https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Dari Mesin Jahit ke Warisan Batik Bandung: Perjalanan Hasan Batik Menjaga Batik Asli di Kota Kembang

Kisah Hasanudin membangun Hasan Batik Bandung dan perjuangan Sania Sari meneruskan warisan keluarga sambil menjaga eksistensi batik asli Indonesia.

Tidak semua warisan lahir dari kemewahan. Sebagian justru tumbuh dari keterbatasan, keberanian merantau, dan tekad untuk bertahan hidup.

Begitulah kisah Drs. Hasanudin M.Sn, pendiri Hasan Batik Bandung. Ketika datang ke Bandung sebagai mahasiswa, ia tidak membawa modal besar. Yang ia bawa hanyalah sebuah mesin jahit, keterampilan membatik dari tanah kelahirannya di Pekalongan, dan keyakinan bahwa kerja keras akan menemukan jalannya sendiri.

Puluhan tahun kemudian, usaha yang dirintis dari sebuah rumah sederhana berkembang menjadi salah satu rumah batik yang disegani di Jawa Barat. Kini tongkat estafet itu diteruskan putrinya, Sania Sari, yang membawa Hasan Batik memasuki era baru tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan sang ayah. Ia menuturkan kisah Hasan Batik Bandung.

Kisah Hasanudin membangun Hasan Batik Bandung dan perjuangan Sania Sari meneruskan warisan keluarga sambil menjaga eksistensi batik asli Indonesia.
Kisah Hasanudin membangun Hasan Batik Bandung dan perjuangan Sania Sari meneruskan warisan keluarga sambil menjaga eksistensi batik asli Indonesia.

Sebuah Mesin Jahit dan Sebuah Mimpi

Hasanudin datang ke Bandung untuk menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebagai mahasiswa perantau, kehidupan ekonominya jauh dari kata mapan. Keluarganya hanya mampu membekalinya sebuah mesin jahit.

Mesin itulah yang menjadi penyelamat hidupnya.

Di sela-sela kuliah, Hasan mengajar menggambar kepada anak-anak dosen dan warga sekitar kampus. Ia juga mulai memperkenalkan keterampilan membatik yang telah dipelajarinya sejak kecil di Pekalongan. Perlahan, pesanan berdatangan. Dari ruang belajar sederhana itulah cikal bakal Hasan Batik Bandung lahir.

Setelah menikah dengan perempuan dari keluarga pembatik Pekalongan, Hasan semakin mantap mengembangkan usahanya di Bandung. Pada masa itu, Bandung belum dikenal sebagai kota batik. Namun Hasan melihat peluang. Ia percaya bahwa batik bisa diterima siapa saja, selama kualitasnya dijaga.

Kisah Hasanudin membangun Hasan Batik Bandung dan perjuangan Sania Sari meneruskan warisan keluarga sambil menjaga eksistensi batik asli Indonesia.

Menembus Pasar Jepang

Salah satu keunikan perjalanan Hasan Batik adalah keberhasilannya menembus pasar Jepang.

Alih-alih membuka toko besar, Hasan mendatangi rumah-rumah warga Jepang yang tinggal di Bandung dan Jakarta. Ia menawarkan berbagai produk batik, mulai dari taplak meja, hiasan dinding, bed cover, hingga aksesori rumah.

Strategi sederhana itu berhasil membangun jaringan pelanggan yang loyal. Bahkan banyak di antara mereka belajar membatik langsung kepada Hasan. Ketika kembali ke Jepang, mereka tetap memesan produk Hasan Batik dan memperkenalkannya kepada kerabat mereka.

Namun badai krisis moneter 1998 mengubah segalanya. Banyak ekspatriat Jepang meninggalkan Indonesia. Pasar utama Hasan Batik ikut menghilang. Keluarga Hasan pun melakukan transformasi dengan mengembangkan busana batik dan memperluas pasar domestik.

Kisah Hasanudin membangun Hasan Batik Bandung dan perjuangan Sania Sari meneruskan warisan keluarga sambil menjaga eksistensi batik asli Indonesia.

“Aku Tercebur ke Dunia Batik”

Jika sang ayah membangun usaha dari nol, Sania Sari justru mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi pembatik.

Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat bekerja di perusahaan. Dunia korporasi dianggap sebagai masa depan yang ideal.

Namun semuanya berubah ketika kondisi kesehatan sang ayah menurun.

Dalam wawancaranya, Sania mengenang masa itu dengan jujur.

“Jadi justru awalnya aku cinta batik itu karena awalnya papa sakit, akhirnya aku harus jalanin usaha. Zaman dulu aku lulus kuliah itu penginnya kerja di BUMN atau perusahaan. Akhirnya aku sempat kerja sekitar enam bulan, tapi enggak kuat. Terus aku resign dan bantuin di Bandung.”

