https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Ibu Pertiwi Menangis dan Doa Ibu Pertiwi: Suara Nurani dari Batik Pekalongan

Makna motif batik Ibu Pertiwi Menangis dan Doa Ibu Pertiwi karya Sapuan Pekalongan, refleksi krisis alam dan harapan bangsa.

Di tangan Sapuan, batik tidak sekadar kain bermotif. Ia menjelma menjadi medium perenungan, bahkan seruan nurani. Dua karyanya—Ibu Pertiwi Menangis dan Doa Ibu Pertiwi—lahir dari kegelisahan seorang pembatik Pekalongan terhadap kondisi alam, sosial, dan kemanusiaan Indonesia yang kian rapuh.

Sapuan dikenal sebagai pembatik yang konsisten mengangkat tema reflektif dan humanistik. Berbeda dengan batik komersial yang mengejar repetisi pasar, karyanya hadir sebagai batik kontemporer bernarasi kuat, menjadikan kain sebagai ruang bercerita. Dalam dua motif ini, figur Ibu Pertiwi—simbol personifikasi tanah air—diletakkan sebagai pusat pesan.

Ibu Pertiwi Menangis: Ekspresi Luka Alam dan Manusia

Makna motif batik Ibu Pertiwi Menangis dan Doa Ibu Pertiwi karya Sapuan Pekalongan, refleksi krisis alam dan harapan bangsa.
Makna motif batik Ibu Pertiwi Menangis dan Doa Ibu Pertiwi karya Sapuan Pekalongan, refleksi krisis alam dan harapan bangsa.

Motif Ibu Pertiwi Menangis merepresentasikan kesedihan mendalam atas rusaknya harmoni antara manusia dan alam. Sapuan membuat motif ini tahun 2008. Visual utama biasanya berupa sosok perempuan dengan raut muram atau mata berlinang air mata, berpadu dengan unsur alam seperti pepohonan gundul, tanah retak, air keruh, atau fauna yang terancam.

Dalam tradisi simbolik batik Jawa, air mata bukan sekadar duka personal, melainkan tanda ketidakseimbangan kosmis. Sapuan memanfaatkan bahasa visual ini untuk menyuarakan kritik ekologis: eksploitasi sumber daya, kerusakan lingkungan, serta hilangnya kearifan lokal. Warna-warna yang dipilih cenderung gelap dan kontras—cokelat tanah, biru keabu-abuan, hingga hitam—menguatkan atmosfer pilu dan peringatan.

Motif ini bukan untuk dinikmati secara dekoratif semata, melainkan mengajak pemakai dan yang melihatnya merenung: sejauh mana manusia telah menyakiti “ibu” yang memberinya kehidupan.

Doa Ibu Pertiwi: Harapan dan Spirit Penyembuhan

Makna motif batik Ibu Pertiwi Menangis dan Doa Ibu Pertiwi karya Sapuan Pekalongan, refleksi krisis alam dan harapan bangsa.

Berpasangan dengan motif sebelumnya, Doa Ibu Pertiwi menghadirkan nuansa yang lebih kontemplatif dan penuh harapan. Jika pada motif “menangis” Ibu Pertiwi digambarkan terluka, maka pada motif “doa” ia hadir dalam sikap pasrah namun kuat—tangan terangkat, mata terpejam, atau dikelilingi simbol cahaya dan flora yang subur mulai tumbuh kembali.

Doa dalam konteks ini dimaknai sebagai harapan kolektif. Sapuan menempatkan spiritualitas sebagai jalan pemulihan: bahwa perubahan tidak hanya bersumber dari kebijakan atau teknologi, tetapi juga dari kesadaran batin manusia. Warna-warna yang digunakan lebih hangat dan hidup—hijau, biru, dan krem—melambangkan regenerasi dan keseimbangan baru.

Batik sebagai Media Kritik dan Kesadaran Sosial

Kedua motif ini menegaskan posisi batik sebagai medium komunikasi budaya yang relevan dengan isu zaman. Sapuan membuktikan bahwa batik tidak harus terjebak pada romantisme masa lalu, melainkan mampu berbicara tentang krisis kontemporer: lingkungan, moral, dan masa depan bangsa.

Sebagai karya dari Pekalongan—kota yang dikenal sebagai pusat batik pesisir—batik Sapuan juga merefleksikan karakter pesisir yang terbuka, ekspresif, dan adaptif. Ia menyerap realitas sosial di sekitarnya, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa visual yang jujur dan berani.

Melalui Ibu Pertiwi Menangis dan Doa Ibu Pertiwi, Sapuan mengajak kita tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga memahami pesan di baliknya. Bahwa selembar kain bisa menjadi pengingat: tanah air ini sedang terluka, namun masih berharap pada doa dan kesadaran anak-anaknya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

IWAPI Jakarta Timur dan Swiss-Belinn Cawang apresiasi perempuan inspiratif di Hari Ibu 2025 lewat penghargaan, talkshow, dan fashion show.

IWAPI Jakarta Timur Apresiasi Perempuan Inspiratif di Hari Ibu 2025

Suka duka perajin batik Bekasi menghadapi keterbatasan modal, pasar sempit, dan kebijakan yang belum berpihak, demi menjaga identitas lokal.

Denal, Pemilik Batik Canting Ayu Bekasi: Bertahan di Antara Modal Tipis dan Identitas Daerah