https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Pameran Batik Masterpiece Puspa Nuswantara – 8 Tahun APPBI di Pendopo Paku Alaman Yogyakarta, 22–23 November 2025

Pameran Batik Masterpiece Puspa Nuswantara menampilkan keagungan seni batik Indonesia dan 8 tahun perjalanan APPBI menjaga warisan budaya.

Indonesia adalah negeri yang dibangun dari perjumpaan keragaman: suku, bahasa, adat, dan kekayaan alam yang tak terbatas. Keanekaragaman itu tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus mengalir sebagai sumber kreativitas yang membentuk identitas bangsa. Semangat itulah yang dituangkan dalam Pameran Batik Masterpiece “Puspa Nuswantara: Diversity Batik in Harmony”, sebuah perayaan delapan tahun Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).

Pameran Batik Masterpiece Puspa Nuswantara menampilkan keagungan seni batik Indonesia dan 8 tahun perjalanan APPBI menjaga warisan budaya.
Pameran Batik Masterpiece Puspa Nuswantara menampilkan keagungan seni batik Indonesia dan 8 tahun perjalanan APPBI menjaga warisan budaya.

Diselenggarakan di Pendopo Paku Alaman Yogyakarta pada 22–23 November 2025, pameran ini bukan sekadar etalase karya, tetapi sebuah panggilan untuk kembali meneguhkan batik sebagai seni rupa Indonesia — bukan sekadar komoditas.

APPBI melihat kenyataan yang cukup mengusik: sebagian identitas seni batik kini tercerabut dari akar filosofisnya. Pembatik sering ditempatkan hanya sebagai perajin, bukan seniman, seolah jarik atau lembaran kain batik tidak memiliki derajat artistik setara lukisan atau patung. Pameran ini hadir untuk menjembatani jarak itu — mengangkat kembali martabat batik sebagai karya seni, sekaligus membangun kesadaran baru bagi pembatik bahwa karya mereka menyimpan nilai estetik dan spiritual yang mendalam.

Di Pendopo Paku Alaman, terdapat batik masterpiece dari para maestro batik Indonesia serta koleksi adiluhung sebagai representasi perjalanan batik Indonesia: dari filsafat kosmos hingga flora pesisiran, dari kisah cinta hingga makna kekuasaan, dari narasi lokal hingga kontemporer. Setiap kain adalah cerita yang menunggu dibaca.

GALIHPADA – Drs. Sapuan

Karya Sapuan membawa pengunjung memasuki ruang batin manusia. Ia menggambarkan pertemuan empat unsur materi—tanah, air, api, udara—dengan tiga cahaya rohani: bintang, matahari, bulan. Dari tujuh kombinasi inilah lahir formasi batin manusia dalam motif langit-bumi sap pitu. Karya ini menjadi refleksi bahwa batik bukan sekadar motif, tetapi sistem pengetahuan kosmologis Nusantara.

Serumpun Bunga Lily Sejuta Makna – Komarudin Kudiya

Karya Komarudin memadukan ketelitian batik tulis dengan nuansa lukisan realis. Dalam warna merah menyala, lily-lily merekah sebagai simbol kesucian dan keteguhan. Sapuan kuasnya menghasilkan suasana lembut, seolah bunga-bunga itu sedang berdoa. Batik ini menjadi persembahan visual tentang kasih, harapan, dan persatuan.

Manuk Kinasih – Ahmat Failasuf

Failasuf menampilkan hamparan burung emas yang terbang ringan di antara bunga-bunga biru. Setiap burung berdiri dalam posisi berbeda, menggambarkan perjalanan rasa: keteguhan, kelembutan, kebebasan. Karya ini berbicara tentang cinta yang dijaga — bahwa keindahan yang dirawat dengan tulus akan selalu memancarkan kemuliaannya sendiri.