Keputusan tersebut ternyata mengubah jalan hidupnya.

Ia yang semula merasa “terpaksa” akhirnya menemukan kecintaan baru terhadap batik.

“Jujur aku, kecemplung di batik itu bukan yang aku tertarik banget. Tapi lama-lama sambil belajar, akhirnya cinta juga sama batik.”

Kisah Hasanudin membangun Hasan Batik Bandung dan perjuangan Sania Sari meneruskan warisan keluarga sambil menjaga eksistensi batik asli Indonesia.

Belajar dari Para Maestro

Semakin aktif mengelola Hasan Batik, semakin banyak pula perajin dari berbagai daerah yang ditemuinya.

Pengalaman itu membuat Sania memahami bahwa batik bukan sekadar produk fesyen.

Di balik selembar kain terdapat kesabaran yang luar biasa.

“Aku pikir batik aku udah bagus. Tapi pas lihat batik orang lain, super detail, sabar. Batik ngajarin kita sabar, enggak bisa cepet-cepet jadi.”

Kesadaran itulah yang kemudian membentuk idealismenya untuk menjaga batik asli.

Batik Harus Mengikuti Tren

Berbeda dengan generasi ayahnya, Sania menghadapi pasar yang berubah sangat cepat.

Baginya, batik tidak boleh berhenti sebagai pakaian resmi.

Batik harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu ia terus mengikuti perkembangan mode.

“Harus ngikutin trend fashion juga. Lagi musim rok ya bikin rok batik. Lagi musim outer ya bikin outer batik. Harus gitu supaya batik dipakai.”

Pendekatan tersebut berhasil memperluas pasar Hasan Batik.

Jika dahulu pelanggan didominasi warga Jepang, kini sebagian besar berasal dari kalangan korporasi, instansi pemerintah, sekolah, hingga komunitas yang membutuhkan seragam.

“Kalau sekarang segmen aku lebih ke corporate, seragam pernikahan, instansi, dinas. Alhamdulillah pembatik di Bandung juga enggak banyak, jadi peluangnya masih bagus.”

Kisah Hasanudin membangun Hasan Batik Bandung dan perjuangan Sania Sari meneruskan warisan keluarga sambil menjaga eksistensi batik asli Indonesia.

Menjaga Batik Asli

Di tengah maraknya kain printing yang sering dipasarkan sebagai batik, Sania memilih berada di garis depan pelestarian batik asli.

Sebagai pengurus APPBI Jawa Barat, ia aktif mengedukasi masyarakat agar memahami perbedaan batik tulis, batik cap, dan tekstil bermotif batik.

Menurutnya, persoalan terbesar saat ini bukan sekadar harga murah.

Melainkan kejujuran.

“Kalau bukan kita yang melestarikan dan memperkenalkan batik asli, siapa lagi? Sekarang banyak pameran yang tercampur printing, padahal disebut batik.”

Ia juga mengingatkan bahwa harga batik tulis tidak mungkin semurah kain printing karena proses pembuatannya sangat panjang.

Melanjutkan Warisan, Bukan Sekadar Bisnis

Bagi Sania, Hasan Batik bukan hanya perusahaan keluarga.

Di dalamnya terdapat jejak perjuangan seorang ayah yang membangun usaha dari sebuah mesin jahit.

Karena itu ia tetap mempertahankan motif-motif khas karya Hasan Wudin sebagai koleksi signature, sembari menghadirkan desain baru yang lebih sederhana dan sesuai selera generasi muda.

“Kalau signature itu masih karya Papah. Kalau yang aku bikin lebih simpel, lebih soft, supaya lebih mudah dipakai sehari-hari.”

Warisan Hasanudin hari ini tidak hanya hidup dalam nama Hasan Batik Bandung.

Ia hidup dalam setiap proses membatik yang tetap dikerjakan dengan sabar.

Ia hidup dalam setiap keputusan Sania yang memilih mempertahankan kualitas dibanding keuntungan sesaat.

Dan ia hidup dalam keyakinan bahwa batik Indonesia akan terus bertahan selama masih ada orang-orang yang menjaga keasliannya, menghormati prosesnya, dan mencintainya dengan sepenuh hati.

Bagi Sania, melanjutkan Hasan Batik bukan hanya soal meneruskan usaha keluarga.

Ia sedang merawat mimpi ayahnya—bahwa batik Indonesia akan selalu dihargai bukan karena sekadar motifnya, tetapi karena kisah, kerja keras, dan jiwa para pembatik yang menghidupkannya.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Ragam motif Batik Kediri, mulai dari Simpang Lima Gumul, Gunung Kelud, Nanas Podang hingga Padma Gurdha yang beidentitas lokal.

Motif Batik Kediri: Jejak Sejarah, Alam, dan Budaya yang Menjadi Identitas Daerah