuh atau menjelang fajar. Ini pertanda bagi petani untuk mulai membajak sawah. Dalam bahasa Indonesia, Waluku diartikan sebagai alat bajak.

Perkiraan pergantian musim (mangsa) selanjutnya, ditentukan dari perubahan panjang bayangan dari sinar matahari. Misalnya saja di mangsa pertama, panjang bayangan empat pecak / kaki. Di mangsa kedua, panjang bayangan menjadi tiga pecak / kaki. Hingga berakhir di mangsa keempat dengan panjang bayangan tepat berada di kaki.

Pengukuran tersebut didasarkan atas pergerakan garis edar matahari ke arah selatan hingga menghasilkan pemanjangan bayangan ke utara dan mencapai titik maksimum sepanjang dua pecak / kaki di saat posisi matahari berada di garis balik selatan. Momen ini jatuh pada 21 / 22 Desember dan mengakhiri mangsa kanem (ke-6).

Proses berlanjut dan berulang secara simetris di mangsa ke-7 hingga ke-12. Dimulai dari terbenamnya rasi Waluku di waktu subuh. Dengan kata lain, penghitungan hari dan mangsa sangat mengandalkan matahari sebagai penandanya. Sebuah jam matahari di Gresik buatan tahun 1776 menjelaskan pentingnya matahari sebagai alat bantu menghitung waktu pada masa itu.

Selain rasi bintang Waluku, digunakan juga rujukan rasi bintang lain seperti rasi bintang Lumbung (Gubuk Penceng), Banyakangrem (Scorpio), Wuluh (Pleiades), Wulanjarngirim (Alpha dan Beta Centauri), serta Bimasakti.

Di masa lalu, penggunaan sistem Pranata Mangsa memajukan pertanian Nusantara. Sebagai contoh adalah Sriwijaya dan Majapahit, mengalami kedaulatan atas swasembada pangan yang dilakukan berdasarkan Pranata Mangsa. Fakta tersebut dipaparkan pada kitab Arjunawiwaha dan prasati Kamalagi.

Pranata Mangsa punya mitologinya sendiri, bahkan mempengaruhi watak seseorang yang lahir pada mangsa-mangsa tersebut.

