Ditulis oleh Abdul Syukur
Dalam perjalanan panjang seni batik Lasem, nama Santoso Hartono hadir sebagai jejak penting dari generasi pembatik Tionghoa yang menjaga napas tradisi sekaligus menafsirkan ulang nilai-nilai lokal. Karyanya berjudul “Latohan Tiga Negri” bukan sekadar kain batik, melainkan kisah kecil tentang laut, budaya, dan keteguhan hidup yang dibingkai dalam warna dan garis.

Motif latohan yang menjadi inti karya ini berasal dari tumbuhan laut Caulerpa racemosa—di pesisir Jawa lebih dikenal sebagai latoh atau latohan. Bentuknya menyerupai untaian anggur kecil, renyah ketika disantap, asin alami, dan menjadi makanan khas masyarakat nelayan di Lasem. Dalam kehidupan sehari-hari, latohan bukan sekadar pangan; ia juga menjadi bahan kecantikan, obat, hingga komoditas budi daya. Kehadirannya begitu dekat dengan masyarakat, menjadikannya representasi ekologis sekaligus kultural dari kawasan pesisir.
Dalam budaya Lasem, motif ini memikul makna yang dalam. Ketahanan latohan di bawah arus laut menjadi cermin ketabahan, daya juang, dan harapan. Warga Lasem—yang sejak lama dihuni masyarakat Tionghoa dan Jawa—menjadikan latohan sebagai simbol akulturasi, sebuah tanda bahwa identitas dibangun dari perjumpaan panjang antara manusia dan alam. Santoso Hartono, cucu dari generasi pertama pembatik Tionghoa di wilayah ini, memahami benar jejak simbolis tersebut. Karena itu ia mengangkat latohan sebagai motif utama dalam interpretasi Batik Tiga Negri versinya.
Batik Tiga Negri adalah salah satu puncak pencapaian batik pesisir. Secara tradisi, ia diselesaikan di tiga wilayah: merah di Lasem, biru atau hijau di Pekalongan, dan sogan di Solo. Warna merah Lasem—abang getih pitik, merah darah ayam—menjadi kekuatan paling ikonik dari tradisi ini. Namun seiring waktu, proses yang dahulu tersebar kini dapat dilakukan dalam satu rumah produksi, sekaligus memberi ruang bagi inovasi. Santoso Hartono memanfaatkan perkembangan ini untuk menghidupkan kembali Batik Tiga Negri dengan karakter Lasem yang lebih personal.
Dalam karyanya, Santoso tidak terpaku pada pola buketan klasik. Ia memasukkan motif latohan sebagai visual utama—pilihan yang jarang dilakukan—seraya mempertahankan prinsip dasar Tiga Negri. Latar sogan, isen-isen yang bervariasi seperti galaran atau pasir, serta sentuhan warna merah khas Lasem membentuk harmoni antara tradisi dan keberanian berkisah ulang. Latohan mengalir di atas kain seperti untaian hidup, menjadi metafora perjalanan keluarga Hartono dalam merawat tradisi batik lintas generasi.
Sebagai pemilik brand Pusaka Beruang, Santoso Hartono sadar bahwa batik bukan hanya produk seni, tetapi warisan yang harus dialirkan. “Latohan Tiga Negri” adalah cermin itu—paduan pengetahuan leluhur, sejarah Lasem, dan pergulatan batin seorang pembatik untuk menjaga kesinambungan. Kini, estafet itu mulai berpindah kepada generasi keempat, putranya, yang kelak akan menulis bab baru dalam perjalanan batik Lasem. Karya ini pada akhirnya bukan hanya menandai keindahan visual, tetapi juga kesaksian tentang manusia yang bergulat dengan zaman, namun tetap memegang nilai tradisi sebagai jangkar. Melalui “Latohan Tiga Negri”, Santoso Hartono mengajak kita menelusuri Lasem bukan sebagai kota kecil pesisir, melainkan sebagai ruang ingatan, pusaka budaya, dan rumah bagi semangat hidup yang tak pernah padam.

