Batik Semarang memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan kerajinan kain di Jawa, pertumbuhan masyarakat pesisir, serta perpaduan budaya yang membentuk karakter khas daerah tersebut. Keberadaan batik di Semarang tidak hanya mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan identitas budaya kota.
Dalam penelitian berjudul “Mengungkap Sejarah dan Motif Batik Semarangan” yang diterbitkan dalam jurnal Paramita pada Januari 2010, Dewi Yuliati dari Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa batik Semarang berkembang sejalan dengan kebutuhan masyarakat terhadap bahan sandang bermotif sesuai selera dan kreativitas perajin.
Jejak kegiatan membatik di Jawa telah tercatat dalam sumber sejarah sejak abad ke-10. Prasasti Gulung-gulung tahun 929 M, sebagaimana dibahas dalam penelitian tersebut, memuat keterangan mengenai aktivitas pengolahan kapas, pembuatan kain, penciptaan corak, dan pewarnaan menggunakan akar mengkudu.
Meski catatan tersebut tidak secara khusus membuktikan keberadaan batik di Semarang pada abad ke-10, sumber itu menunjukkan bahwa tradisi pengolahan kain dan penciptaan motif telah berkembang di Jawa sejak masa lampau.
Kampung Batik menjadi sentra kerajinan
Salah satu petunjuk penting mengenai sejarah batik Semarang adalah keberadaan Kampung Batik di sekitar kawasan Bubakan. Wilayah ini menjadi bagian dari lingkungan pusat pemerintahan Semarang kuno yang memiliki kampung-kampung berdasarkan pekerjaan penduduknya.
Selain Kampung Batik, terdapat Pedamaran yang berkaitan dengan perdagangan damar atau bahan pewarna, Sayangan sebagai tempat perajin barang dari logam atau tembaga, serta sejumlah kampung lain yang berkembang sesuai kegiatan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan penelusuran sejarah lisan yang dikutip Yuliati, Kampung Batik pernah menjadi sentra perajin hingga masa pendudukan Jepang pada 1942–1945. Aktivitas membatik juga dilakukan warga dari kampung-kampung lain, seperti Kulitan, Bugangan, dan Rejosari.
Ibu Tien Wahono, salah satu informan penelitian, menuturkan bahwa dahulu terdapat juragan batik bernama Ibu Darso yang memasarkan produknya ke Pasar Johar. Keterangan ini memperlihatkan adanya hubungan antara kegiatan produksi batik dan perdagangan di Semarang.
Perang menghambat kegiatan membatik
Perkembangan industri batik kemudian menghadapi hambatan akibat perang. Pada 1945, ketika Pertempuran Lima Hari di Semarang berlangsung, sejumlah kampung dibakar, termasuk Kampung Batik. Peristiwa tersebut mengakibatkan peralatan membatik terbakar dan kegiatan produksi di kampung itu terhenti.
Meski demikian, usaha batik tidak sepenuhnya hilang. Perusahaan Tan Kong Tien Batikkerij di Kampung Bugangan bertahan sejak awal abad ke-20 hingga sekitar 1970-an. Setelah itu, sejumlah usaha baru muncul, termasuk Sri Retno, Sanggar Batik Semarang 16, dan Batik Semarang Indah.
Yuliati menegaskan bahwa batik Semarang merupakan warisan budaya yang berpotensi menjadi identitas kota. Penelusuran sejarah, pengembangan usaha, promosi, dan perlindungan motif menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan batik Semarang di tengah perubahan zaman.