  • Mangsa Kasa / Kartika – Periode 22 Juni – 1 Agustus (44 Hari): Pancaran pengaruh gaib Batara Batari yang mempengaruhi alam semesta, diibaratkan “sotya murca ing embanan” yang artinya permata yang terlepas dari cincin pengikatnya. Mangsa Kasa dilambangkan sebagai musim kemarau yang daun-daunnya berguguran, pepohonan telah meranggas (luruh daunnya), dan tanah kehilangan airnya sehingga tanah kering karena air mulai mengecil. Mangsa Kasa berumur 44 hari dimulai pada 22 Juni sampai 1 Agustus. Anginnya bertiup dari arah Timur menuju ke arah Barat. Mangsa Kasa bersifat “udan roso mulya” yang artinya hujan yang terjadi tidak dapat memberikan kesegaran dan kesejukan. Binatang ikan di sungai menyembunyikan diri, sedangkan kerbau dan kuda mulai letih dan malas bekerja. Namun pada mangsa ini, petani mulai mengerjakan kebun tanah kering di sawah ladang dan memulai untuk menanamkan palawija seperti kacang, jagung, dan ubi. Orang yang dilahirkan dalam mangsa ini bila ingin mempergunakan rasionya dalam segala tindakannya, dia akan menjadi orang yang besar, dalam arti dapat tampil di masyarakat sebagai orang yang mempunyai pengaruh luar biasa. Penampilannya sangat menarik, banyak sahabatnya, pandai menyembunyikan perasaan, juga pandai berdiplomasi, tetapi sering bertindak tergesa-gesa, tidak sabar dalam melakukan suatu pekerjaan, menyukai hal-hal yang baru. Keinginannya sangat muluk penuh dengan khayalan, ibarat membangun istana di awan.
  • Mangsa Karo / Pusa – Periode 2 – 24 Agustus (23 Hari):  Mangsa Karo memiliki lama orbit 23 hari yaitu dimulai pada tanggal 3 Agustus sampai dengan 25 Agustus. Candra mangsanya adalah ”bantala rengka” artinya tanah retak atau berbongkah, dikarenakan air tanah telah habis diakibatkan oleh musim kemarau. Keadaan alam pada mangsa ini benar-benar terasa gersang, akan tetapi pohon mangga yang telah gundul akan bersemi kembali. Tanaman Palawija, banyak mendapatkan siraman tergantung pada pembagian air irigasi yang bergantung pada volume waduk yang menyimpan air pada musim hujan. Pada mangsa ini hawa menjadi panas, sehingga manusia mulai resah karena alam yang kering. Orang yang lahir di mangsa ini memiliki sifat Batara Sakri yang berwatak keras tetapi budinya luhur. Tutur katanya sopan, jalan pikirannya cemerlang dan cerdas serta cerdik.
  • Mangsa Katelu / Manggasri – Periode 23 Agustus – 18 September (24 Hari): Candra mangsanya adalah “suta manut ing bapa” artinya anak menurut kepada bapak. Maksudnya adalah semua nasehat orang tua diturut oleh anak-anaknya. Mangsa Katelu ditandai dengan berhembusnya angin dari arah Utara ke arah Selatan dengan kekuatan sedang. Hawanya akan terasa panas karena disebabkan oleh musim kemarau. Mangsa Katelu memiliki sifat “resmi” artinya pohon-pohon telah berdaun dan kelihatan berwarna hijau. Pada mangsa ini tanaman menjalar mulai tumbuh. Tanaman inilah yang diumpamakan sebagai anak dan lanjarannya diumpamakan sebagai bapak. Namun karena kondisi yang panas dan air yang minim, sumur-sumur mengering dan tanah tidak dapat ditanami. Meskipun begitu, tanaman palawija mulai dapat dipanen pada musim ini, sedangkan tanaman seperti bambu, temu dan kunyit mulai tumbuh. Mangsa ini digambarkan cerita mengenai Batara Kamajaya yang mempunyai sifat keras, disiplin, dan murah hati penuh kasih sayang. Senang bekerja. Orang yang lahir di mangsa ini punya sifat rezekinya tidak begitu banyak dan tidak dapat berhemat karena senang tolong menolong dan membantu kebutuhan orang lain, orang yang terlahir dalam mangsa ini pada umumnya mempunyai sifat-sifat yang baik, simpatik, jujur, dan kesucian. Baginya mengutamakan segala sesuatu dengan berterus terang itu lebih baik, dan sangat membenci kepada orang munafik. Dia sangat rajin bekerja, giat berjuang demi karir.
  • Mangsa Kapat / Sitra – Periode 19 September – 13 Oktober (25 Hari): Pada Mangsa ini, telah memasuki musim penghujan, tetapi keadaan mata air masih sulit didapatkan. Air masih belum tertumpah dan mengalir, maka Mangsa Kapat memiliki Candra “waspa kumembeng jroning kalbu” artinya air mata tergenang dalam batin. Mangsa Kapat merupakan masa peralihan musim kemarau ke penghujan disebut musim Labuh. Hal ini menyebabkan di siang hari terasa gersang dengan angin yang berhembus dari arah Barat Laut menuju Tenggara dengan kekuatan sedang. Petani masih belum dapat menanam padi, namun tanaman palawija seperti kacang, jagung, ubi) siap dipanen. Mangsa Kapat memiliki sifat “lumanding resmi” artinya pohon kapuk sedang berbuah. Tanaman tahunan berbunga seperti kepel dan asam, sedangkan tanaman durian dan nangka berbuah. Burung-burung pun mulai membuat sarang dan bertelur. Hewan berkaki empat mulai kawin, sedangkan ikan mulai muncul ke permukaan. Mereka yang dilahirkan pada mangsa ini akan terpengaruh oleh sifat Batara Wisnu. Sifatnya jujur, tidak senang dengan segala macam bentuk kejahatan, dan hal-hal yang mengakibatkan dunia ini rusak. Sifat lainnya adalah lemah lembut, serta ramah, tidak menginginkan suatu bentuk kekerasan dan sangat senang menginginkan bersahabat dengan siapa saja. Segala tingkah lakunya, perbuatannya, semuanya menimbulkan rasa kagum dan simpati.
