https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

KONSEP WAKTU MASYARAKAT JAWA

Waktu dalam tradisi dan budaya Jawa mendapat tempat istimewa kedudukannya dalam kehidupan manusianya. Jejak penghargaan atas waktu bisa dilihat dalam primbon yang akrab dengan pembahasan waktu. Masyarakat Jawa sangat percaya, waktu adalah sesuatu yang berada di luar manusia tetapi sangat mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri.

konsep waktu masyarakat jawa

Pencarian waktu dalam masyarakat Jawa sudah dimulai dari zaman dahulu bahkan sebelum adanya budaya asing masuk memperkenalkan konsep waktunya.

Di masyarakat Jawa kuno yang mayoritas berprofesi sebagai petani, mempelajari waktu tujuannya adalah untuk bertahan hidup. Sistem pertanian yang masih mengandalkan alam, membutuhkan pengetahuan tentang waktu agar terhindar dari kegagalan, karena harus paham kapan waktu tanam, kapan waktu panen.

Dalam upaya memecahkan masalah waktu, masyarakat Jawa menggunakan ilmu titen dalam mengamati, mencermati, menghafal, serta melakukan serangkaian percobaan atas hasil pengamatan tersebut untuk diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari.

Tidak semua suku atau bangsa di dunia yang memiliki sistem penghitungan waktunya sendiri. Tetapi di Jawa adalah salah satunya yang berusaha memecahkan misteri penghitungan waktu dengan cara unik, tradisional, dan khas.

Konon sistem penghitungan waktu Jawa diciptakan oleh Empu Hubayun pada tahun 911 Sebelum Masehi. Pada tahun 50 SM Raja/ Prabu Sri Mahapunggung I  (juga dikenal sebagai Ki Ajar Padang I) melakukan perubahan terhadap huruf/ aksara, serta sastra Jawa.

Bila sistem penghitungan waktu Jawa dibuat berdasarkan ‘Sangkan Paraning Bawana‘ (=asal usul/ isi semesta), maka aksara Jawa dibuat berdasarkan “Sangkan Paraning Dumadi” (asal usul kehidupan), serta mengikuti peredaran matahari (solar system).

Waktu dalam pemahaman masyarakat Jawa diartikan sebagai sebuah ketentuan dari Sang Pencipta alam jagat ini. Bahkan meskipun waktu terpisah kekuasaannya dari manusia, tetap tiap manusia punya ketentuan waktunya sendiri-sendiri. Itu ditandai dengan kelahiran, masa hidup, hingga bertemu kematian. Tiap orang memiliki umurnya masing-masing.

Masyarakat Jawa kuno bahkan paham waktu tidak berjalan linear, atau cenderung berputar sesuai siklus yang hadir teratur dalam tiap periodenya. Hal inilah yang kemudian menghasilkan pengetahuan tentang mangsa atau musim. Maka muncullah sistem pranata mangsa untuk mengenal gelagat alam yang selalu berulang-ulang siklusnya.

Selain pranata mangsa, manusia Jawa juga niteni hubungan alam semesta, waktu, dengan kehidupannya. Saat itu mungkin belum dikenal istilah takdir, atau qada dan qadar, tetapi mereka berusaha memecahkan masalah tersebut untuk mengenal diri sendiri dan menelisik arah hidup selanjutnya. Maka muncul istilah angka urip atau angka hidup yang misterius asal-muasalnya untuk membaca diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Pemahaman tentang waktu menjadi peran kunci mengenal tempat hidup manusia di dunia. Setiap benda dan peristiwa di dunia ini bergantung pada ketertiban yang agung dan jauh dalam jangkauan pikiran.

Namun demikian, manusia Jawa menyadari, bumi yang dipijak selalu dibenderangi matahari hingga terbentuk siang. Dan diliputi kegelapan dengan sinar bulan yang temaram hingga terbentuk malam. Atau bahkan disiram hujan pada waktu-waktu tertentu. Hingga merasakan peluh bercucuran, tanah retak-retak, mata air menyusut akibat panas melanda saat kemarau tiba.

Masyarakat Jawa kuno yakin pergantian siang ke malam dan malam ke siang adalah pertanda perubahan waktu. Sistem pranata mangsa yang mereka hasilkan pada awalnya pun tidak menyebutkan hari, bulan, dan tahun, hanya melihat perubahan-perubahan yang terjadi lagi pada tiap masa lalu perubahan tersebut berulang kembali.

Setelah budaya asing masuk lalu diadaptasi masyarakat Jawa, wacana waktu pun terus berkembang. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari jejak sejarah berupa tulisan Palawa dan bahasa Sankrit (Sansekerta) di ukiran batu maupun daun lontar, yang kerap menyertakan waktu pembuatan.

Kita mengenal Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman, kepemimpinan para wangsa di era Medang Kamulan, para raja dan patih di era keemasan Majapahit, era Kesultanan di Demak, Pajang dan Mataram, dan masih banyak lagi.

Keberadaan kerajaan tersebut mengubah pranata sosial di Jawa yang semula hanya mengenal sistem pemerintahan adat kampung, menjadi sistem pemerintahan kerajaan. Penggambaran situasi tersebut membuktikan bahwa masyarakat Jawa tidak antipati terhadap perubahan, dan justru sanggup menyerap dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Sumber: Kenali Jati Dirimu Melalui Hari Lahirmu

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

batik cianjur

CIRI KHAS WARNA BATIK CIANJUR

masyarakat jawa yang agraris

MENGHITUNG WAKTU DI MASYARAKAT JAWA