Tidak pernah ada rencana besar di awal. Tidak ada peta karier yang dipatok rapi. Semua berjalan organik, mengalir begitu saja. “Saya tidak pernah bilang ke diri sendiri, saya mau jadi ini, saya mau ke situ,” ujar Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia (YBI) Gita Pratama Kartasasmita. Batik datang bukan sebagai pilihan sadar, melainkan sebagai bagian dari hidup sehari-hari—hadir sejak kecil, tanpa disadari, lalu tumbuh menjadi kepedulian.

Me & Batik
Gita menceritakan perkenalan batik pertama kali diperkenalkan oleh sang ibu, Jultin Harlotina Kartasasmita. Bukan lewat ceramah, bukan lewat teori panjang tentang filosofi motif, melainkan lewat kebiasaan. Dari keseharian itulah ketertarikan muncul.
Ia masih ingat pertanyaan polos yang pernah dilontarkan kepada ibunya: apakah batik boleh diolah menjadi sesuatu yang lebih modern, tidak hanya sebagai kain? Jawabannya sederhana, “Boleh.” Dari satu kata itu, eksperimen dimulai.
Ia mulai membuat baju, mencoba desain yang waktu itu belum banyak dilakukan orang. Batik baginya bukan benda sakral yang harus diperlakukan berjarak. Batik adalah tekstil, kain yang bisa dipakai sehari-hari. Ketika ia Bersama teman-temannya masih menghabiskan malam di klub, ia datang dengan batik—tanpa rasa canggung. “Buat saya saat itu, itu hanya kain yang kebetulan bermotif batik.”
Ketertarikan awalnya juga sangat sederhana. Tidak ada hafalan makna motif, tidak ada beban pakem. Ia menikmati batik karena keindahannya: warna cokelat, warna gelap, atau warna lain, semuanya punya pesona. Baru kemudian, sang ibu perlahan menariknya lebih dalam. Ia diajak mengikuti tur Yayasan Batik Indonesia (YBI), mendengarkan cerita, melihat proses. Awalnya malas. Lama-lama, jatuh cinta.
Menariknya, ketertarikan itu tidak tumbuh dari pemahaman filosofis, melainkan dari pengalaman visual dan empatik. Ia sampai pada kesimpulan sederhana: tidak ada batik yang jelek. Mahal atau murah urusan lain. Keindahan selalu ada. Nilai-nilai batik tidak pernah ditanamkan lewat kata-kata panjang, tetapi lewat contoh. “Lihat prosesnya,” kata ibunya suatu kali. “Susah nggak bikinnya?”
Dari situ ia belajar menghargai proses: mencanting, menutup malam, mencelup, mengulang. Bukan hasil instan. Bukan kerja mesin. Soal makna simbolik motif, ia jujur mengaku pengetahuannya terbatas hingga hari ini. Ia memakai batik bukan karena hafal artinya, melainkan karena menghargai proses dan manusia di baliknya.