  • Mangsa Kalima / Manggakala – Periode 14 Oktober – 9 November (27 Hari): Mangsa ini berpengaruh pada keadaan alam semesta, sehingga memiliki candra “pancuran emas sumawur ing jagat” artinya pancuran emas yang tersebar di bumi. Pada mangsa ini hawanya terasa sejuk, karena keadaan langit yang mendung. Seiring turun hujan, bahkan curah hujan sering pula sangat lebat. Namun terkadang curah hujan yang sangat tinggi bahkan dapat menyebabkan banjir. Keadaan angin berhembus dari arah Barat Laut menuju ke arah Tenggara dengan kekuatan kencang disertai hujan lebat. Hawa mulai dingin, pohon – pohon asam mulai bersemi. Dengan datangnya musim hujan, maka kaum tani mulai menggarap sawahnya. Dipengaruhi oleh Batara Asmara, orang yang dilahirkan pada mangsa ini cenderung pendiam, walaupun begitu, mereka dapat memberikan nasehat bagi orang-orang yang membutuhkannya. Dia juga pandai menyimpan rahasia, penampilannya penuh misteri, perkataannya penuh arti dan kepastian. Sesuatu yang luar biasa yang dimiliki orang dari kelahiran mangsa ini adalah ketabahan hati, dalam menghadapi kehidupan penuh dengan rasa percaya diri, jarang mengeluh, dan tidak pernah menyerah bila menghadapi kesulitan apapun bentuknya.
  • Mangsa Kanem / Naya – Periode 10 November – 22 Desember (43 Hari): Candra mangsanya “rasa mulya kasucian” artinya mendapatkan rasa bahagia karena perbuatan baik. Mangsa ini merupakan musim penghujan, bahkan disertai dengan bertiupnya angin dari Barat ke Timur dengan suara gemuruh yang menakutkan. Hujan dan petir menyambar. Hawa dingin dan hujan turun sewaktu-waktu. Pada saat itu, sedang musim buah-buahan mangga, durian, rambutan dan lainnya. Sawah tadah hujan telah cukup mendapat curahan hujan, bahkan jenis kepik air pun mulai berkembang biak. Kaum tani pun memulai menyebar benih padi di persemaian. Mangsa Kanem memiliki sifat “nikmating rasa mulyo” artinya pohon buah-buahan mulai masak dan petani senang dengan keadaan itu. Binatang seperti kecoa banyak ditemukan di parit. Dipengaruhi oleh Batara Guru, yakni dewa yang merajai para dewa. Orang yang lahir pada mangsa ini penampilannya sangat simpati dan optimis, di dalam pergaulan sangat disenangi oleh kawan-kawannya. Pandai bergaul dan dia sangat membenci kepalsuan. Kesepian adalah hal yang paling dibenci karena sifatnya adalah menyukai pergaulan, senang bersahabat dan berorganisasi. Karena orangnya tegas dan jujur maka sering dapat menduduki tempat yang teratas. Begitu pula pekerjaannya. Namun pada masa kanak-kanak sering mendapat ujian dan kegagalan. Setelah beranjak dewasa, barulah keberuntungan menghampirinya.
  • Periode Mangsa Kapitu / Palguna – 23 Desember – 3 Februari (43 Hari): Candra mangsanya adalah “wisa kentas ing maruta” artinya bisa disapu angin atau bersih dan bahagia. Pada mangsa ini, langit selalu mendung dan hujan turun sehari-hari dengan sangat lebat. Angin bertiup dari arah Barat dengan kekuatan tinggi. Banjir melanda daratan di balik gunung, lembah dan muara – muara sungai. Hujan yang seolah tidak mereda, mengakibatkan burung-burung mendapat kesulitan dalam mencari tempat yang teduh dan sulit mencari makan. Pada mangsa ini banyak yang terjangkit penyakit. Pada mangsa ini, pohon-pohon yang masih berbuah adalah durian, kepundung salak, nangka Belanda, dan kelengkeng. Walaupun alam sedang kurang baik, petani dapat mulai menyebar bibit di sawah. Besar sekali pengaruh sakti Batara Endra, dewa yang menguasai Surga. Hal itu tentu saja tidak senang dengan bentuk-bentuk kejahatan. Begitu juga orang kelahiran mangsa ini, mempunyai sifat baik dan bersih. Dapat juga tampil sebagai pemimpin yang penuh disiplin, tegas dan jujur. Maka orang ini selalu disegani oleh kawan-kawannya, baik dalam pergaulan di masyarakat, maupun di dalam pekerjaan dan organisasi.
  • Mangsa Kawolu – Periode 4 Februari – 28 / 29 Februari (26 / 27 Hari): Candra mangsa ini adalah “hajrah jroning kayun” artinya merana di dalam hati, menangis dalam batin. Meskipun begitu, tetapi suatu keberuntungan bahwa mendapat pancaran sakti Batara Brama, yang selalu hangat. Mangsa ini masih pada musim penghujan, hujan lebat sering mengguyur bumi. Angin dari arah Barat Daya menuju Timur Laut dengan kekuatan kencang. Hawa terasa dingin di malam hari, bahkan berembun. Keadaan pertanian, padi mulai menghijau. Kucing berisik mulai birahi, kunang – kunang kelap – kelip beterbangan di sawah. Dalam mangsa ini, petani telah panen jagung di ladang dan anak – anak bergembira membakar jagung sembari menghilangkan rasa dingin. Batara Brama adalah putera Batara Guru yang kedua dari Batara Uma. Batara Brama mempunyai tekad membasmi segala sifat keburukan yang ada di bumi ini. Sifatnya keras dan cepat marah, tetapi cepat pula reda setelah menyadari bahwa tidak pada tempatnya dia marah. Orang yang terlahir pada mangsa ini dipengaruhi besar oleh sifat Batara Brama. Berwibawa dan disenangi oleh masyarakat sekitarnya dia tinggal. Karena pandai bergaul, bahkan dia sanggup memecahkan masalah yang dialamai oleh masyarakat. Sifat yang lain adalah menolong tanpa pamrih dan ambisi pribadi, menegakkan keadilan, dan kebenaran.