Keindahan Deli Serdang – Waritri Mumpuni

Waritri, yang kini tinggal di Sumatra Utara, membawa motif Melayu Deli ke panggung nasional. Tepak Sirih, Bunga Raya, Pucuk Rebung, dan Daun Tembakau dirangkai dalam pola diagonal modern tanpa kehilangan akar tradisi. Karyanya menjadi bukti bahwa batik tidak hanya hidup di Jawa, tetapi tumbuh kuat dalam khazanah budaya Melayu.

Mozaic in Blue & Depth of Soil – Sania Hasan

Melalui karya warisan keluarganya, Sania menampilkan jejak besar almarhum Hasanudin, salah satu pelopor batik kontemporer Bandung. Eksplorasi titik, garis, dan ruang optik yang ia hadirkan menggeser persepsi bahwa batik hanya motif dekoratif. Karyanya adalah laboratorium visual, memperlihatkan bahwa batik dapat menjadi medium seni modern tanpa meninggalkan nilai tradisi.

Latohan Tiga Negri – Santoso Hartono

Santoso menghadirkan latohan, tumbuhan laut khas Lasem, sebagai simbol daya juang dan ketabahan. Dipadukan dengan tradisi Batik Tiga Negri—merah Lasem, biru/hijau Pekalongan, sogan Solo—karya ini memotret perjalanan panjang keluarganya sebagai pembatik Tionghoa generasi ketiga. Sebuah narasi bahwa batik adalah perjumpaan budaya yang saling memperkaya.

Wahyu Tumurun – Eko Suprihono

Motif pedalaman yang klasik hadir megah dalam karya ini: mahkota sebagai simbol anugerah, pohon kehidupan, dan burung sebagai pembawa doa. Karya Eko membawa suasana sakral khas tradisi Mataram, digunakan dalam upacara panggih hingga manekung. Batik ini adalah doa yang dijahit dengan kesabaran.

Merak Kasmaran – Putu Sulistiani

Merak jantan dan betina digambarkan dalam hubungan cinta yang saling memperkuat. Makna kebijaksanaan, keindahan, dan keteguhan hadir dalam komposisi yang elegan. Karya Putu mengingatkan bahwa cinta — seperti seni — membutuhkan kesetiaan untuk terus hidup.

Gentongan Carcenah – Siti Maimona

Dengan teknik pewarnaan Gentongan yang nyaris punah, Maimona menampilkan motif Pacar Cina dalam detail isen-isen halus. Batik pesisiran ini menjadi saksi keuletan perajin Madura menjaga teknik tradisional di tengah gempuran warna sintetis. Melalui sembilan karya ini, Pameran Batik Masterpiece membuktikan bahwa batik adalah bahasa visual bangsa yang selalu berkembang. APPBI tidak hanya merayakan usia delapan tahun, tetapi juga meneguhkan misi: menjaga batik sebagai karya seni yang hidup, dinamis, dan bermartabat. Di Pendopo Paku Alaman, batik tidak hanya dipamerkan—tetapi dihidupkan kembali sebagai identitas Nusantara.

Pencerahan Sidharta Gautama – Afif Syakur

“Pencerahan Sidharta Gautama” karya Afif Syakur menghadirkan perjalanan spiritual Sang Buddha melalui ragam mudra yang sarat makna. Setiap mudra—dari Abhaya hingga Bhumisparsha—menandai tahapan penting dalam pencarian pencerahan. Elemen stupa, relief candi, dan lotus memperkaya suasana kontemplatif, ditopang latar batu candi dan motif poleng alit yang diolah halus. Lewat komposisi ini, Afif mengajak kita merenungi jalan tengah: kebijaksanaan, moralitas, dan pelepasan keterikatan demi mencapai kedamaian batin dan nirwana.

Sekarjagat Kembang Kopi dan Kembang Kopi Latar Pitu – Nita Kenzo

Berpijak pada warisan desain Kembang Kopi yang lahir pada 2004, Nita Kenzo bersama para pembatik menghadirkan Sekarjagat Kembang Kopi dan Kembang Kopi Latar Pitu sebagai karya indigo alami penuh keteduhan. Untaian daun, bunga, dan buah kopi dipadukan dengan motif Sekar Jagad, Kopi Pecah, serta ragam Nitik Yogyakarta, melahirkan harmoni tradisi dan inovasi. Melalui proses celup hingga 20 kali, kedua karya ini menjadi simbol kejayaan kopi Nusantara dan telah memperoleh pengakuan bergengsi dunia.