Batik Sebagai Jejak Kisah Manusiawi
Kesadaran lain datang belakangan, saat ia mulai memahami kualitas batik. Batik tulis, cap, dan printing ternyata tidak selalu bisa dibedakan dari harga. Dalam kurasi, dari seratus kain, bisa saja sepuluh di antaranya ternyata printing. Pengalaman itu membuka mata: edukasi batik masih sangat dibutuhkan, bahkan di kalangan yang merasa dekat dengan batik.
Di situlah ia melihat nilai kemanusiaan batik: ketidaksempurnaan, goresan tangan, kesalahan kecil yang justru menjadi bukti kerja manusia. Batik bukan sekadar produk, melainkan jejak manusia.
Keterlibatannya di Yayasan Batik Indonesia juga tidak terjadi seketika. Awalnya ia hanya memberi ide—soal desain panggung, konsep acara, cara menata ruang. Ia mendorong pameran agar tidak selalu kaku: lebih modern, lebih ramah visual, lebih berpengalaman. Konsep lorong, air, dan ruang pengalaman yang kini dikenal dalam sejumlah acara YBI lahir dari masa-masa awal itu.
Tahun 2021–2022, ia dipercaya menjadi wakil ketua. Tak lama kemudian, dinamika internal membuatnya diminta melanjutkan kepemimpinan hingga periode 2022–2027. Ia panik. Dari tidak pernah memimpin satu bidang, tiba-tiba harus memimpin yayasan. Tekanan datang bertubi-tubi.
Menghargai Proses dan Manusianya
Nilai kepemimpinannya kembali pada satu hal: menghargai proses dan manusia. Batik bukan hanya milik pemilik merek atau rumah batik. Ada pembatik, penggambar, pewarna—rantai kerja panjang yang sering tidak terlihat dan jarang dihargai. Salah satu momen yang menguatkan tekadnya adalah kesadaran bahwa ekosistem batik belum adil. Yang sering disorot adalah brand, bukan tangan-tangan yang bekerja.
Visinya ke depan jelas: YBI tidak hanya menjadi lembaga pelestarian, tetapi pusat rujukan batik—pusat informasi, literatur, edukasi, dan pengembangan. Tempat siapa pun bisa bertanya dan belajar: perajin, peneliti, desainer, hingga generasi muda.
Soal generasi muda, tantangannya bukan ketidakpedulian. Mereka tahu batik adalah warisan budaya. Tantangannya adalah bagaimana memakainya dalam keseharian. Di sinilah jembatan harus dibangun. Bukan dengan mengubah batiknya, melainkan mengubah pendekatan: lewat media digital, desain ruang, pengalaman, dan cara berkomunikasi yang relevan.
Pengalaman night shopping, musik, dan ruang yang ramah visual membuktikan satu hal: anak muda mau datang dan mau membeli. Masalahnya sering kali teknis dan mental. Ada toko yang enggan buka malam karena takut sepi, padahal justru anak muda datang malam hari. Informasi “tutup” yang menyebar bisa menggagalkan seluruh rencana—DJ sudah siap, komunitas sudah berkumpul, tapi batal karena rasa ragu.
“Kalau mau mengikuti zaman, kita juga harus mau sedikit mengalah,” katanya. Batik bisa laku dengan pendekatan modern. Buktinya ada. Di Yogyakarta, dalam satu malam penjualan bisa melonjak drastis. Tantangannya bukan pasar, tapi keberanian menjembatani dua dunia: yang mau berubah dan yang enggan.
Baginya, event hanyalah “software”—alat bantu, bukan tujuan. Posisi YBI memang rumit: menjaga nilai budaya sekaligus berhadapan dengan pasar. Perajin ingin dihargai prosesnya, sementara pasar sering hanya melihat harga. Ini pekerjaan rumah besar yang belum selesai.

Ancaman Regenerasi dan AI
Regenerasi pun demikian. Lambat, terancam, dan kompleks. Membatik dianggap lama, kotor, hasilnya tidak langsung. Banyak desa kini kehilangan pembatik muda. COVID mempercepat keruntuhan yang sudah rapuh sejak lama. Tapi regenerasi tidak harus berarti semua orang menjadi perajin. Regenerasi adalah cinta: mengenal, memahami, dan menghargai batik.
Teknologi dan AI tidak ia tolak mentah-mentah. Selama proses mencanting tetap melibatkan tangan manusia, batik masih batik. Mesin dan teknologi bisa menjadi solusi, bukan musuh—asal ruhnya tidak hilang.
Pasar batik, menurutnya, masih ada dan cukup kuat. Namun sensitif. Pendekatannya harus personal. Pembeli ingin dihargai, dijelaskan, dan diajak dekat. Warna klasik boleh dipertahankan, tapi sentuhan tren bisa menjadi jembatan. Setengah-setengah justru membuat batik kehilangan arah.
Di pasar global, tantangannya adalah nilai. Batik masih sering dipahami sebatas tekstil bermotif. Padahal membeli batik berarti ikut menjaga tradisi. Nilai inilah yang harus dikomunikasikan.
Soal ekonomi, batik belum sepenuhnya berkelanjutan. Banyak perajin hidup hari ini, tapi tidak bisa produksi besok karena modal habis. Pelestarian tanpa ekonomi yang sehat hanya akan menjadi romantisme.
Media, Negara, dan Masyarakat Harus Hadir
Negara, swasta, masyarakat, dan media harus berjalan bersama. Media khususnya memegang peran krusial. Narasi dangkal dan visual buruk bisa membuat batik kalah di panggungnya sendiri. Gita menyebut batik butuh cerita yang jujur, manusiawi, dan relevan.
Karena pada akhirnya, batik bukan hanya kain. Batik adalah proses manusia—dan masa depannya bergantung pada bagaimana manusia-manusia hari ini mau merawatnya bersama.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