  • Mangsa Kasanga / Jita – Periode 1 – 25 Maret (25 Hari): Candra mangsanya adalah “wedharing wacana mulya” artinya tersiarnya berita bahagia. Mangsa ini adalah musim hujan yang masih lebat dibarengi kilat dan petir. Hawa siang, malam, dan pagi hari terasa dingin, bahkan di daerah pegunungan sering berembun. Angin berhembus dari arah Selatan dengan kekuatan kencang. Dalam bidang pertanian, buah duku dan jeruk manis siap untuk dipetik. Pada mangsa ini, pohon durian dan sawo masih berbunga dan padi mulai berisi bahkan sudah ada yang menguning. Terlihat kucing-kucing pun mulai bunting. Dipengaruhi oleh sifat Batara Bayu. Bentuk tubuh Batara Bayu ini tidak kekar, tetapi bertubuh besar dan tegap. Raut mukanya menggambarkan keramahan tetapi seram berwibawa. Batara Bayu sangat membenci peperangan dan persengketaan besar di bumi ini. Bila berjalan selalu diikuti oleh hembusan angin kencang. Orang dengan kelahiran mangsa ini mempunyai keistimewaan dalam bentuk tubuhnya gemuk dan tidak begitu tinggi seperti umumnya orang dewasa.
  • Mangsa Kasadasa / Srawana – Periode 26 Maret – 18 April (24 Hari): Candra mangsanya adalah “gedhong minep jroning kayun” artinya tertutup pintu hatinya. Pada mangsa Kasadasa, sering terdengar desau angin yang kencang, karena merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sehingga disebut mangsa Mareng. Hawa pada mangsa ini masih sejuk, bahkan di daerah pegunungan masih terasa dingin. Angin kencang tersebut berhembus dari arah Tenggara, sampai dapat merontokkan daun-daun. Pada mangsa ini pemandangan terlihat indah bagaikan lautan emas lantaran padi yang menguning dan petani mulai panen. Ditambahkan, mangsa Kasadasa memiliki sifat mangsa “genteng mineb in lautan” artinya padi mulai tua, burung-burung berkicau, membuat sarang dan mengerami telurnya. Sedangkan sapi dan kerbau mulai bunting. Walaupun demikian, mangsa ini sedikit terasa suram karena tak lama kemudian musim kemarau datang. Karena itulah, pada mangsa ini orang mudah lesu dan pusing. Orang kelahiran pada mangsa ini dalam pengaruh Resi Bima yang mempunyai sifat teguh hati dan pemberani. Tidak mau mengalah, karena mempunyai jiwa militer, berarti disiplin dan tegas. Mau mengalah tetapi tidak mau dikalahkan. Dia hanya tunduk kepada orang yang dihormati dan disegani. Orang yang terlahir dengan mangsa ini mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, baik terhadap keluarga maupun terhadap lingkungannya.
  • Mangsa Desta / Padrawana – Periode 19 April – 11 Mei (23 Hari): Pada mangsa ini petani mulai menuai padi di sawah, masyarakat gembira dan berbahagia sekali, ditambah panen ubi-ubian. Burung pemakan biji-bijian seperti burung pipit pun sibuk memberi makan anak – anaknya. Semuanya yang terjadi merupakan gambaran bahwa pada musim itu banyak tercurah rasa kasih sayang. Batara Yamadipati adalah putera Hyang Ismaya dari Ibu Dewi Kanestren. Di dalam pewayangan, Batara Yamadipati adalah dewa pencabut nyawa. Sifatnya yang pantang mundur, bijaksana, dan tegas walaupun begitu, tindak tanduknya sudah diperhitungkan terlebih dahulu dan pasti. Begitu pula dengan orang yang terlahir di mangsa ini, kalem dan lemah lembut dalam mengerjakan semua pekerjaan. Tetapi semua pekerjaan yang dikerjakannya selalu dapat selesai pada waktunya, karena selalu mempunyai kiat tersendiri dalam mengerjakan segala sesuatu. Sistematis dan praktis sehingga dengan santai, dia dapat merampungkan semua pekerjaan yang diberikan kepadanya.
  • Mangsa Sadha / Asuji – Periode 12 Mei – 21 Juni (41 Hari): Candra mangsanya adalah “tirta sah saking sasana” artinya air hilang dari tempatnya. Pada mangsa ini masuk musim kemarau. Hawa pada siang hari akan terasa panas, tetapi waktu malam sangat dingin. Angin sepoi-sepoi berhembus dari Timur menuju Barat. Pada mangsa ini, buah-buahan seperti jeruk keprok dan nanas telah siap panen. Panen padi di sawah hampir habis. Kemudian jerami dibakar dan mulai untuk ditanami palawija. Sementara penampungan mata air telah berkurang karena sudah tidak ada air hujan lagi. Orang-orang mulai mengangsu (mencari) air karena sumurnya mulai dangkal. Para nelayan mulai mempersiapkan diri untuk menyelam ke dasar laut dangkal, untuk memasang tiang-tiang penyangga tempat orang menjala ikan di laut, karena pada saat itu gelombang laut sudah tidak begitu besar. Pada musim ini, ikan Nus atau cumi – cumi banyak ditemukan di tepi laut. Orang kelahiran pada mangsa ini terpengaruh oleh sifat Batara Sri dan Batara Sadana, yang tugasnya adalah membagi rejeki kepada umat. Maka orang kelahiran mangsa ini watak kembar. Pada umumnya mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Selain kecerdasannya juga mempunyai perasaan yang kuat pula sehingga langkahnya lebih berhati-hati.