Liris Seno Babarmas – Agus Purwanto Sukrowinarso

Liris Seno Babarmas – Agus Purwanto Sukrowinarso Liris Seno Babarmas karya Agus Purwanto Sukrowinarso menghadirkan reinterpretasi motif klasik Parang yang di Cirebon disebut Liris. Terinspirasi makna seno sebagai pucuk kehidupan, motif ini menggambarkan gerak dinamis yang tetap tertata. Teknik merawit dengan garis 0,1–0,3 mm menuntut kesabaran tinggi, memancarkan kehalusan rasa dan wibawa batin. Melalui Batik Tiga Putri, Agus menghadirkan nuansa Sogan Babarmas khas Cirebon, menyatukan tradisi, spiritualitas, dan keanggunan warna emas.

Gardenia – Wirasno

Gardenia karya Wirasno menghadirkan keindahan bunga kaca piring yang sering muncul dalam tradisi batik pesisir. Melalui Rumah Batik Wira, taburan gardenia divisualkan dalam berbagai warna: kuncup biru yang lembut, kelopak merah menyala saat mekar, serta bunga kecil merah-oranye pada bagian pinggir kain. Motif ini memancarkan simbol keceriaan, kemurnian, kebersamaan, dan keberanian. Dengan komposisi harmonis dan aroma makna yang kuat, karya ini menyiratkan cinta dan harapan yang abadi sepanjang kehidupan.

Ornamen Kaligrafi – Yuli Astuti

Ornamen Kaligrafi karya Yuli Astuti menegaskan upayanya membangkitkan kembali kejayaan batik Kudus melalui riset, pelatihan, dan produksi. Terinspirasi dari identitas Kudus sebagai kota santri dan nilai Gusjigang, karyanya memadukan kaligrafi dengan pola geometris, isen-isen halus, serta riningan. Relief kaligrafi Masjid–Menara Kudus menjadi ruh visualnya. Dengan pewarnaan khas Sogan Kudusan yang berlapis setelah wedel-cemeng, karya ini memancarkan harmoni spiritual, kebijaksanaan, dan akulturasi budaya yang menjadi jati diri masyarakat Kudus.

Mozaic in Blue dan Depth of Soil – Sania Hasan

Merefleksikan jejak panjang Hasan Batik Bandung yang diwarisinya dari sang ayah, maestro batik kontemporer Hasanudin. Sania mempertahankan identitas visual keluarga melalui eksplorasi titik, garis, dan komposisi yang membentuk kedalaman optik khas Batik Bandung. Dua karyanya ini menghadirkan nuansa modern tanpa meninggalkan akar tradisi. Dengan palet biru dan warna tanah, Sania menegaskan keberlanjutan estetik warisan Hasanudin sekaligus memperluas fungsi batik sebagai karya seni dan elemen home décor.

Melalui karya ini, Pameran Batik Masterpiece membuktikan bahwa batik adalah bahasa visual bangsa yang selalu berkembang. APPBI tidak hanya merayakan usia delapan tahun, tetapi juga meneguhkan misi: menjaga batik sebagai karya seni yang hidup, dinamis, dan bermartabat. Di Pendopo Paku Alaman, batik tidak hanya dipamerkan—tetapi dihidupkan kembali sebagai identitas Nusantara.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kisah Waritri Mumpuni mengolah tradisi Melayu Deli Serdang dalam batik “Keindahan Deli Serdang”, simbol identitas dan kejayaan budaya.

Keindahan Deli Serdang: Ketika Batik Menjadi Jejak Cinta pada Budaya Melayu

Kurasi Abdul Syukur tentang batik Lasem “Latohan Tiga Negri” karya Santoso Hartono, memadukan tradisi Lasem dan filosofi latohan.

Batik Lasem Masterpiece Latohan Tiga Negri – Santoso Hartono