Teknik pewarnaan batik berbasis bahan alam dikembangkan dengan memanfaatkan daun jati, jarak wulung dan marenggo sebagai sumber warna. Proses tersebut mencakup tahap mordanting, ekstraksi bahan pewarna, pencelupan dan fiksasi sebelum kain diolah lebih lanjut menjadi selendang.
Perancangan dilakukan Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti dari Program Studi Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Karya yang dirancang menggabungkan teknik batik dengan ecoprint pada kain katun sutera berukuran akhir 200 × 75 sentimeter.
Tahap awal pewarnaan adalah mordanting. Dalam uji coba umum, komposisi yang digunakan terdiri atas 6 gram tawas, 2 gram soda abu dan 1 liter air. Untuk satu potong kain berukuran 2,5 meter dengan berat sekitar 500 gram diperlukan enam liter air.
Tahap berikutnya adalah proses membatik. Motif dibuat menggunakan lilin atau malam sebagai perintang warna. Bagian kain yang telah diberi malam terlindungi dari pewarna sehingga dapat membentuk ragam hias sesuai rancangan.
Setelah itu dilakukan ekstraksi pewarna. Daun jati menggunakan 500 gram bahan untuk 5 liter air dan menghasilkan sekitar 2,5 liter ekstrak. Daun jarak wulung menggunakan 250 gram bahan untuk 2,5 liter air dan menghasilkan 1,5 liter ekstrak. Sementara daun marenggo menggunakan 500 gram bahan untuk 5 liter air dan menghasilkan 2,5 liter ekstrak.
Bahan tanaman dicampur dengan air lalu dipanaskan hingga 90 derajat Celsius sampai mendidih. Setelah mendidih, bahan direbus pada suhu 50 derajat Celsius selama satu jam. Bahan kemudian disaring dan hasil ekstraksi didiamkan selama enam jam sebelum digunakan.
Proses pencelupan dilakukan sekitar lima hingga sepuluh kali, bergantung pada warna yang diinginkan. Kain dicelup, direndam sesaat, ditiriskan dan diangin-anginkan. Tahapan tersebut kemudian diulang hingga warna yang diinginkan tercapai.
Tahap berikutnya adalah fiksasi, yang berfungsi mengunci warna. Materi perancangan menggunakan kapur dan jeruk nipis sebagai fiksator. Untuk fiksasi kapur digunakan larutan 50 gram per liter air. Kain yang sudah dicelup dan dikeringkan dimasukkan ke dalam larutan, didiamkan selama 5–7 menit, kemudian ditiriskan, dicuci dan dikeringkan di tempat teduh.
Fiksasi jeruk nipis dilakukan dengan menggunakan perasan jeruk nipis yang dicampurkan dengan air. Kain kemudian dimasukkan ke dalam larutan fiksator selama 5–7 menit, lalu ditiriskan, dicuci dan dikeringkan di tempat teduh.
Dalam penerapannya, daun marenggo dapat digunakan sebagai warna dasar. Kain selanjutnya diberi bayangan melalui ecoprint. Setelah proses pembatikan, pewarnaan daun jati dan jarak wulung serta fiksasi dilakukan secara bertahap sesuai rancangan.
Hasil perancangan menunjukkan warna kuning muda, ungu muda dan cokelat dari proses pencelupan. Sementara teknik ecoprint menghasilkan efek gradasi yang dapat menjadi alternatif warna pada motif.Sumber informasi: Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti, “Pemanfaatan Daun Jati, Daun Jarak Wulung dan Daun Marenggo sebagai Ide Penciptaan Warna dan Motif Selendang”, SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, Vol. 5 No. 1 (2022), hlm. 28–40, DOI 10.34001/jsuluh.v5i1.3247. (Unisnu E-Journal)