 Watak manusia dan perilaku alam tersebut dirumuskan dan diterjemahkan dengan bahasa yang demikian manusiawi, sehingga alam seolah menjadi sebuah kehidupan yang tak ubahnya seperti kehidupan manusia. Selain menyematkan istilah khusus pada alam, masyarakat Jawa kuno tetap menghubungkan alam dengan para kekuasaan pemilik semesta.

Mangsa atau musim diibaratkan dikelola oleh Sang Pencipta / Sang Hyang / Dewa: Mangsa Kaso (Dewa Wisnu), Karo (Dewa Sambu), Katelu (Dewa Rudra), Kapat (Dewa Yama), Kalima (Dewa Metri), Kanem (Dewa Naya), Kapitu (Dewa Sanghyang), Kawolu (Dewa Durma), Kasanga (Dewa Wasana), Kasadasa (Dewa Basuki), Desta (Dewa Prajapati), dan Sadha (Dewa Gana).

Mangsa atau musim juga diibaratkan memiliki simbol berupa manusia, hewan, tanaman, atau benda: Kaso (Domba), Karo (Banteng), Katelu (tunas tumbuhan), Kapat (Kepiting),  Kalima (Singa), Kanem (Roro Kenya), Kapitu (neraca keseimbangan / timbangan), Kawolu (Kelabang), Kasanga (Burung Garuda), Kasadasa (Kambing), Desta (air tertumpah), dan Sadha (Ikan).

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

masyarakat jawa yang agraris

MENGHITUNG WAKTU DI MASYARAKAT JAWA

Pawukon penghitungan waktu tradisional masyarakat agraris

PAWUKON, PENGHITUNGAN WAKTU TRADISIONAL DI MASYARAKAT AGRARIS